Sekitar pukul 23.00 saya sampai rumah. Pintu rumah sudah terkunci; para penghuninya telah tidur. Istri saya tidak tahu bahwa saya pulang malam ini karena sebelumnya saya pamit sampai besok. Ada kegiatan sejak kemarin hingga besok yang dilaksanakan di sebuah hotel, lengkap dengan fasilitas menginap. Namun, malam ini saya memilih pulang dan tidak tidur di hotel.
Saya mengetuk jendela samping untuk membangunkan istri yang tidur bersama anak kami. Ketukan pertama tidak berhasil, lalu saya ulangi ketukan kedua. “Bu, bukakan pintu,” kata saya. Ia bangun, keluar kamar, dan membukakan pintu depan.
Ia bertanya, “Diberi fasilitas hotel kok tidak dipakai, kenapa?”
“Meskipun di surga, tetapi tanpamu tetap saja hidup terasa sepi,” jawab saya.
Tentu saja jawaban itu hanya rayuan seorang suami kepada istrinya. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan surga—bagaimana kehidupan di sana, dengan siapa nanti saya hidup, wong masuk surga atau neraka saja saya tidak tahu. Saya hanya berusaha hidup sebaik mungkin di dunia ini.
Setelah meletakkan tas, mencuci muka, dan berganti baju, saya tidak langsung tidur. Masih ada waktu untuk mengobrol sebentar dengan istri yang telah menemani saya selama enam belas tahun ini. Sebagaimana suami-suami lain, saya menceritakan sebagian kejadian di kantor atau di kegiatan tadi.
…
Pada kegiatan di hotel yang baru saja saya ikuti, saya sekamar dengan seorang bapak berusia sekitar 50–60 tahun. Demi keamanan dan menjaga privasinya, identitas beliau saya samarkan. Saya lupa bagaimana mulanya, tetapi akhirnya beliau bercerita tentang pengalamannya melakukan perjalanan rutin dari Semarang ke Blora dan sebaliknya menggunakan kereta api.
“Saya selama 20 tahun melakukan perjalanan dari Blora ke Semarang melalui kereta api, Mas. Saya bekerja di Blora sedangkan anak-istri tinggal di Semarang. Jadi dulu setiap pekan saya riwa-riwi Semarang–Blora. Saya sampai kenal dan tahu kelakuan para pedagang asongan sampai para kondektur kereta api.”
Beliau bercerita tentang masa ketika perusahaan kereta api masih disebut PJKA dan pedagang asongan masih diizinkan masuk untuk menjajakan dagangan di dalam kereta.
“Para kondektur itu, Mas, banyak yang punya ‘senengan’.” (Senengan adalah perempuan lain selain istri, yang posisinya bisa sebagai selingkuhan, pacar, atau istri siri). “Ya para pedagang asongan itu biasanya yang jadi ‘senengan’-nya,” jelas si Bapak sambil terkekeh.
Beliau bercerita bahwa dulu banyak penumpang yang tidak membeli tiket resmi seharga tiga ribu rupiah. Mereka memilih membayar seribu lima ratus rupiah kepada kondektur. “Kan bisa irit seribu lima ratus, Mas. Bisa dibelikan Pecel Gambringan yang harganya seribu lima ratus.”
Para pedagang asongan yang jumlahnya puluhan juga membayar kepada kondektur sebesar satu ongkos perjalanan, yaitu tiga ribu rupiah. Uang-uang di luar karcis itu masuk ke kantong kondektur. “Gajinya full dikasihkan kepada istri, Mas. Sedangkan para senengannya diberi dari uang-uang nonkarcis itu. Akibatnya mereka pusing setelah pensiun karena harus menanggung anak-anak lain di luar pernikahan resmi, padahal penghasilan sudah terhenti.”
Begitulah cerita si Bapak tentang kehidupan kereta api, kondektur, pedagang asongan, dan para penumpangnya pada masa sebelum Pak Jonan mereformasi perkeretaapian.
Saya bertanya kepada beliau, “Pak, kenapa dulu Ibu tidak diajak pindah ke Blora saja, supaya Bapak tidak repot riwa-riwi Semarang–Blora?”
Beliau menjawab, “Wah, ya nanti suwiwinya satu, Mas. Kebetulan dia (istri) sudah bekerja di Semarang dan tidak bisa pindah karena kantornya hanya ada di Semarang. Akhirnya setelah tahun 2014-an saya mengajukan pindah ke Semarang dan dikabulkan.”
Si Bapak mengibaratkan pekerjaan sebagai suwiwi (sayap). Jadi keluarganya ia ibaratkan sebagai seekor burung. Untuk dapat terbang, burung membutuhkan dua sayap; jika hanya satu sayap, burung tidak bisa terbang.
“Memangnya mau terbang ke mana toh, Pak?” tanya saya sambil tertawa.
…
Usai bercerita, saya dan istri memutuskan untuk segera tidur.