Purwokerto di penghujung bulan Juni. Saya duduk di teras Hotel Nava bersama teman-teman kantor sambil mengobrolkan kebudayaan Korea dan membandingkannya dengan kebudayaan Indonesia. Salah satu dari kami, Pak Arif Wibisono, baru saja lulus dari Korea. Bulan bundar menggantung di atas hotel. Lalu-lalang lalu lintas di sini tak serapat di Semarang.
“Ada apa saja di Purwokerto?” Saya bertanya kepada sopir taksi yang mengantar kami dari stasiun ke hotel sore tadi. Ia, yang katanya orang Kudus dan sekarang tinggal di Purwokerto, bercerita tentang mendoan: tempe yang dibalut tepung berbumbu khusus, kemudian digoreng. Kekhasannya terletak pada adonan tepung dan kecapnya.
Pukul 21.00 WIB. Nawa, anak saya, menelepon. Katanya, anak ini selalu bertanya tentang bapaknya jika saya sedang tugas di luar rumah dan tidak pulang. Melalui panggilan video, wajahnya tampak selalu tersenyum. Ia bertanya besok pulang jam berapa, membawa oleh-oleh apa, hotelnya bagus atau tidak, dan sekamar dengan siapa.
Tak lama setelah itu, HP saya matikan. Saya minum obat asma sebagai antisipasi, karena jika berada dalam udara dingin atau panas ekstrem, asma saya bisa kambuh. Pak Muhtarom tampaknya masih bekerja. Ia juga mau menonton Piala Dunia. Saya sendiri tidak begitu peduli dengan Piala Dunia tahun ini.
Tentang mendoan yang diceritakan oleh pak sopir taksi, baru bisa saya nikmati keesokan paginya (30 Juni). Saya bertanya kepada petugas hotel, “Di mana kami dapat merasakan tempe dibalut tepung itu?”
Kami harus berjalan cukup jauh hingga mendapatkan mendoan tersebut. Kami berempat duduk dan menunggu mendoan dikeluarkan dari bungkus daun pisang, dibalur tepung, lalu dimasukkan ke dalam minyak panas. Mendoan itu diangkat dari wajan dan langsung dihidangkan kepada kami.
Pukul 06.30 WIB. Jalan masih sepi dan matahari belum memancar terik. “Kalau di Semarang, jam segini jalannya sudah padat, matahari juga sudah mletek,” bisik saya dalam hati. Kami menunggu waktu dengan rebahan di dalam kamar. Acara baru dimulai pukul 07.30 nanti.

