AHMAD TOHARI: Dari Kakek yang Suka Wayang Kepengarangan Saya Bermula

Pak Ahmad Tohari menyampaikan bahwa ia mengisi acara di Purwakarta pukul 13 nanti (18/1). Kami segera bergegas dan berkemas. Kami menawari agar ke Purwakarta kami antar saja, Alhamdulillah beliau setuju. Kami memiliki kesempatan ngobrol lebih lama. Di dalam mobil beliau bercerita tentang masa kecilnya dan perjalanannya meniti karier kepengarangan. Sejak SMP dan SMA Ahmad Tohari tinggal di Purwokerto. Ia kos di sana. Seminggu sekali dia pulang ke Banyumas menggunakan sepeda ditempuh selama tiga jam. Dari Banyumas ke Purwakerta ada angkot dan sehari hanya jalan sekali. Memiliki sepeda pada waktu itu adalah hal yang mewah, tak banyak anak yang memiliki. “Bapakku sampai menjual gabah berton-ton untuk sepeda itu.”

Kami melewati sawah-sawah yang menghampar, hutan dan gunung yang rimbun. Aku bilang, “Tapi pohon kepalanya sudah tidak setinggi seperti diceritakan dalam novel Bekisar Merah ya Pak?” Beliau tertawa berderai-derai.

Begini deskripsi sawah dan gunung dalam Bekisar Merah: Dari balik tirai hujan sore hari pohon-pohon kelapa di sebrang lembah itu seperti perawan mandi basah; segar, penuh gairah, dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung.

Ahmad Tohari menerangkan “Memang sudah banyak berubah. Itu sawah yang indah mungkin tidak lama lagi juga akan hilang. Pertumbuhan penduduk membutuhkan tempat tinggal, pangan, industr, dll.”

Kami mengajukan pertanyaan. “Pak Ahmad Tohari lahir di sebuah desa, pelosok lagi, kok bisa memiliki ketertarikan dengan dunia tulis menulis?”

“Saya beruntung punya kakek yang senang wayang. Sesekali saya juga diajak nonton wayang. Saya juga banyak mendapat cerita dari kakek saya sedari kecil. Cerita-cerita itu menjejali otak saya sehingga ketika saya bertemu jenis cerita yang lain yaitu komik saat SMP dan novel saat SMA maka benih dari kakek ini tumbuh.”

Saat SMP saya sering ke perpus, membaca komik-komik, kebiasaan itu berlanjut saat SMA. Seorang guru melihat kegemaran membaca Ahmad Tohari dan menyryhnya datang ke rumah dan meminjami buku-buku. Saat bekerja menjadi wartawan di Jakarta, ia bertemu dengan mesin ketik. Dari sinilah novel pertamanya yang fenomenal lahir, “Ronggeng Dukuh Paruk” dan disusul karya-karya berikutnya.

Ahmad Tohari juga masih ingat salah satu cerita dari kakeknya, tentang Arjuna dan Bonowati. Ahmad Tohari mengisahkan kisah dari kakeknya itu “Arujuna ini memang lelaki sialan.” Tak Ahmad Tohari dengan wajah cerah dan bibir tersenyum. “Bonowati, istri orang dirayu juga. Saat berkasih-kasihan mereka tertangkap basah. Arjuna ditangkap dan dihajar hingga pinsan. Si Bonowati kasihan melihat Arjunanya jatuh tersungkur. Bonowati mendekat dan menyentuh lengan Arjuna. Mendapat sentuhan dari Bonowati, secara tiba-tiba Arjuna bangkit.” Ahmad Tohari mengakhiri ceritanya dengan berderai tawa.

Saya mengajukan pertanyaan lagi. “Deskripsi Pak Ahmad Tohari teradap setting dalam karya-karyanya sangat kuat sekali, mengapa bisa begitu?”

“Begini, waktu saya kecil saya di pesantren. Di pesantren mengajarkan ilmu mantiq yang mengajarkan kelengkapan ketika seseorang menjelaskan. Ilmu mantiq ini sangat berpengaruh dalam kepengarangan saya. Deskripsi harus jelas, beralasan, dan masuk akal.”

Hal yang membuat saya penasaran adalah tentang pelacuran. Banyak cerita Ahmad Tohari tentang pelacuran, dari mana dia mendapat bahan di kampung yang sepi begini, apalagi puluhan tahun yang lalu. “Tentang pelacuran, dalam cerpen-cerpen Pak Ahmad Tohari cukup banyak pengkisahan tentang pelacuran, dari aman cerita-cerita itu bermula?”

“Dari kecil saya bersinggungan dengan pelacuran. Saya tahu rumah-rumah dan orang-orang yang terlibat pelacuran. Waktu itu masih longgar tidak seperti sekarang yang ketat. Sejak kecil saya sudah memiliki bakat sebagai analis sosial. saya selidiki permasalahannya, apa yang menyebabkannya, nasibnya, dan lain-lain. Ketika saya menulis tentang pelacur banyak orang bertanya, termasuk oleh para Kiai. Saya jelaskan, semua yang di muka bumi ini adalah ciptaan Allah, termasuk pelacur.”

14Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 53

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas