BRANDING DAN TATAPAN MATA ALLAH

Saya ditanya keponakan saya, “Apa itu branding?”

Kemudian saya menjawab sebisa saya, branding adalah sebuah cara untuk membesarkan brand. Brand itu merek sebuah produk. Tujuan branding adalah agar sebuah produk dipercaya, digunakan, dan dibeli oleh masyarakat. Upaya-upaya yang dilakukan untuk membangun brand adalah melakukan komunikasi dengan konsumen baik melalui media visual, audio, maupun audio visual.

Pola-pola komunikasi itu menyesuaikan zamannya bergantung dengan perkembangan teknologi informasi. Saat ini brand banyak dilakukan menggunakan sosial media karena orang banyak mengunakan sosial media. Cara sosialisasinya juga mempertimbangkan jenis manusia seperti apa yang akan dirayu.

“Terus apa itu personal branding?” kejar keponakan saya. Personal branding adalah sebuah upaya menjual diri. Maksudnya gini, sebuah upaya untuk membangun citra diri agar seorang indifidu dikenal baik oleh lingkungannya. Tujuan selanjutnya adalah jasanya banyak digunakan oleh orang di sekitarnya.

Gampangnya begini, kita ingin dikenal seperti apa oleh lingkungan kita. Kalau kita politisi maka citra ini menjadi sangat penting karena nantinya citra baik ini akan dapat digunakan sebagai modal untuk dirinya maju ke pencalonan kepala daerah, misalnya. Kalau ia pedagang maka dagangannya akan laku, dan lain sebagainya.

Tidak cukup menjadi orang baik, kebaikan itu harus dikenal oleh orang luas. Kalau kebaikan tetapi tidak dikenal oleh orang banyak maka kebaikan itu tidak dapat menjadi modal bagi dirinya. Jika kebaikan itu tidak terakumulasi maka kebaikan itu akan sia-sia.

Maka kebaikan itu harus difoto, disebar-sebarkan di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan lain-lain.

Kemudian keponakanku tanya lagi, “Berarti Kas Hajir sedang melakukan pencitraan juga ya, itu buat wabsate, eksis di media sosial.”

Menarik ini bab citra dan pencitraan. Membangun citra itu harus selembut mungkin, jangan sampai orang tahu kalau kamu sedang membangun citra. Kalau orang tahu atau mencurigai kamu sedang membangun citra maka kamu dituduh pencitraan. Pencitraan itu sekarang artinya sudah mirip dengan pembohongan. Setidaknya artinya seperti ada udang dibalik batu, melakukan kebaikan karena ada maksud tertentu.

Orang melakukan pencitraan itu melelahkan, personal branding, kita ingin dikenal seperti apa oleh orang di sekeliling kita. Karena kita beriman akan adanya Allah maka seharusnya yang menjadi pertimbangan kita ya Allah semata. Kira-kita bagaimana menurut Allah jika kita melakukan ini. Segala tindakan itu atas pertimbangan, Allah melihat kita atau kita melihat Allah. Allah tidak butuh foto dan media sosial untuk melihat perbuatan kita.

Saya pernah dinasihati oleh seseorang dan saya menyetujuinya, “Akrablah dengan kebaikan sebagaimana dalam lagu tobo ati, berdekat dengan orang saleh, mengaji, dan lain-lain. Intensitas atau kesuntukan kita terhadap perbuatan baik itu akan menyatu dengan diri kita secara otomatis dan akan terpancar menjadi citra kita.

“Jadi Kang Hajir tidak pencitraan? Lha itu eksis di media sosial?” tanya keponakan saya.

“Embuh cah.” Tak tinggal lungo.

52Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 53

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas