Pada beranda akun Instagram saya, tiba-tiba banyak bermunculan konten tentang ngegym. Mulai dari cara angkat beban yang benar, rentang waktu latihan, hingga jenis gerakannya. Para dokter dan influencer mendadak kompak menyarankan kita untuk angkat beban. Katanya, angkat beban dapat mengurangi risiko serangan jantung dan diabetes. Saat kita menginjak usia senja, massa otot akan menipis, sehingga latihan beban menjadi krusial. Kaki menopang seluruh tubuh kita, dan otot kaki adalah salah satu yang terbesar, sehingga wajib dilatih. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Setiap saat, tanpa sengaja saya “diceramahi” oleh para dokter dan pendakwah kesehatan di media sosial. Keinginan untuk angkat beban mulai muncul, meski niat untuk benar-benar mengeksekusinya belum mantap. Saya pun mulai mengobrol dengan teman-teman yang sudah lebih dulu memulai—mereka yang story WhatsApp-nya sering menampilkan kegiatan angkat beban. Saya juga bertanya pada keponakan yang sudah lama menekuninya.
Padahal, sejak hampir dua tahun terakhir saya sebenarnya sudah rutin berolahraga jalan kaki. Hampir setiap hari saya menyempatkan diri berjalan kaki sekitar 30–60 menit. Kegiatan sederhana itu berdampak sangat besar bagi kesehatan saya: tubuh terasa lebih bugar dan tidak mudah meriang. Saya sampai menyesal, kenapa kegiatan semenyegarkan ini tidak saya lakukan sejak dulu.
Namun, niat untuk melangkah ke olahraga angkat beban ini masih timbul tenggelam. Apakah cukup angkat beban di rumah dengan mengumpulkan alat seadanya, atau perlu pergi ke gym center? Saya sebenarnya bisa saja melihat tutorial di YouTube. Alasan utama saya ingin angkat beban pun sederhana: saya hanya ingin bugar. Betapa tidak enaknya kalau sedang sakit. Apalagi Ibu saya mengidap diabetes, dan Om saya beberapa bulan lalu meninggal dunia karena serangan jantung.
Mengingat itu semua, rasanya ada ironi dalam kehidupan modern kita hari ini. Dulu, orang tua dan nenek moyang kita bergerak karena tuntutan hidup—mencangkul, berjalan jauh ke pasar, atau menimba air. Gerak tubuh adalah bagian alami dari bertahan hidup. Masa kecil saya pun dulu diisi dengan banyak bergerak di sawah. Namun sekarang, ketika semua serba mudah dan pekerjaan menuntut saya lebih banyak duduk, kita justru harus membayar dan menyediakan waktu khusus hanya untuk bergerak. Kita harus merekayasa rasa lelah agar tubuh tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Maka dari itu, saya harus berolahraga. Mati memang urusan Tuhan, tetapi sehat adalah ikhtiar kita.
Dan inilah permulaannya. Di kampus tempat saya bekerja (UPGRIS), ada gym center yang cukup lengkap. Setiap Rabu sore, saya dan teman-teman satu fakultas biasa bermain bulu tangkis. Nah, gym center itu persis berada di samping lapangan bulu tangkis. Sembari menunggu teman-teman lain datang, saya iseng mampir ke situ dan mencoba-coba beberapa alat. Kok menarik, ya?
Keesokan harinya, saya langsung berangkat ke Gym Center Mitra di Demak yang letaknya tak jauh dari rumah. Waktu itu suasana sedang sepi karena masih siang. Tanpa ragu, saya langsung mendaftar paket langganan satu bulan. Mas Tyo, coach di sana, dengan sabar mengajari saya cara menggunakan alat serta menentukan hitungan repetisinya.
Akhirnya, di setiap ada waktu luang, saya sempatkan untuk pergi ke gym. Di sana, dinamikanya beragam dan menarik. Kadang saya bertemu dengan anak-anak usia SMP yang badannya masih kurus dan ingin membesarkan otot. Kalau saya datang pagi, saya sering bertemu dengan pasangan lansia yang katanya justru ketagihan ke gym.
Lantas, apa hasil dari rutin ke gym ini? Badan terasa sungguh bugar! Saya tak lagi mengalami pegal-pegal yang biasanya hinggap usai pulang kerja, dan setiap hari tubuh saya giat mengeluarkan keringat.
Hampir satu bulan saya menjalani rutinitas baru ini. Suatu sore, saya mengunggah kegiatan ngegym tersebut di story WhatsApp. Beragam tanggapan dari teman-teman pun berdatangan. Ada yang mengira saya ingin punya otot besar, ada pula yang menganggap saya sedang bersolek membentuk tubuh atletis. Seorang teman yang bekerja sebagai petani bahkan berkomentar, “Kancani Kang, macul. Angkat beban terus.” (Temani Kang, mencangkul. Angkat beban terus).
Mencangkul tentu saja beda cerita. Saya jelas tidak akan kuat. Mencangkul adalah pekerjaan fisik berjam-jam yang justru bisa bikin tubuh stres jika tidak terukur. Sementara angkat beban di gym hanya memakan waktu 30–60 menit, diimbangi istirahat yang cukup dan asupan gizi yang teratur hingga kebugaran tercapai.
Lagi-lagi, seusai sesi latihan, terlintas di pikiran saya: Mengapa gaya hidup sesehat ini tidak saya jalani sejak dulu?

