Untuk yang Sedang Berjuang Menyelesaikan Studi

Mungkin kamu adalah mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi, tesis, atau disertasi. Boleh jadi kamu adalah pelajar yang sedang menempuh studi. Tulisan ini aku dedikasikan untuk dirimu yang sedang berjuang. Semoga tulisan ini menemani perjalananmu. Boleh juga tulisan ini menjadi tombol “on” kalau kamu sedang malas gerak dan terlalu asyik rebahan.

Pertama, jangan marah. Kamu mungkin ingin mengubah keadaan buruk yang kamu alami dengan marah, seperti dulu kamu marah pada orangtuamu lalu orangtua menuruti keinginanmu. Tetapi dunia ini bukan orangtuamu yang akan mengikuti seluruh keinginanmu. Kamu marah pada Tuhan karena nasibmu tidak sebaik orang lain. Orang lain terlihat mudah mendapatkan sesuatu, selalu berhasil, ketika butuh ada, semua terasa lancar. Sedangkan kamu merasa selalu tidak beruntung, seolah segala aturan dibuat untuk menghambat langkahmu. Kamu marah pada Tuhan dan berharap Tuhan menuruti kemauanmu. Atau kamu marah pada dosen atau gurumu yang kamu anggap tidak adil.

Marah tidak menyelesaikan masalah. Marah adalah mekanisme untuk mengatur orang di luar dirimu, padahal mereka bukan siapa-siapa buatmu. Kecuali kamu bos, kamu boleh marah pada anak buah yang tidak disiplin, yang tidak menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar. Kalau kamu orangtua, kamu boleh marah pada anak yang tidak menaati aturan keluarga. Marah dalam konteks itu adalah meluruskan jalur yang sudah ada, ketika seseorang keluar jalur agar kembali masuk jalur. Marah seperti itu bisa dimaknai sebagai bahasa sayang agar anak tidak semakin jauh tersesat. Tetapi sebagai bos atau orang tua, jangan asal marah; marah tanpa alasan pada bawahan atau anak itu namanya sewenang-wenang.

Kepada Tuhan, kamu marah? Memangnya kamu siapa? Kamu ingin mengatur Tuhan dengan marahmu itu? Memangnya Tuhan buruhmu? Terhadap keadaan dan nasib yang kita terima, kita hanya bisa menerima dan berserah. Lawan marah adalah menerima, lalu berserah. Itulah inti beragama: menyerahkan diri kepada Allah.

Kedua, jangan takut. Ada banyak jenis takut: takut apa yang kamu lakukan sia-sia, takut gagal, takut disalahkan, takut lelah. Kita bahas satu-satu.

Mungkin kamu mahasiswa semester 13, masa studimu tinggal satu semester sementara tugas kuliah masih menumpuk. Masih ada mata kuliah yang belum diambil, skripsi/tesis/disertasi masih proposal dan tidak bergerak. Kamu merasa ini sudah tidak bisa ditolong, tetapi mau mundur pun enggan. Kamu takut usaha yang kamu lakukan nanti sia-sia dan tetap gagal. Lalu kamu bertanya, “Kalau nanti gagal, buat apa aku berusaha?”

Perlu aku sampaikan: inti pendidikan adalah mengalami, bukan sekadar berhasil atau gagal. Alami dulu proses pendidikan itu, dan seiring waktu kamu akan mendapatkan sesuatu. Tidak ada yang sia-sia bagi orang yang mau mengalami, karena ia tetap mendapat ilmu. Bergerak lebih baik daripada terus berbaring di kamar. Berbaring dengan ketakutan justru lebih menguras energi dibanding bergerak menghadapi kenyataan. Bergerak punya potensi gagal, tetapi juga punya potensi berhasil. Sementara berbaring diam di kamar sudah pasti gagal. Jangan berharap semuanya selesai sendiri tanpa kamu selesaikan. Yang perlu kamu lakukan adalah bergerak. Ambil satu pekerjaan dulu, selesaikan, baru ambil pekerjaan berikutnya. Satu per satu.

Kadang kamu takut bertemu dosen karena takut disalahkan, padahal belum tentu. Ketakutan itu membuatmu mandek. Beranilah. Hadapi. Dengarkan. Kerjakan. Jangan merasa kamu adalah pusat perhatian dosen. Dosen juga punya pekerjaan lain, punya urusan lain, punya mahasiswa lain. Datanglah dengan kepala tegak. Tata ulang cara pandangmu: tujuan dosen adalah menemukan kesalahanmu agar kesalahan itu tidak semakin besar. Ia membantumu agar pekerjaanmu selesai dengan baik dan tepat waktu. Ketakutan hanya akan mengulur-ulur waktumu.

Ketakutan berikutnya adalah takut lelah. Kamu melihat banyaknya coretan revisi, artinya kamu harus menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Padahal kamu ingin nongkrong, pacaran, nonton konser, ingin rileks terus. Kamu enggan membuka revisi karena itu berarti membaca buku lagi, mengambil data tambahan, menulis lagi, ke kampus lagi, menunggu dosen lagi. Membosankan dan melelahkan. “Untuk apa aku begini, kan lebih enak rebahan,” batinmu.

Seorang intelektual sejati memang harus punya hasrat terhadap ilmu. Dengan itu ia bergairah bertemu dosen, kuat membaca buku, dan mengejar ilmu. Tumbuhkan dulu sikap intelektual itu agar mampu menopang punggungmu saat mengerjakan revisi.

Ketiga, percaya diri. Keberanian melahirkan rasa percaya diri. Kamu harus percaya bahwa dirimu mampu. Jangan percaya omongan orang yang merendahkanmu. Lihat orang yang hanya diberi satu tangan, tetap bisa menjadi tukang yang andal. Lihat orang yang tidak diberi penglihatan, mampu mengoptimalkan dirinya bermain musik. Lihat cicak yang hanya bisa merayap di dinding, tetapi mangsanya adalah nyamuk yang bisa terbang. Kamu tidak punya alasan untuk tidak percaya diri. Tetapi ingat, percaya diri bukan berarti menjadi kurang ajar, angkuh, atau sombong. Kamu tetap harus menaruh hormat kepada orang lain.

Pada akhirnya, perjalanan akademik bukan sekadar tentang nilai atau kelulusan, tetapi tentang membentuk dirimu menjadi pribadi yang lebih kuat. Jangan marah, jangan takut, dan tetap percaya diri. Kamu tidak perlu berlari cepat; cukup berjalan konsisten. Setiap langkah yang kamu ambil, sekecil apa pun, tetap membuatmu maju.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 164

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.