“Apakah Tulisan Saya Membosankan?”

“Bagaimana tulisanku? Apakah membosankan?” Seorang teman bertanya kepada saya tentang tulisannya. Akhir-akhir ini ia sangat produktif. Setelah bertahun-tahun tidak menulis, tiba-tiba tulisannya mengalir deras, bagai aliran Sungai Kalisidi di Ungaran. Bersamaan dengan itu, muncul pula perasaan ragu dalam dirinya: apakah tulisannya bagus atau tidak, ada yang membaca atau tidak, terlebih lagi—apakah tulisannya bermanfaat dan berdampak.

Saya harus berhati-hati menjawab pertanyaan ini, karena kesalahan menjawab bisa menjadi gembok yang mengunci sebuah pintu dan sulit dibuka kembali. Misalnya, jika saya menjawab, “Iya, tulisanmu sebenarnya bagus, tetapi kurang ini-itu. Akan lebih baik jika….” Ada kemungkinan setelah itu tulisannya tidak lagi mengalir. Jika aliran air ditutup, ia bisa mencari jalan lain atau, paling tidak, menjadi tekanan yang suatu saat menjebol tembok. Namun, jika air itu justru berhenti dan menjadi keruh, dampaknya bisa berbahaya.

Menurut saya, menulis memiliki banyak keperluan dan tujuan. Ada kalanya menulis dilakukan sebagai bentuk rilis: setelah menulis, hati terasa plong dan lebih lega. Menulis dalam kategori ini mirip dengan orang yang ingin mengobrol—ingin menyampaikan sesuatu, ada unek-unek di hati yang perlu disalurkan. Jika orang pada umumnya melakukannya dengan mencari teman bicara, penulis menyampaikannya melalui tulisan. Tulisan semacam ini bisa saja dibaca orang lain, tetapi bisa juga disimpan untuk diri sendiri.

Jika kita menulis dengan tujuan seperti ini, tidak perlu terlalu banyak berpikir. Tidak perlu memikirkan apakah tulisan itu membosankan atau tidak, enak dibaca atau tidak, apalagi sampai memikirkan apakah berdampak atau tidak. Sampaikan saja apa yang ingin Anda sampaikan. Ingat, menulis adalah ekspresi sekaligus media komunikasi. Secara alamiah, manusia akan mengekspresikan apa yang ingin ia sampaikan.

“Berarti saya egois dong? Masak saya menulis hanya memikirkan diri sendiri? Masak saya tidak memperhatikan pembaca?” tanya teman itu lagi. Saya lalu menjawab: tulisan itu kan diunggah di blog atau media sosial kita. Di ruang internet, terdapat begitu banyak tulisan dan gambar dengan beragam isu. Orang akan memilih bacaan yang ia sukai. Kita hanya menyajikan bahan; jika tidak suka, silakan dilewati, jika suka, silakan dibaca. Toh, kita sendiri sering disajikan—bahkan dijejali—informasi yang sebenarnya tidak kita perlukan dan hanya memenuhi pikiran. Misalnya, apa pentingnya mengetahui secara detail urusan perceraian atau perselingkuhan seorang pejabat?

Yang perlu dilakukan adalah terus-menerus berinteraksi dengan ilmu. Interaksi ini bisa melalui membaca buku dan jurnal, atau mengikuti kegiatan keilmuan seperti pengajian, seminar, bedah buku, atau menonton podcast yang isinya benar-benar “daging”. Dengan cara itu, apa yang keluar dari pikiran kita—baik melalui tulisan maupun pembicaraan—akan menjadi lebih bermutu, berbobot, dan mungkin bermanfaat serta berdampak.

Perlu diingat, manfaat dan dampak selalu berjarak dengan proses. Jarak itu bisa mingguan, tahunan, bahkan ratusan tahun. Kartini, misalnya, menulis surat tanpa berpikir tentang dampak, tetapi pengaruhnya justru baru dirasakan setelah ia wafat. Contoh lain, seorang pelukis yang karyanya tidak dipahami pada masanya, baru diapresiasi setelah ia meninggal, hingga harga lukisannya melambung tinggi. Ia tidak sempat menikmati hasil karyanya sendiri. Begitulah tentang dampak.

Berbeda halnya jika Anda menulis untuk keperluan akademik; Anda harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku. Jika Anda menulis secara jurnalistik, maka bentuk dan strukturnya pun harus dipatuhi. Selamat berkarya.

 

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 164

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.