Kisah Pedang dan Pisau Dapur

Sebuah pisau dapur bertemu dan berdialog dengan pedang. Kata pisau dapur, “Hai pedang, mengapa orang membicarakanmu dengan kebanggaan, kegagahan, dan kemuliaan? Para jendral dilukis menenteng pedang. Dan mengapa orang tidak membicarakanku sama sekali? Padahal aku juga memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka memakan sayur yang dipotong menggunakan ketajamanku.”

Jawab pedang, “Kau ingin tahu jawabannya? Karena aku mampu melukai lebih dalam darimu. Sedangkan kau hanya melukai di permukaan. Karena aku digunakan untuk perang, berkelahi dan memberi ancaman, sedangkan kau tidak!”
“Berarti kau lebih berbahaya dari aku?”
“Tentu.”
“Berarti kau lebih jahat dariku?”
“Bisa jadi.”
“Sekarang aku tahu, orang banyak menghargai, menghormati, memuliakan, yang memberi ancaman kepadanya dari pada yang memberi manfaat.”

Kisah itu saya ceritakan ulang dari cerita di Pancatantra dengan penambahan di sana-sini. Kita bisa belajar dari kisah pisau dapur dan pedang ini. Ada orang-orang tertentu yang justru lebih menghargai orang yang mengancamnya. Ia memberi upeti, memberi hadiah karena dia takut jika dia tidak tunduk maka mungkin jabatannya, kedudukannya akan tergeser. Relasi semacam ini ada di kantor pemerintahan, politik, sekolah, bahkan relasi manusia dengan Tuhan. Orang takut dengan Tuhan karena ancaman.

Sebaliknya ada orang yang ingin dihargai seperti pedang. Ia dihargai karena memberi ancaman. Berbeda dengan orang bisnis yang saling menguntungkan, berbeda persaudaraan yang saling melindungi. Tipe pedang ini sebagaimana pejabat, hai jika kamu tidak setor maka nanti aku geser lho. Hai jika kamu tidak milih aku dan partaiku maka kampungmu tidak aku bangun lho. Sebaliknya rakyat juga begitu, hai jika kamu tidak membangun jalan kampungku tidak aku pilih lho.

Kalau aku lebih mencintai, menghargai, dan memuliakan orang yang perannya seperti si pisau ini. Perannya tidak terlihat tetapi nyata memberi manfaat. Saya nyaman dan tidak merasa terancam, karena orang yang dihargai karena ancaman yang ia timbulkan maka ia akan cepat dilempar jika pedang yang ia miliki telah berkarat dan tumpul.

Begitu juga dengan Gusti, saya memuliakan dan mencintai karena syukur atas limpahan nikmatNya dari pada ancaman nerakanya. Salam damai.

Demak 1 Juni 2020

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 87

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.