KETIKA SEPI, TUHAN DATANG

Pernahkah kamu kesepian? Di hadapanmu hanya kursi kosong, segelas teh tanpa gelas yang lain? Sebenarnya kamu ingin sekali bicara tetapi tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Setiap orang mengalami kesepiannya sendiri-sendiri. Mungkin saja kamu di tengah keramian, tetapi keramian itu mencampakkanmu. Keramian itu tidak memelukmu. Kamu butuh telinga tetapi tidak ada telinga yang bersedia mendengar.

Sepi adalah keadaan sendiri. Di kamar kos dan seluruh penghuni pulang hanya menyisakan kamu. Mungkin kamu seorang gadis yang biasanya di antar pacar untuk sekedar makan malam, tapi kamu baru saja putus. Atau kamu seorang suami yang ditinggal bebergian oleh istri dan anak.

Aku bertanya kepada kepada seseorang, “Apa yang harus dilakukan untuk membunuh sepi?”

Ia menjawab, “Sepi adalah mahluk Tuhan yang dihadirkan kepadamu untuk menjemputmu menghadap kepadaNya. Dalam kesepian, tidak ada lagi yang diajak bicara, seseorang cenderung bercakap dengan dirinya sendiri. Disanalah biasanya Tuhan hadir menyapamu.”

Ada benarnya juga, maka Nabi berklawat, leluhur kita bertapa, menyendiri, berzikir, bibirnya berkomat kamit melafalkan asma Allah. Mereka mengondisikan sepi. Maka jika kita dikondiskan dalam keadaan sepi, jangan-jangan Tuhan sedang ingin bercakap-cakap dengan kita.

Ada syaratnya? Syaratnya kita tidak boleh lari dari sepi itu. Lari itu misalnya menyalkan TV, atau main HP, tidak ketemu Tuhan malah ketemu kamu di instagram. Hem. (Muhajir Arrosyid).

0Shares
Muhajir Arrosyid

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas