Menjaga Amanah

Seorang anak diantar oleh bapaknya ke sekolah. Si anak meminta berhenti agak jauh dari halaman sekolah. Kamu tahu alasannya? Si anak malu jika dilihat oleh teman-temannya. Ia malu dengan bapaknya yang pakaiannya tidak bagus, ia juga malu karena diantar menggunakan motor yang buruk.

Cerita itu diceritakan oleh Habib Anis Sholeh Ba’asyin di sebuah forum yang dihadiri masyarakat desa di daerah Rembang. Cerita ini menurut pengakuan beliau membuat beliau berlinang air mata. Bib Anis mengajak untuk meningkatkan kepercayaan diri. Mengapa malu diantar menggunakan motor dan baju jelek jika itu milik sendiri? Terus bangga diantar menggunakan mobil tapi hasil korupsi? Apa jadinya Indonesia kedepan jika generasinya seperti itu?

Menurutnya jika kita percaya diri maka kita akan dihargai orang. Ia memberi contoh, musik Sampak Gusuran mendapatkan penghargaan internasional karena percaya diri mengembangkan musik sesuai potensinya. “Mereka itu orang biasa seperti panjenengan. Tidak begitu paham musik. Saya hanya bilang kepada mereka, kembangkan musik yang berbeda dengan yang dikembangkan di Barat.”

Contoh lagi, ada sebuah peristriwa pertemuan filosuf-filosuf dunia diselenggarakan di inggris. Semua peserta datang mengunakan jas rapi. Ada satu filofuf dari India datang mengenakan baju adat. Ia kemudian mendapatkan perhatian lebih oleh peserta lain ada apa yang disampaikannya diperhitungkan.

Percaya dirilah karena apa yang sekarang ada diri kita adalah yang diamanahkan Tuhan kepada kita. Jika punyanya motor, baju yang menurutmu buruk itu jagalah, rawatlah yang diamanatkan Allah itu dengan sepenuh hati. Kita harus bangga, harus bersyukur. Jika melihat ini sebagai amanah maka kita tidak akan melihat sesuatu lebih rendah dibanding dengan yang lain.

Termasuk tanah, tumbuhan, dan alam Indonesia adalah amanah yang patut kita syukuri. Seorang rektor Al Azhar waktu datang ke Indonesia atas undangan Bung Karno mengatakan Bumi Indonesia adalah potongan surga. Ini yang menginspirasi Koes Ploes menggubah lagu berjudul “Kolam Susu.” Cara mensyukuri tanah, alam kita adalah dengan mengolahnya sedemikian rupa hingga membuahkan hasil yang optimal.

Percaya diri adalah konsentrasi mengembangkan apa yang kita meiliki tidak gumunan dan menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain. Dengan percaya diri kita akan menjadi bangsa yang maju dan kemajuannya melebihi yang pernah dicapai oleh Majapahit di masa lalu. (Muhajir Arrosyid).

0Shares
Muhajir Arrosyid

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas