Pagi tadi aku bertemu Ibu. Di antara dua agenda pekerjaan di Mranggen, ada sedikit waktu luang yang kugunakan untuk mampir ke rumah orang tuaku di Karangawen.
Saat aku memasuki halaman rumah, Ibu sedang duduk menghadap ke utara menunggu cucunya pulang sekolah. Beliau tampak cantik sekali mengenakan kerudung merah.
“Kok rapi sekali, Bu?” sapaku.
“Iya, kan banyak orang lalu-lalang,” jawabnya.
Dari ucapan sederhana itu, Ibu seolah mengajarkan bahwa selama berada di luar rumah atau terlihat orang lain, berpenampilanlah serapi dan sebaik mungkin.
Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku mencium tangannya. Beliau kemudian mencium pipi kiri dan kananku. Hari itu aku tidak melihat Bapak di rumah, mungkin sedang ada keperluan di luar.
Sebenarnya, kemarin sore hingga malam aku baru saja dari rumah ini bersama anak dan istriku. Beberapa hari terakhir aku memang sering bolak-balik ke rumah orang tua. Ibu masih dalam masa pemulihan setelah operasi usus buntu tiga pekan lalu. Proses pemulihannya membutuhkan waktu lebih lama karena beliau mengidap diabetes, sehingga luka bekas operasinya agak lambat mengering.
Hari ini wajah Ibu terlihat jauh lebih cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Beliau sudah bisa berjalan meski belum jauh, dan bicaranya pun sudah lebih banyak.
Namun, untuk saat ini aku belum bisa menikmati masakannya lagi. Dulu, setiap kali berkunjung, meja makan adalah tujuan pertamaku karena masakan Ibu selalu merindukan. Kini beliau belum bisa memasak. Semoga suatu saat nanti, Ibu berkesempatan memegang pisau dapurnya kembali.
Satu jam di rumah itu kuhabiskan untuk mengobrol dengan Ibu sambil membuka laptop untuk mengecek pekerjaan. Ketika tiba waktunya melanjutkan perjalanan, aku berpamitan. Aku sungkem, lalu Ibu mencium pipi kiri dan kananku seraya berpesan, “Hati-hati. Kalau menyeberang, tengok kiri dan kanan.”
“Nggih,” jawabku.
Semoga bisa segera bertemu Ibu lagi.

