Mimpi di Atas Sepeda

Pukul 06.00 WIB, langit di atas Sayung masih redup. Air menggenang di jalan, menutup ban sepeda motor. Truk yang melintas menciptakan kecipak. Mobilku berjalan perlahan menembus banjir. Di depanku, sebuah tronton merayap pelan; di belakangku, bus besar seakan meneror dengan klakson dan jarak yang terlalu dekat.
Aku baru lepas dari kemacetan saat menyeberang melewati gapura batas Demak–Semarang.
Pada saat itulah aku melihat pemandangan yang indah sekaligus mengusik. Seorang gadis berkerudung putih, berseragam putih abu-abu, dibonceng seorang lelaki tua dengan sepeda kayuh yang sudah berkarat. Wajah si gadis datar saja. Wajah lelaki yang memboncengkannya kaku. Aku tidak mendengar apa pun, tetapi membayangkan suara rantai sepeda yang berputar dan napas sang bapak yang keluar-masuk lewat hidungnya.
Saya mengandaikan mereka anak dan bapakna. Sang anak berangkat sekolah, diantar bapaknya dengan sepeda. Aku tidak sempat turun dan mencari tahu siapa mereka sebenarnya. Mengapa mereka berangkat sekolah dengan sepeda reot di zaman yang gemar mencibir seperti ini? Apakah anak itu tidak malu? Betapa kuatnya hati anak perempuan itu. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku, melahirkan imajinasi. Saya membayangkan gadis dan bapak tua itu melewati gerbang sekolah. Di saat yang sama, teman-temannya memasuki gerbang yang sama, diantar orang tua dengan sepeda motor, mobil, dan angkutan daring. Mereka sama-sama datang untuk belajar, hanya kendaraannya yang berbeda.

Tiba-tiba aku teringat anakku, Bening. Aku ingin bertanya kepadanya: jika ia kuantar ke sekolah dengan sepeda seperti itu, bagaimana perasaannya? Apakah ia masih bangga pada bapaknya ini?
Aku mengandaikan mereka benar-benar ayah dan anak. Mereka tidak punya sepeda motor. Si bapak tak punya uang untuk naik angkot. Mereka terhimpit zaman dengan pajak tinggi dan lapangan kerja yang tak ramah.
Namun, mereka punya mimpi. Sang bapak ingin anaknya tetap belajar. Ia membayangkan pendidikan mungkin memberi peluang agar hidup mereka kelak lebih baik. Si anak mencintai keluarganya. Ia menepis rasa malu dan gengsi. Mimpi bapaknya adalah mimpinya juga.
Tentu, bersepeda jauh sambil memboncengkan anak perempuan membutuhkan tenaga lebih. Kaki bisa pegal, lecet, dan letih. Namun, itulah cara cinta seorang bapak diungkapkan. Setiap kayuhan adalah teriakan kepada Tuhan:
“Ya Tuhan, ini anakku. Beri keselamatan kepadanya. Anugerahkan masa depan yang baik. Pertemukan ia dengan jodoh yang mencintai dan membahagiakannya.”
Mereka berdua paham bahwa kerja keras bukan satu-satunya jalan memperbaiki hidup. Sekolah pun tidak selalu menjamin masa depan yang layak, rumah yang nyaman, atau makanan yang selalu tersedia. Tetapi itulah satu-satunya jalan yang mereka miliki. Mereka memelihara mimpi dan terus bekerja keras. Kelak, mereka akan menangis, bukan karena lelah dan lapar, melainkan karena hidup yang berubah menjadi lebih baik.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 169

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.