Jalan Pintas, Jalan Tikus, dan Jalan Alternatif

Seorang teman pernah mengomentari tulisan-tulisan saya di blog pribadi. Katanya, tulisan saya tanpa teori, tanpa rujukan, dan tidak mencerminkan saya sebagai intelektual dan akademisi. Komentar itu membuat saya berpikir: oh ya ya, mengapa bisa begitu? Padahal, ketika menulis secara akademik, tulisan saya justru penuh rujukan—bahkan satu kalimat bisa memuat lebih dari satu referensi.

Setelah dipikir-pikir, saya menemukan jawabannya. Blog ini memang bukan ruang akademik. Blog ini adalah ruang obrolan.

Saya menulis di blog seperti sedang berbincang dengan teman-teman, anak-anak, istri, keponakan, dan sahabat-sahabat lama. Kadang, waktu dan jarak tidak memungkinkan kami bertemu. Misalnya, saya sedang di Tokyo, sementara istri berada di Sydney. Biasanya, ketika di rumah, kami bisa mengobrol berjam-jam. Ketika itu tidak mungkin, saya memilih bercerita lewat tulisan—tentang Tokyo dan segala yang saya jumpai di sana.

Begitu pula dengan anak-anak. Ada kalanya saya ingin menasihati mereka, tetapi kami tidak sedang bersama. Kalau menunggu sampai bertemu, bisa jadi nasihat itu lupa, atau suasana hatinya sudah berbeda. Maka, saya tulis saja.

Tulisan-tulisan di blog ini seperti obrolan dengan teman-teman lama yang kini sibuk dengan urusan masing-masing. Saya sendiri tidak terlalu sibuk—buktinya masih sempat menulis. Saat menulis, saya membayangkan sedang duduk bersama Mas Monty, Aswin, Arsyad, Wahid, Ridwan, Fian, Agus, Yunan,  dan kawan-kawan lain di bawah pohon rambutan, durian, dan nangka di Ningkosawit. Harapan saya sederhana: meskipun kami berjauhan dan bertahun-tahun tidak bertemu, secara batin kami tetap terhubung.

Saya memilih tulisan karena sifatnya yang awet dan bisa ditunda. Orang bisa membacanya kapan saja, saat mereka punya sela. Pilihan lain sebenarnya ada, seperti Google Meet atau Zoom. Namun, sering kali pengirim dan penerima pesan tidak berada dalam frekuensi yang sama—baik dari segi minat maupun kesiapan. Tulisan memberi ruang untuk itu.

Beberapa waktu lalu, saya menulis esai berjudul “Sesungguhnya Menunggu Itu Tidak Ada.” Di sana, saya mencoba berteori dari pengalaman pribadi. Saya berpendapat bahwa menunggu akan terasa tidak seperti menunggu jika tujuan besar dipecah menjadi tujuan-tujuan pendek. Ketika kita terpaku pada tujuan jangka panjang, rentang waktu menunggu terasa lebih panjang dan melelahkan.

Pendapat itu kemudian diuji oleh teman saya, Mas Aswin. Ia tidak sepakat. Baginya, menunggu tetaplah menjengkelkan. Menunggu lampu lalu lintas saja bisa terasa sangat lama dan membosankan. Baru saja jalan, sudah bertemu lampu merah lagi—bahkan sampai tiga kali. Solusinya sederhana: cari jalan lain. Jalan pintas, katanya, lebih cepat daripada menunggu.

Mari kita kembali ke soal menunggu. Dalam setiap perjalanan selalu ada tujuan, jarak, dan waktu. Kita menghitung perjalanan berdasarkan waktu tempuh yang diperkirakan. Ketika muncul hambatan—macet, banjir, atau lampu merah—di situlah menunggu hadir.

Namun, jika berpegang pada pendapat saya bahwa “menunggu itu tidak ada”, maka situasi macet seperti yang dialami Mas Aswin bisa diperlakukan berbeda. Saat terjebak macet, saya biasanya mencari “pekerjaan” di dalam mobil. Apa yang bisa dilakukan saat menyetir pelan-pelan? Banyak. Misalnya, menghafal doa-doa harian yang belum hafal. Dengan begitu, waktu tidak terasa sebagai waktu tunggu.

Kembali ke jalan pintas. Jalan pintas sering disebut juga jalan tikus karena sempit dan umumnya hanya bisa dilalui kendaraan kecil. Ada pula yang menyebutnya jalan alternatif, yakni jalan yang digunakan ketika jalan utama buntu karena kemacetan. Jalan alternatif ini mirip dengan pengobatan alternatif: dipilih ketika pengobatan utama dianggap tidak mempan.

Masalahnya, jalan pintas dan jalan alternatif bukan tanpa risiko. Jalan-jalan semacam ini biasanya hanya benar-benar dikuasai oleh warga lokal. Karena sempit, jika terlalu banyak orang memilih jalur yang sama, kemacetan justru bisa lebih parah.

Saya mengalaminya sendiri. Setiap tahun, perjalanan dari rumah saya di Demak ke tempat kerja di Semarang hampir selalu macet. Pernah berbulan-bulan karena pembangunan jembatan, pernah juga berbulan-bulan akibat banjir rob. Dalam situasi seperti itu, saya mencoba mencari jalan alternatif. Pernah suatu kali saya pulang lewat jalur Waru karena batas Semarang–Demak macet parah. Sayangnya, jalur kecil itu juga dipenuhi orang-orang dengan ide yang sama. Akhirnya macet juga. Saya terjebak di sana selama dua jam, hanya bisa main kopling. Nah, di situlah saya belajar: jalan pintas pun punya masalah.

Jalan alternatif paling aman biasanya diketahui oleh orang setempat, mereka yang benar-benar mengenal wilayahnya. Orang luar sebaiknya berhati-hati. Saya pernah mencoba jalur alternatif dari Kudus ke Demak dengan mengikuti peta digital. Alih-alih lancar, saya justru nyasar, tembus sawah, dan masuk jalan tanah yang tidak bisa dilalui kendaraan.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Mungkin kita bisa memilih: menjadi balok, air, atau angin. Menjadi balok berarti kaku dan berisiko besar terjebak macet. Menjadi air lebih lentur karena bisa mengalir melalui celah-celah sempit. Menjadi angin lebih bebas lagi karena hampir tak terhalang ruang.

Mencari jalan pintas tentu sah-sah saja, asal dilakukan dengan hati-hati. Jalan pintas menuntut pengetahuan dan kepekaan, serta tidak boleh mengganggu kenyamanan orang lain.

Dalam konteks lain, istilah “jalan pintas” sering berkonotasi negatif. Misalnya, menjadi pejabat lewat jalan pintas berarti memotong proses yang seharusnya dilalui dan merugikan mereka yang menempuh jalur prosedural. Jalan pintas semacam ini biasanya melibatkan “orang dalam”.

Lho, kok jadi ke mana-mana? Ya, begitulah namanya juga obrolan di bawah rimbunnya pohon rambutan. Santai saja, jangan terlalu tegang.

 

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 167

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.