Dipikir Keri

Manusia itu banyak tipe, ada yang tipe kaekan mikir (terlalu banyak mikir), pikir keri (dipikir belakang), ora usah dipikir (tidak usah dipikir), dipikir karo mlaku (dipikir sambil menjalani).

Sebuah iklan memperlihatkan dialog antara bapak dan anak perempuannya yang sudah remaja. Dialog itu tentang pernikahan. Si anak berkeputusan melanjutkan kuliah Strata Dua dulu baru menikah. Alasannya untuk selesai kuliah dulu adalah agar seimbang dengan suaminya.

Saya berpendapat bahwa perempuan remaja ini ‘kaekean mikir’, terlalu banyak berpikir. Saya termasuk orang dengan tipe dipikir keri. Dulu saya menikahi istri saya ketika dia belum lulus kuliah S1 dan saya masih kuliah S2. Kalau dipikir secara matematis saya tidak mungkin menjalani hidup berumahtangga. Agak kesulitan sih, hidup di kontrakan hanya beralaskan tikar, berbantal satu untuk berdua.

Ketika belum selesai kuliah S2 istri juga masuk S2, sungguh mis manejemen hidup akuh. Itu karena saya tipe manusia dipikir keri atau bahkan manusia tipe ora usah dipikir. Memang sering telat bayar tapi tidak pernah deg-degan. Saat sudah waktunya bayar kuliah dan belum punya uang, saya bilang sama istri, ini ada uang segini, jika besok ada uang untuk memenuhi ya bayar kalau tidak ya tidak usah bayar, kalua disuruh keluar ya keluar.

Ketika menonton iklan itu hati saya tertawa lepas, lha hanya ingin kuliah kok menunda menikah, kampungan. Tapi saya tetap menghormati orang yang berkeputusan belum menikah asal jangan kuliah sebagai alasan. Ulama-ulama besar kita termasuk Sastro Kartono juga tidak menikah, mereka suntuk dengan ilmu yang dipelajari, mereka adalah orang-orang yang menikahi ilmunya.

Kebanyakan manusia Indonesia sepertinya setipe dengan saya, dipikir keri. Mereka belum punya pekerjaan sudah berani melamar pacarnya, gaji tidak seberapa sudah berani kredit motor. Jalani dulu dipikir keri.

Manusia kekean mikir identik dengan manusia yang malas bergerak, segala hal dipertimbangkan, nak ngono piye, nak ngene piye, ojo-ojo salah, dan lain sebagainya. Tipe orang yang berkebalikan dengan ini adalah tipe manusia grusa-grusu. Tipe manusia ini adalah tipe manusia yang tanpa mempertimbangkan apa-apa. Kita harus diantara rentang dua tipe manusia ini, kaekan mikir dan grusa-grusu.

Di Jawa kita juga sering mendengar istilah ‘ora usah dipikir’, ungkapan ini diucapkan pada situasi seseorang yang gelisah karena akan menjalani sesuatu misalnya ujian, pernikahan, atau ketemu mantan. Aku kok kepikiran adimu terus, “Aku kok terpikirkan oleh adikmu terus.” Memikirkan sesuatu tanpa bertindak seringkali menganggu perasaan, membuat hati gundah gulana.

Melakukan sambil dipikir, dipikir sambil melakukan. Orang yang melakukan saja tanpa berpikir maka dia proses berhasilnya lama, sedangkan berpikir melulu tanpa melakukan hanya jadi imajinasi. Dipikir karo mlaku, dipikir sambil menjalani, pengalaman menjadi pelajaran.

Dari sekian tipe manusia tadi mana yang paling baik? Bergantung situasinya, kadang-kadang kita perlu menyiapkan dulu secara matang, memepertimbangkan banyak hal, menghitung kemungkinan-kemungkinan, jadi ketika berangkat perang sudah pasti menang. Ada situasi yang mengharuskan kita dipikir keri, atau dipikir karo mlaku.  (Muhajir Arrosyid).

0Shares
Muhajir Arrosyid

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas