Pagi Yang Terlambat Datang

Pernahkah kamu merasakan malam yang teramat panjang dan melelahkan? Saat itu kita merasakan pagi tidak lekas datang. Kita tengok ke timur berkali-kali matahari seperti tak terbit lagi. Kita sudah berusaha memejamkan mata tetapi tubuh tidak tumbang juga. Klibatan-klibatan peristiwa sebagai kenangan maupun sebagai impian silih berganti.

Pada keadaan seperti itu kita memiliki beberapa pilihan, menenggak obat tidur, pergi ke luar rumah, wiridan, baca buku, atau main hp buka-buka media sosial dan curhat di sana.

Di masa kecilku aku sering mengalami pagi yang terlambat datang. Dulu di kampungku listrik belum menyala. Saat matahari rudup orang-orang menyalakan lampu dengan bahan bakar miyak tanah. Anak-anak kampung mulai datang ke masjid dan langgar untuk salat magrib kemudian mengaji. Di langgar dan masjid pulalah mereka bisanya tidur.

Sebab pagi terlambat datang macam-macam. Bisa karena tidak membawa obat nyamuk, atau membawa obat nyamuk tetapi tidak membawa korek api untuk membakarnya.

Aku tidur di langgar mulai kelas empat sekolah dasar. Tidur di sana temannya tidak pasti, kadang banyak kadang sedikit dan kadang tidak ada. Anak yang sedang sakit bisanya tidur di rumah. Suatu malam aku pernah tidur sendiri di langgar karena ternyata teman-teman sudah berangkat nonton dangdut di desa sebelah. Malam itu bagi benar-benar terlambat datang. Mata ketap-ketip, suara jangkrik terdengar. Sebab malam begitu panjang bukan hanya masalah nyamuk, kadang-kadang karena stress. Anak-anak stress?

Ya di waktu kecil aku sering mengalami stress, sebabnya sepertinya karena aku bukan jenis manusia cerdas yang mampu mengikuti pelajaran dengan mudah. Dalam sehari aku belajar di tiga tempat, padi belajar di Sekolah Dasar, sore belajar di madrasah, dan malam belajar mengaji di rumah. Kebetulan bapakku guru ngaji.

Aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Pagi sebelum berangkat sekolah, Bapakku mengajariku membaca. Sampai kelas empat aku belum lancar membaca. Karena jengkel aku tak lekas bisa aku sering terkena bentak. Mungkin bukan membentak tetapi suara dengan nada keras. Begitu pula menghafal bacaan salat atau ayat-ayat pendek aku juga sering kena bentak.

Pagi hari berangkat sekolah. Aku juga tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Saat disuruh menulis meniru guru di papan tulis aku sering terlambat. Apalagi pelajaran menghitung, wah parah sekali. Pelajaran yang aku anggap aku kuasai adalah kesenian. Aku percaya bahwa gambarku bagus. Tapi ternyata aku Cuma GR, karena setelah aku kumpulkan nilaiku tidak lebih dari enam. Nilai-nilai itu menghukumku dan mengucilkanku. Aku merasa kecil dan bodoh. Apalagi jika lupa tidak mengerjakan PR aku mendapat hukuman seperti berdiri di depan kelas hingga lari mengelilingi lapangan.

Silih berganti peristiwa di sekolah, wajah para guru, hafalan di madrasah yang belum kunjung hafal membuat aku stress dan sulit tidur. Aku sudah berusaha menghafal nandom tajwid dan tahuhid, atau sorof tetapi tuga tidak kunjung mampu menguasai. Sekolah tidak ramah bagi manusia-manusia ber IQ rendah sepertiku. Sekolah hanya menjadi bencana, teror dan malam menjadi malam jahanam.

Pada kondisi seperti ini seharusnya orangtua hadir menjadi teman, menguatkan anak, memberi jalan keluar agar stress anak terkuruangi. Tetapi seperti kita tahu, orangtua zaman dulu tidak seperti orangtua zaman sekarang, komunikasi antara orangtua dan anak tidak bisa lancar. Ekspresi cintanya tidak ditampakkan dengan senyuman tetapi dengan sikap garang dan kedisiplinan.

Kondisi seperti ini membuat aku terbiasa menjadi manusia kalah dan ternyata ada dampak positifnya. Aku tidak mudah stress lagi kalau mengalami kegagalan. Suatu ketika saat kuliah strata satu aku mendapati temanku menangis di tepi jalan. Aku dekati dia, aku tanya kenapa. Ternyata nilainya ada yang D. Aku menghiburnya, tidak apa-apa nilai D bisa remidi, aku tunjukkan nilaiku yang lebih parah, di sana terdapat nilai E. Dia tersenyum Alhamdulillah.

Setiap orang memiliki stresnya masing-masing dengan segala sebab yang hanya mereka yang tahu. Tapi sekarang aku cenderung jarang stress apalagi dengan tingkat kemumetan tertinggi. Kata Via Valen, “kuat dilakoni ora kuat ditinggal ngopi”. Aku Muhajir Arrosyid, salam ngawur.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 119

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.