Ilmu Pelok

Pagi itu, saat aku memutar kunci motor AstreaGrand yang dibeli dengan sistem kredit pertama pada tahun aku diangkat menjadi guru tahun 1996, aku merasa ada sesuatu yang berubah—bukan di mesinnya, tapi di dalam diriku sendiri, seperti bunyi kecil yang lama kutahan akhirnya menemukan celah untuk terdengar.

Motor ini sudah renta, sudah sakit-sakitan. Banyak komponennya telah diganti. Di banyak bagian, catnya mengelupas dan diserang karat. Meski aku berusaha membuatnya mengilap dengan memberi minyak, tetapi ketuaannya tidak bisa disembunyikan.

Pada masanya, sepeda motor itu adalah sepeda motor jagoan. Jalannya kencang menyalip kendaraan lain. Setiap aku mengendarainya, orang-orang menoleh berdecak kagum. Sekarang sepeda motor itu tidak mampu berjalan. Ketika gasnya dibesarkan, yang keras hanya suaranya sedangkan larinya seperti bebek. Mesinnya bergetar lirih seperti napas orang yang baru selesai berlari jauh. Mungkin sepeda motor ini sudah tidak bisa ditolong. Sudah saatnya istirahat. Sudah saatnya diganti yang lebih muda. Sudah saatnya pensiun seperti diriku.

Pandanganku beralih ke buah mangga yang pohonnya berdiri tepat di depan rumahku. Seluruh kulit buah itu telah menguning. Buah itu tidak lama lagi akan jatuh. Mungkin angin akan menjatuhkannya. Mungkin juga sentuhan burung akan membuatnya mencium tanah, lalu ditemukan anak kecil dan dibawanya pulang. Mungkin nasibnya lebih panjang lagi, dapat sampai malam dan menjadi makanan kelelawar.

Sepasang burung berkejar-kejaran. Sepertinya mereka sedang kasmaran, berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Saat naik, sayap salah satu burung menabrak tangkai mangga yang telah ranum menguning kemerahan itu. Mangga matang itu meluncur cepat dan menghantam tanah, menimbulkan suara buk. Mangga itu melewati daun-daun dulu sebelum menyentuh tanah gembur. Tidak ada luka sedikit pun pada mangga itu. Pada ujung tangkainya, keluar getah berwarna putih. Aku tidak berminat memungutnya. Biarkan itu menjadi kegembiraan anak yang menemukannya. Aku jadi teringat akan nasibku sendiri.

Aku adalah sepeda motor tua yang jalannya telah lambat, yang sebentar lagi akan disisihkan dan diganti tenaga-tenaga muda yang lebih canggih, lebih kuat, dan lebih cerdas. Aku adalah buah mangga masak yang sebentar lagi jatuh karena tangkainya tidak mampu menopang buahnya. Lalu aku akan disantap, menyisakan pelok.

“Setiap masa ada orangnya—setiap orang ada masanya.” Itu adalah pidato kepala sekolah setiap kali di antara kami ada yang pensiun. Dulu kalimat itu terdengar biasa saja. Tidak lama lagi kalimat itu akan aku dengar lagi dengan nuansa yang berbeda karena ditujukan kepadaku. Seperti sepeda motor, seperti mangga masak, seperti baterai—masaku tidak lama lagi selesai dan aku harus rela undur diri, minggir di tepi gudang zaman.

Bagaimana aku nanti? Tidak lagi mengeluarkan sepeda motor setiap pagi. Tidak mendapat sapaan anak-anak. Tidak mengoreksi tugas-tugas mereka. Tidak lagi upacara bendera setiap Senin. Tidak lagi menyemir sepatu. Satu yang paling berat adalah aku tidak akan lagi ikut kumpul-kumpul bersama teman-teman seperjuangan. Teman-temanku, setelah acara pelepasanku, mungkin akan memberi bunga, anak-anak memberi kado dan pelukan, bisa jadi ada pula yang menangis entah tulus atau pura-pura. Tetapi beberapa jam setelah aku melangkahkan kaki dari halaman sekolah, mereka akan biasa lagi. Mereka akan tertawa gembira. Kursi, meja, berkas, dan jejakku akan dimusnahkan di kantor tempat sebagian nyawaku tertaruh.

Lalu nanti aku ngapain? Di rumah sendiri dan sepi. Apa yang dapat aku lakukan selepas pensiun itu? Mau berkebun, badan sudah tidak kuat. Dengan siapakah aku mengobrol nanti? Aku lirik jam tangan—waktu sudah mendekati pukul tujuh. Aku hidupkan sepeda motor dan mengendarainya menuju sekolah melewati pohon-pohon yang daunnya berwarna coklat, melewati tugu patung garuda dari kayu yang rapuh, pasar kumuh, sungai keruh.

Jam istirahat kepala sekolah memanggilku. “Pak Samiun. Karena Bapak sebentar lagi pensiun, tolong tugas-tugas Bapak sebagai bendahara sekolah dialihkan kepada Pak Andhika. Tolong Pak Andhika mulai diajari mekanisme kerja sebagai bendahara agar nanti transisi tidak begitu terasa.”

Gerakan penghabisan terhadapku sudah dimulai. Pembersihan namaku dari dunia sudah dilaksanakan. Aku sudah harus menghadapi kenyataan ini. Aku seperti seseorang yang menunggu eksekutor memisahkan kepala dan tubuhku. Darahku berdesir-desir mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kepala sekolah.

Ini adalah fase hidup. Ada fase hidup senang, ada fase hidup cemas. Kecemasan aku alami dulu saat menunggu SK PNS keluar; kegembiraan saat menikah dan punya anak. Fase cemas datang lagi saat anak-anak menikah; menunggu istri sakit kemudian meninggal; fase gembira lagi saat melihat cucu lahir. Aku telah mengalami berbagai fase hidup dari turun-naik, jatuh-bangun. Apakah ini adalah ujung dari fase tersebut?

Sebuah pagi di bulan Januari. Tiga hari terakhir ini hujan selalu turun, langit selalu gelap, tetapi pagi ini ada sinar mengintip dari celah-celah awan, menyorot pada daun trubus dari pelok mangga. Aku amati terus-menerus tiga daun yang keluar dari pelok itu. Hidup adalah putaran sebagaimana pelok itu—proses daur yang tidak pernah berhenti. Mangga tumbuh, membesar, dan berbuah. Buahnya dinikmati—memberi nikmat, memberi sehat. Pelok, biji mangga itu dibuang, seolah tidak berguna, tetapi dari pelok itu kemudian muncul pohon-pohon baru. Begitulah hidup.

Hari ini hari terakhirku melakukan presensi di sekolah. Setelah itu aku tidak akan lagi berkantor. Tetapi itu bukan akhir segalanya. Masih banyak kegiatan yang dapat aku lakukan. Aku bisa sepenuhnya mengabdikan diri kepada masyarakat melalui kegiatan di masjid, memberi les gratis kepada tetangga. Banyak rencana yang tiba-tiba bermunculan seperti daun pada pelok-pelok itu. Yang terpenting, berguna dan bermanfaat.

Aku gas sepeda motorku melewati pohon-pohon hijau, anak-anak belia bersepeda berangkat sekolah, Pak Pasijo memanggul gabah, Yu Sami menyapaku sambil menjemur padinya dengan senyum. Kenapa dunia seketika seramah itu?

Akhirnya saat itu tiba juga. Peristiwa ini aku hadapi dengan gagah dan rasa syukur. Aku tatap murid-muridku. Setiap satu salaman dengan mereka, aku bisikkan salawat dan doa agar mereka semua sukses. Demikian juga dengan teman-temanku, aku peluk dengan rasa bangga.

“Saya sangat bersyukur melalui fase ini karena tidak semua melaluinya. Banyak teman-teman yang tumbang di perjalanan kariernya karena diabetes, jantung, ginjal. Terima kasih, teman-teman.” Begitu sambutanku di hadapan teman-teman guru.

Setelah semua salam selesai dan ruangan mulai kosong, aku keluar dari aula sekolah dan berdiri di bawah pohon asam. Anak-anak berjalan pulang sambil tertawa, guru-guru muda kembali ke kelas, dan cahaya jatuh di halaman yang sudah bertahun-tahun kutapaki. Aku menyalakan sepeda motor, lalu menuntunnya keluar gerbang; tidak ada yang berubah di sekolah itu, hanya aku yang tidak lagi perlu tinggal di dalamnya. Di jalan desa suara burung dan riuh anak-anak yang bersepeda terasa menenangkan, ketika angin menyentuh wajahku, aku tahu hidupku tidak habis hari ini—hanya bergeser sedikit, seperti jalan yang membelok perlahan tetapi tetap membawa seseorang ke tempat yang baik.

Cerpen ini telah dimuat di Majalah Derap Guru Jawa Tengah edisi Januari 2026

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 172

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.