Awal Desember 2025 saya mengikuti upacara Nyadran Kali di Desa Kandri, Gunungpati, Kota Semarang. Sejak pagi warga sudah berkumpul. Para bapak memulai kegiatan dengan membersihkan area sumber air, sementara sekitar pukul tujuh pagi ibu-ibu datang membawa makanan untuk selamatan dan makan bersama.
Nyadran di kawasan Gua Kreo dilaksanakan di beberapa titik. Di Kampung Telon Kacang, upacara ini berlangsung pada Kamis, 4 Desember 2025. Pemilihan hari Kamis Kliwon bukan kebetulan, melainkan mengikuti tradisi yang sudah lama dijalankan. Pak Dul Karim, Ketua RW setempat, menjelaskan bahwa weton tersebut berkaitan dengan khoul tokoh masyarakat desa.
“Di sini setiap selapan Kamis Kliwon selalu ada nyadran,” katanya. “Bulan ini nyadran kali, bulan depan nyadran waduk sebagai pengganti nyadran sawah yang sekarang sudah menjadi waduk. Saat bulan Ruwah ada nyadran kubur, dan saat Idulfitri ada nyadran gua yang kini dikenal sebagai Sesaji Rewanda. Pernah ada usul agar acaranya dipindah ke akhir pekan karena Kamis hari kerja, tapi para sesepuh tidak mengizinkan.”
Setelah bersih-bersih selesai, air dari sungai ditampung di kolam lalu dialirkan untuk kebutuhan masjid dan warga. Acara dilanjutkan dengan selamatan. Doa dipimpin Pak Dul Karim, kemudian semua yang hadir makan bersama. Makanan ditata memanjang di atas daun pisang: nasi di tengah, lauk seperti urap tempe, telur, dan ikan goreng di sisi-sisinya. Setelah kenyang, sisa makanan dibawa pulang.
Nyadran Kali tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya kampung ini. Sejak dulu, warga Kandri memiliki tradisi kesenian yang kuat: gamelan, ketoprak, dan tentu saja Gua Kreo—situs yang lekat dengan cerita Sunan Kalijaga saat mencari kayu untuk pembangunan Masjid Agung Demak.
Meski secara administratif berada di Kota Semarang, suasana kampung ini masih terasa hijau. Pepohonan besar tumbuh rimbun, sungai-sungai mengalir, dan tradisi dijalankan secara rutin. Kini, Nyadran juga menjadi daya tarik wisata, meski bagi warga ia tetap terutama soal merawat hubungan dengan alam dan leluhur.
Seusai acara, saya berbincang dengan beberapa warga. Salah seorang di antaranya (namanya tidak saya sebutkan karena mengandung kritik) bercerita tentang perubahan besar sejak sawah dan kebun berubah menjadi waduk. “Karena mata pencaharian warga bergeser dari petani menjadi nelayan waduk, tradisi yang dulu dilakukan saat padi mulai hamil sekarang berubah menjadi nyadran waduk dan dilaksanakan bulan Januari,” ujarnya.
Perubahan lingkungan juga memunculkan persoalan lain: kera. “Kera tidak mungkin mengubah makanannya jadi ikan,” kata seorang warga. “Mereka tetap makan buah.”
Seorang warga lain menambahkan bahwa sejak awal ia sudah khawatir ketika lereng waduk ditanami sengon. “Sengon tidak berbuah. Seharusnya ditanam pohon buah untuk pakan kera. Karena tidak ada, kera-kera itu masuk kampung, merusak tanaman warga, bahkan mengambil makanan jaburan saat anak-anak berjanjen di masjid.”
Dari Nyadran Kali, saya belajar satu hal sederhana namun penting: pembangunan sering kali hanya memikirkan hasil bagi manusia, sementara alam dipaksa menyesuaikan diri. Padahal, tradisi seperti nyadran justru mengingatkan bahwa manusia, air, hewan, dan tumbuhan berada dalam satu jalinan yang tidak bisa dipisahkan.
