Perasaan Zaman Edan

Zaman Edan, kata-kata ini adalah bagian dari kalimat-kalimat seorang Pujangga Keraton Mangkunegara terakhir Ranggawarsita (1802-1973). Ia tulis pada hari-hari tuanya. Kalimat-kalimat itu menggambarkan keadaan yang sedang tidak menentu, terjadi perubahan sistem ekonomi, budaya besar-besaran karena masuknya pengaruh Belanda. Pada saat itu Rel-rel kereta api baru saja ditata, tanah-tanah kerajaan disewakan untuk perkebunan, dan masyarakat desa sedang berubah karena adanya sistem uang. Ranggawarsita, sebagai seorang pujangga yang seharusnya mengukuhkan sistem Raja–Pandita—yakni hubungan hierarkis antara raja dan rakyat—justru melihat bahwa perubahan-perubahan itu mulai menyerang berbagai kebijakan kekuasaan. Meskipun ada yang menuduh bahwa tindakan yang dilakukannya itu atas kekecewaannya terhadap kerajaan karena ia tidak mendapatkan hak-haknya yang sah sebagai seorang pujangga.
Kita dapat merefleksikan sikap Ranggawarsita itu terhadap kondisi hari ini. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar bahwa ‘kesenimanan’ adalah sikap. Sebuah pilihan dimana ia berada dalam sebuah kondisi sosial. Ia mendengar dari hati nuraninya yang paling dalam dan menyuarakan hati nuraninya itu. Ia tidak peduli bahwa pendapatnya itu disetujui oleh khalayak umum atau sebagai minoritas. Jika pendapatnya sesuai dengan pendapat umum maka hal ini aman-aman saja, tetapi jika ia bersebrangan maka ia dapat dihujat. Inilah yang membedakan seniman dengan politikus.
Sebentar. Ada juga seniman yang bersebrangan dengan pendapat umum tetapi tujuannya ingin ‘ditoleh’, ia bersetrategi demi popularitas, mencuri panggung. Ia memanfaatkan kehebohan karena kelakuannya ‘ngencingi Ka’bah’. Seniman semacam ini bukan mendasarkan pada hati nurani tetapi mendasarkan diri pada popularitas diri.
Menyampaikan yang benar itu benar meskipun tidak populer itu sungguh tidak mudah. Ia harus menanggung akibat dihujat oleh banyak orang. Apalagi di tengah budaya Indonesia yang sukanya grudak-gruduk gampang mendukung dan menjunjung setinggi langit seorang tokoh tanpa mau menggunakan otaknya untuk memverifikasi. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang kecepatan jarinya lebih cepat dari kecepatan otak dan perasaannya.
Kembali lagi ke zaman edan, menurut Mulder, perasaan zaman edan dirasakan lagi pada tahun 1965-1966 pada peristiwa huru-hara G30S/PKI. Melihat ini menurut Kuntowijoyo bukan hanya sekadar peristiwa politik dan militer tetapi adanya perubahan yang mendasar. Kuntowijoyo mengutip rumusan Sartono Kartodirdjo pada saat itu terjadi kecenderungan ‘zaman edan’ itu dengan bangkitnya radikalisme kaum santri. Terjadi fundamenalisme kaum muda dan sufisme pada kaum tua, dan penyuburan budaya spiritual kaum abangan.
Hari-hari ini saya merasakan ‘zaman edan’ itu muncul kembali. Coba kita baca gambaran Ranggawarsita dalam serat Kalatidha ini: “Martabat negara rusak pelaksanannya. Keteladanan, kesopanan hilang karena cendekia, para ahli terbawa hanyut ikut arus zaman bimbang.” Bukankah kita melihat hal serupa terjadi pada hari-hari ini? Aturan tidak dilaksanakan bahkan dilanggar oleh pembuatnya, pelaksana, dan penegaknya. Para cendekia ikut arus berebut tambang sehingga tidak ada teladan. Para cendekia atas nama agama mereguk nikmat dunia.
Dalam kondisi seperti sekarang ini dimanakah kita berposisi? Ikut arus atau berdiri di atas nurani kita dengan segala risikonya?

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 144

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.