Alasan Menulis di Blog

Sebenarnya ya tidak ada alasan. Hidup ya hidup tidak ada alasan, tetapi berhubung ada yang bertanya alasan yang mendasari mengapa saya menulis di blog lagi maka jabawan saya cari-cari. Jawaban ini belum tentu benar.

Kemungkinan pertama karena saya sekarang banyak nganggur tidak punya kerjaan. Alasan yang lain yang lebih serius juga bisa saya buatkan.

“Kang, kok sekarang tidak nulis di koran lagi, cerpen atau opini?” Seorang teman bertanya.

“Yang pentingkan masih nulis.”

“Ya tetapi tidak keren, blogkan gamoang, tidak ada persaingan, tidak ada seleksi, tidak ada kompetisi. Nantinya jika sering-sering menulis di blog maka tidak berusaha membuat tulisan terbaik.”

“Saya bisa menyeleksi tulisan saya sendiri, saya punya standar untuk tulisan yang akan saya keluarkan untuk blogku. Jadi kualitas tulisan yang saya kirim untuk koran dengan kualitas yang saya unggah di blog saya persiapkan dengan kesiapan yang sama.”

“Tetap keren dimuat di koran Kang, dibaca lebih banyak orang, ada fotonya lagi di sana. Satu lagi yang penting, di blog tidak ada uangnya, sedangkan di koran dapat honor.”

“Itulah masalahnya, sekarang ini saya sedang tidak butuh keren. Saya sudah dalam puncak kekerenan. Kalau uang saya masih butuh sih.”

“Nah tuh masih butuh uang kok nulis di blog muluk.”

Itu sepenggal obrolan dengan teman prihal kegiatan saya akhir-akhir ini yang suka ngeblog. Sebagian obrolan itu saya tulis di status facebook. Di sana saya tulis alasan saya tidak menulis opini dan cerpen lagi di koran karena bosan. Ada komentar yang cukup membuatku terpingkal. Dia menulis dengan huruf kapital semua dengan Bahasa yang samar-samar maksudnya. Maksudnya dia mengatakan sesuatu tidak gamblang, mungkin sastrawan gagal.

Saya yang pernah belajar menganalisis sastra mencoba menerka maksudnya. Komentarnya atas status saya yang tidak ngoran lagi begini: TERPASUNG KEADAAN…BEGITU TERJADINYA REAKSI…SEHINGGA MEMILIH TEMPAT YANG LEBIH BISA MEMBAGI JAWABAN ATAS KESELAMATAN PRIBADINYA, DARIPADA TANGAN MASIH MENGACUNGKAN BARET MERAHNYA.

Hanya Tuhan dan si penulis yang paham maksud tulisan ini. Saya hanya mencoba menafsir dengan kemungkinan benarnya sama dengan kemungkinan salahnya. Ia mengira saya tidak menulis di koran karena terpasung keadaan, keadaan saya saat ini mengurus anak, mengajar, membimbing skripsi, sinau bareng. Memaang keadaan itu menyita tenaga dan pikiran, tetapi untuk menulis saya masih punya waktu. Saya tidak paham dengan kata “terjadinya reaksi”. Kalimat berikutnya sepertinya masalah ideologi saya yang mulai luntur. Keadaan yang menghimpit saya tadi membuat saya mencari tempat yang lebih aman dari pada mengacungkan baret merah (idiologi).

Itu kemungkinan tafsir. Jika memang demikian maksudnya maka saya merasa perlu menjelaskan bahwa dari dulu saya tidak pernah merasa berjuang. Jikapun pernah berjuang saya hanya berjuang menjadi orang baik, saya memeluk Islam, mengimani Allah dan Muhammad, tuntunan saya. Saya berusaha meneladani beliau, sebisa saya. Jika mengimani Allah dan Rasulullah itu dianggap ‘baret merah’ itu masih saya pegang sampai sekarang hingga nanti saya bertemu maut. Masalah ideologi yang dibahasakan menggunakan ‘baret merah’ tidak hanya bisa disuarakan di koran, di blog bahkan didinding jalanan juga bisa.

Tidak kali ini saya dianggap berubah, dari yang dulu konon idealis sekarang embuh. Kepada mereka saya ingin mengatakan, jika kamu ingin berjuang berjuanglah, menegakkan kebaikan dengan demo-demo, dengan status di mendsos yang berani-berani, monggo. Tidak usah menyesali jika orang lain memilih cara atau jalan yang berbeda.

Suatu ketika seorang teman bertanya, “Mas, masih menjadi aktifis?” Saya justru kaget, saya tidak pernah merasa jadi aktifis. Yang saya lakukan ketika menjadi mahasiswa ya menurut saya selayaknya menjadi mahasiswa.

Iwan Fals oleh banyak orang juga pernah diprotes karena tidak sekritis dulu. Yo wisben itu haknya Iwan Fals, jika kamu pingin kritis ya monggo.

Ok alasan saya menulis di blog yang lebih ilmiah adalah, sekarang banyak orang dari usia dini hingga dewasa pegang Hp yang terhubung dengan internet, menulis di sana menurut saya akan mudah diakses. Ngono. Saya Muhajir Arrosyid, salam ngawur.

0Shares
Muhajir Arrosyid

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas