Balada manusia Jawa yang ditinggalkan

Sinambi menulis, sering aku ditemani oleh lagu bosanova Jawa. Lagu-lagu itu mengalun lembut dengan ketukan lambat dan pukulan-pukulan perkusi pelan, piano berkelindan dengan gitar dan dipuncaki dengan terompet panjang melengking-lengking. Lagu-lagu itu semacam tangisan, rintihan seseorang yang ditinggalkan.

“Udan deres wayahe wis wengi njur kelingan lungamu dek wingi. Opo wis dadi garise pesti kowe bakal cidro janji?” Kalimat dalam tanda kutip di atas adalah penggalan lirik lagu berjudul ‘Tangise Ati”. Menceritakan tentang seseorang yang ditinggal pergi oleh pasanganya. Ia menunggu meskipun akhirnya pasrah dan rela. Jika kamu tidak paham bahasa Jawa, begini jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia: Hujan deras petang mulai datang, teriangat kepergianmu kemarin. Apa sudah menjadi garis takdir, kamu akan ingkar janji?

Demikian juga dengan lagu ‘Terminal Tirtonadi’. Lagu ini dimulai dengan seseorang yang mengantar kekasihnya di terminal. Kekasihnya itu berjanji hanya akan pergi selama satu bulan, meskipun pada akhirnya sampai bertahun-tahun. Lagu ini menggambarkan penderitaan seorang pencinta, menunggu dengan sabar menahan rindu yang menahun. “Wis sue kangen sing tak rasakke.” Sudah lama rindu yang aku rasakan.

Lagu tentang menunggu, ditinggalkan, dan kangen muncul lagi dalam lagu berjudul ‘Janjimu’. “Trisno kang sejati, janjimu tak anti. Kangene atiku balimu tak tunggu.” Cinta yang sejati janjimu kutunggu, kerinduanku kepulanganmu kutunggu.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa banyak lagu Jawa dengan tema ditinggalkan, menunggu, dikhianati? Apakah demikian gambaran manusia Jawa? Kemudian aku ingat sekeliling, tetangga, sanak saudara yang merantau. Merantau tidak hanya di ibu kota Jakarta tetapi sampai ke luar negeri dengan jarak waktu puluhan tahun. Seorang anak bahkan belum pernah melihat ibunya karena ditinggal pergi oleh ibunya bekerja di luar negeri sejak kecil dan tidak pernah kembali. Anak itu sekarang sudah lulus kuliah dan menjadi penyanyi dangdut. “Aku ingin menyanyi, kata anak itu, aku ingin ibu melihat anaknya.” Kata anak itu. Kata anak itu, ia menyanyi dangdut karena sering mendengar bapaknya memutar lagu dangdut. Lagu itu didendangkan bapaknya sebagai ungkapan rindu.

Ada sisi lain manusia Jawa ditinggalkan. Ia selalu ditinggalkan oleh pemimpinnya. Pada saat kampenye pemilu, ia disanjung seperti raja, diakrabi, didatangi, dikirimi uang dan sembakau. Tetapi ketika si pemimpin itu jadi manusia Jawa ini ditinggalkan, ia dilupakan. Pemimpin itu kemudian berlagak seperti raja, minta dihormati dan menjadikan rakyatnya sebagai jongos. Kita dibujuk, dirayu, dan disuap untuk dijadikan jongos. Ini saat mendekati musim janji, setelah cita-cita terpenuhi kembali kita menyanyikan lagu tentang patah hati, pengkhianatan, ditinggalkan tanpa pesan. Selamat berjanji dan selamat menikmati penderitaan.

61Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 53

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas