Beraninya Sama Anaknya

“Beraninya sama anaknya,” ini adalah status WA seorang teman. Status ini sebenarnya bisa saja “diam” jika tidak diletakkan pada konteks yang tepat. Tetapi sesuatu yang tampak diam sering kali justru bersuara keras, karena ia hidup dan berkembang biak di kepala pembacanya. Sama persis dengan kata-kata penyair dalam puisinya yang melahirkan banyak tafsir.

“Beraninya sama anaknya,” membuat saya mengingat suatu relasi antara Bapak dan anak. Seseorang tidak berani pada Bapaknya, lalu melampiaskannya dengan menjahili anaknya. Jika si Bapak adalah protagonis, maka kata menjahili dapat berarti mengganggu. Namun jika si Bapak adalah antagonis dan berbuat jahat, maka menjahili bisa berarti membalas.

Saya perjelas agar tidak membuat Anda bingung. Kita geser konteksnya: Bapak adalah Joko Widodo, mantan Presiden Indonesia, dan anak adalah Gibran, Wakil Presiden Indonesia. Jika demikian, kalimat itu menjadi, “Beraninya pada Gibran dan tidak berani pada bapaknya Gibran, yaitu Joko Widodo.”

Siapakah dia yang dituju—sosok yang beraninya hanya pada anaknya, tetapi takut, bahkan menghamba, pada bapaknya? Oh, ternyata banyak sekali. Orang-orang yang dulu tunduk dan hormat pada Presiden Joko Widodo, lalu sekarang menjadi pencaci Gibran, anaknya. “Beraninya sama anaknya.”

Grup band sohor Slank beberapa waktu lalu mengeluarkan single baru berjudul Republik Fufufafa. Kelihatan garang, kritis, dan berani. Lagu ini membuat orang kembali ingat peran Slank pada masa lalu dalam mengangkat Joko Widodo menjadi presiden. Ada satu konser besar di Jakarta yang menyematkan Joko Widodo sebagai mitos baru: pemimpin yang gaul dan dekat dengan generasi muda, sebagaimana diprepresntasikan oleh Slank. Dalam hal ini, peran Slank sulit dielakkan.

Jadi, Slank jangan marah jika di kolom komentar banyak respons negatif terhadap lagu ini. Misalnya, komentar, “Sudah terlanjur: polisi baik hati.”, merukuk pada lagu Slank yang dipopulerkan pada waktu itu. Ada juga yang menulis komentar, “Gak inget pernah jadi komisaris.” Komentar terakhir merujuk pada Abdi, salah satu personel Slank, yang pernah menjadi komisaris pada pemerintahan Joko Widodo.

Mengapa beraninya hanya sama anaknya? Jawabannya tentu saja karena bapaknya terlalu kuat untuk dilawan pada waktu itu. Si Bapak memiliki suara massa. Siapa saja yang berani mengkritik, digulung oleh massa. Siapa pula yang mau menjadi musuh publik? Cak Nun—atau Mbah Nun—adalah salah satu dari sedikit yang berani. Dampaknya luar biasa. Ia dicemooh, diserang, oleh banyak orang. Seorang kiai kharismatik menyayangkan tindakan Cak Nun yang mengkritik keras Jokowi tersebut.

Alasan kedua, sekarang anak dan bapaknya mulai ditinggalkan massa. Pembelanya tinggal sedikit, atau paling tidak terbelah separuh-separuh. Menyerang Gibran hari ini risikonya tidak sebesar mengkritik Joko Widodo pada masa lalu. Bahkan, bisa jadi menyerang Gibran justru mendapat dukungan publik.

Alasan ketiga, ini saya sebutkan agar saya tidak diserang oleh Slankers. Bisa saja sikap Slank yang berbalik arah ini karena sekarang mereka sudah memiliki kesadaran baru setelah kemarin terkelabuhi.

Halah, beraninya sama anaknya. Hu hu hu.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 164

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.