Kesederhanaan yang Tidak Sederhana

Sabtu pagi. Saya dan istri pergi ke Stadion Demak. Kami berniat joging—lebih tepatnya berjalan kaki memutari lapangan—karena kami memang tidak kuat berlari. Sehat harus diupayakan. Kesehatan jasmani diusahakan melalui olahraga dan menjaga pola makan, sedangkan kesehatan batin dipelihara lewat jalan-jalan, berpikir positif, bersyukur, serta menjauhkan diri dari iri dan dengki.

Dalam perjalanan itu, istri saya tiba-tiba berkomentar, “Sesederhana ini kenapa tidak semua keluarga bisa?”
Menurutnya, berjalan kaki berdua seperti ini sangat sederhana. Memang benar: cukup berganti baju, lalu berangkat bersama. Namun pertanyaannya penting: mengapa tidak semua keluarga bisa melakukannya?

Ada banyak alasan, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.

Pertama, tidak adanya pemahaman yang sama mengenai manfaat berjalan kaki bersama. Mungkin istri menganggap kegiatan ini penting, sementara suami memandangnya sebagai buang-buang waktu. Perbedaan persepsi sederhana ini sudah cukup membuat kegiatan kecil seperti jalan pagi tidak pernah terjadi.

Kedua, jadwal yang tidak sinkron. Kesibukan kerja, lembur, shift yang berbeda, atau urusan rumah yang menumpuk sering membuat pasangan sulit menemukan waktu yang sama untuk sekadar berjalan kaki bersama.

Ketiga, beban mental yang tidak seimbang. Salah satu pihak—sering kali istri—memikul lebih banyak tanggung jawab domestik, sehingga energi psikologis habis sebelum sempat memikirkan aktivitas berdua. Dalam kondisi letih, berjalan kaki terasa seperti kemewahan.

Keempat, tidak adanya kebiasaan yang terbentuk. Banyak keluarga sebenarnya tidak menolak aktivitas sehat, hanya saja kebiasaan itu tidak pernah dibangun sejak awal. Tanpa rutinitas, hal sederhana pun sulit dimulai.

Kelima, lingkungan yang tidak mendukung. Tidak semua keluarga tinggal di wilayah yang punya trotoar, ruang terbuka, atau area aman untuk berjalan kaki. Lingkungan yang tidak ramah membuat aktivitas itu terasa merepotkan.

Keenam, perbedaan minat dan kenyamanan. Ada yang menyukai udara pagi, tetapi pasangannya lebih ingin rebahan atau menikmati kopi. Perbedaan kecil ini juga bisa menjadi penghalang rutin yang tidak disadari.

Ketujuh, alasan yang lebih kompleks: ketidakcocokan mendasar antara suami dan istri. Ini kadang berakar pada faktor budaya. Dalam beberapa masyarakat, perempuan yang sudah cukup umur merasa terpaksa menikah karena tekanan sosial dan takut menjadi bahan omongan. Ia akhirnya menikah dengan seseorang yang belum tentu ia cintai. Harapan bahwa cinta akan tumbuh seiring waktu tidak selalu terbukti. Ia hidup bersama imajinasinya sendiri, bukan bersama suami yang nyata. Akibatnya, hubungan terasa kaku. Jangankan berjalan kaki bersama, tersenyum di dalam rumah pun menjadi hal yang sulit.

Padahal, berjalan kaki bersama pasangan adalah hal sederhana yang dapat membawa dampak besar. Selain menyehatkan jasmani, kegiatan ini juga mempererat hubungan. Saat berjalan, suami istri bisa berbincang tentang rencana liburan, pendidikan anak, atau bahkan menghayal kapan bisa mengganti mobil dan memilih mereknya.

 

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 144

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.