Pernahkah kamu mendengar pernyataan bahwa pekerjaan yang paling menjengkelkan adalah menunggu? Mungkin ada benarnya. Sebab itu pula orang dihukum atas kesalahan yang diperbuatnya dengan cara menunggu di dalam kurungan. Seseorang di dalam tahanan harus menunggu sampai tiba waktunya keluar. Ia membunuh waktu, menghadapi kebosanan, dan menahan frustrasi.
Namun, ada juga orang yang justru menemukan cara menghibur diri di dalam kurungan. Ia menemukan keasyikan selama masa hukumannya. Ketika akhirnya masa itu selesai dan ia mendapatkan kembali kebebasannya, justru ia bingung mau ke mana. Ia lupa cara hidup di luar sana. Ia gelisah memikirkan akan pulang ke mana, makan apa, dan bertemu siapa.
Keadaan ini mirip dengan binatang di kebun binatang. Ia telah terbiasa hidup di bawah pengawasan manusia. Pakannya tersedia, tempat tinggalnya terjaga, dan ia aman dari predator. Ia memang kehilangan kebebasan, hidup di ruang sempit, tetapi merasa aman dan nyaman. Ketika hendak dilepaskan ke alam liar, ia ragu. Ia menoleh lagi dan lagi. Ia bertanya-tanya: akan melangkah ke mana, makan apa nanti, dan siapa yang akan melindunginya?
Mengapa menunggu terasa berat? Karena seseorang terlalu fokus pada waktu yang ditunggu. Jika seseorang menunggu waktu ujian, pikirannya terpenjara pada momen itu. Karena terlalu fokus, ia tidak mampu berbuat hal lain yang produktif.
Lalu, bagaimana agar menunggu tidak menyiksa? Mungkin dengan berpikir jangka pendek dan menghindari berpikir terlalu jauh ke depan. Maksudnya begini: pikirkan hal terdekat yang dapat kamu lakukan saat ini. Apa yang mungkin dikerjakan sekarang, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Setelah satu pekerjaan selesai, pindah ke pekerjaan berikutnya. Dengan begitu, sesungguhnya “menunggu” itu menghilang karena kita terus bergerak, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Hasil, capaian, atau keberhasilan yang datang hanya tampak seperti “buah yang tiba-tiba jatuh”. Padahal jelas tidak tiba-tiba; ada proses panjang yang tidak terlihat. Jika kamu mendengar seorang teman tiba-tiba berprestasi, padahal menurutmu ia tidak melakukan apa-apa, itu bukan berarti ia benar-benar tidak melakukan apa-apa. Itu hanya karena kamu tidak melihat prosesnya.
Selamat berpikir jangka pendek agar waktu menunggumu ikut terasa pendek. Ngomong-ngomong, bukankah hidup ini sebenarnya juga hanya soal menunggu? Pada saatnya, kita juga akan pulang. Mengapa kamu tidak bosan menunggu di dunia ini? Apakah kamu seperti orang dalam hukuman, atau seperti hewan di kebun binatang yang terlalu nyaman di penjara?
Jangan terlalu dipikirkan tulisan ini. Saya menulisnya pun sambil lalu. Saya akhiri sampai di sini karena waktu menunggu saya sudah habis. Saya harus menemui dosen saya.
