Aku duduk di ruang tunggu pool travel Sabila Shuttle. Travel ini punya layanan yang istimewa dengan harga terjangkau. Ruang tunggunya ber-AC, disediakan camilan, air mineral, teh, dan kopi. Pengunjung dipersilakan membuat kopi atau teh sendiri. Aku berangkat dari rumah pukul 04.00 dan sampai di travel yang berlokasi di samping Stasiun Poncol pukul 04.30 WIB. Perjalanan dari rumah ke travel relatif lancar. Ada bekas genangan di jalan—semalam ada rob besar. Ada juga hambatan dari anak-anak muda yang bermain trek-trekan sepeda motor dan menghentikan pengguna jalan lain.
Sesampainya di travel aku salat. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sebelum keberangkatan. Aku membuka laptop dan menulis tulisan ini. Waktu sesedikit apa pun tetap berharga dan tidak boleh disia-siakan. Waktu adalah hal paling berharga yang sering diabaikan banyak orang. Waktu adalah yang membedakan siapa pemalas dan siapa yang rajin. Pemalas merasa punya banyak waktu dan tidak punya pekerjaan. Sementara orang yang rajin merasa punya banyak pekerjaan dan memanfaatkan waktu yang sedikit dengan seefektif mungkin.
Hari ini aku akan melakukan perjalanan ke Solo. Ada janji dengan beberapa dosen untuk konsultasi revisi akhir disertasi setelah ujian tertutup dua bulan lalu. Ada banyak tempat yang harus aku datangi, berpindah dari satu gedung ke gedung lain, dari satu kampus ke kampus lain. Aku akan menunggu di masjid sambil membaca buku sampai petang tiba, lalu pulang lagi bertemu denganmu; istri dan anak-anakku.
Pada kesempatan yang sempit ini aku ingin menulis pesan untuk anak-anakku:
Anak-anakku, kelak kamu juga akan melakukan hal begini.
Kamu akan merasakan keasyikan membaca buku, gairah menemukan dan menulis, kesabaran menunggu, dan keceriaan bertemu dengan dosen. Bagi orang yang lemah, kegiatan seperti ini dianggap berat, susah, dan memicu keluhan. “Betapa beratnya hidup ini. Betapa jahatnya dosen.” Tetapi kamu, anak-anakku, tidak begitu—karena kamu bukan pemalas.
Kamu adalah anak yang rajin. Kamu bangun pagi untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Kamu mencari hal yang perlu kamu lakukan. Kamu membuka buku pelajaran untuk mengulang materi. Kamu membaca buku-buku lain. Kamu berlatih bermain musik. Semakin kamu melakukan sesuatu, semakin kamu menemukan hal baru yang perlu kamu pelajari.
Kamu berangkat sekolah dengan gembira. Kamu berteman baik dengan teman-teman sekelasmu. Kamu menyampaikan pendapat kepada guru dengan berani tetapi tetap sopan. Pagi bagi anak rajin adalah anugerah. Ia bersyukur diberi kesempatan memulai hari dengan cahaya matahari yang hangat. Kamu bukan anak yang cepat mencari waktu istirahat. Bagi orang rajin, istirahat pikiran bisa terjadi saat ia bekerja karena ia mencintai apa yang ia kerjakan—sehingga bekerja pun terasa seperti liburan.
Berbeda dengan pemalas. Ia merasa tidak ada yang perlu dilakukan. Ia berpikir dunia sudah berjalan tanpa kehadirannya. Jika ada pekerjaan menghampirinya, si pemalas akan menundanya atau bahkan menghindarinya. Dengan demikian jalan hidupnya akan tertutup karena ia tidak pernah menemukan jalan-jalan baru.
Si pemalas tetap melakukan sesuatu, tetapi sesuatu itu justru untuk menghindari pekerjaan utamanya. Ia membuat alasan dan pembenaran agar tidak merasa bersalah ketika meninggalkan tugas yang seharusnya ia selesaikan.
Lebih parah lagi jika si pemalas memiliki sifat iri dan dengki. Ketika melihat orang lain sukses atau mendapatkan capaian hidup lebih tinggi darinya, ia mencari-cari kesalahan si sukses itu, bahkan menggunjingkannya bersama pemalas-pemalas lainnya.
“Ya wajar saja, dia kan pewaris,” katanya sambil bibirnya naik ke atas.
“Atau, dia itu bukan pintar, cuma pintar menjilat.”
Si pemalas tidak menghargai dan tidak mau melihat perjuangan serta jerih payah orang lain—padahal itu adalah hal yang seharusnya ia jadikan inspirasi.
