BENTUK EFEKTIVITAS YANG DIPERMASALAHKAN

 

J.S. Badudu (Intisari September 89)

 

Pada suatu ketika, pada awal masa kemerdekaan RI, orang mempermasalahkan bentuk-bentuk seperti fakultet, fakulteit, fakultit, fakulti. Yang dipertanyakan ialah mana bentuk yang betul di antara keempat bentuk itu, atau, bentuk manakah yang harus dianggap bentuk baku dalam bahasa Indonesia?

Dalam bahasa Indonesia, banyak sekali kita gunakan kata-kata yang kita serap dari bahasa Belanda yang tidak kita carikan padanannya dalam bahasa kita, tetapi hanya kita ubah ejaannya. Ejaan kita sesuaikan dengan ejaan kita, juga dengan memperhatikan lafal sesaui dengan lafal bunyi-bunyi bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Belanda, ada kata universiteit, faculteit, activiteit, dsb. Semunya berakhir dengan –teit. Dalam bahasa Inggris, kata-kata itu berakhir dengan –ty: university, faculty, activity. Pada masa awal kemerdekaan itu, dominasi bahasa Belanda masih besar. Oleh karena itu, kata-kata asing tadi yang kita serap mengacu bentuknya kepada bahasa Belanda. Kalau kita menyerapnya agak dekat kepada bunyi bahasa asalnya, kita akan menjadikan kata-kata itu: universiteit, fakulteit, aktviteit. Namun karena dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tidak ada bunyi –ei- maka bunyi akhir kata-kata itu diubah orang menjadi –tet dan sebagian orang menjadikannya –tit sehingga timbullah bentuk lain yaitu fakultet dan fakultit, serta univeritet dan universitit. Orang yang menguasai bahasa Belanda mempertahankan bentuk universiteit dan fakulteit. Kata activiteit dibentuk lain lagi yaitu dijadikan aktivita seperti juga kata lain realita dan otorita. Jadi dengan bunyi –ta dengan pengertian yang sama itu.

Seorang guru besar yang berpengaruh ketika itu mengusulkan agar bentuk itu sebaiknya mengacu kepada bentuk asal kata itu yaitu bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, bunyi akhirannya –tas: facultas, universitas. Usul itu diterima, lalu jadilah bentuk-bentuk itu seperti itu dituliskan dengan akhir –tas: fakultas, universitas, aktifitas, realitas. Bentuk-bentuk lain yang dalam bahasa Belandanya berakhir dengan –teit harus dijadikan –tas dan bukan tet, teit, -tit, atau ta seperti yang sudah-sudah.

Kita kembali kepada kata yang dipermasalahkan yaitu kata efektifitas. Sdr. Anton Moeliono dalam siaran TVRI mengatakan bentuk itu salah dan sebaiknya tidak dipakai, karena dalam bahasa Inggris tidak terdapat kata affectivity. Namun, harus ada pertimbangan lain yaitu benarkah kata aktivitas masuk lebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa bahasa Inggris effectivity? Tidakkah kata itu telah lama masuk atau diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda? Dalam kamus bahasa Belanda (Kramers’ Nederlands Woordenboek, cet. Ke-19 th.1979 hlm. 229)  ada entri effectiviteit. Beranalogi kepada bentuk lain seperti yang sudah disebutkan di depan tulisan ini, maka kata itu dapat kita Indonesiakan menjadi efektivitas.

Kita tentu tidak bisa menghilangkan begitu saja kata-kata yang berasal dari bahasa Belanda yang sekian banyaknya ada dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu sudah melembaga, sudah menjadi kata bahasa Indonesia, sehingga kehadirannya tidak mudah disingkirkan begitu saja.

Diusulkan pula supaya digunakan bentuk padanannya dalam bahasa Indonesia sangkil (istilah baru) di samping padanan yang sudah ada keefektifan, keberhasilgunaan (terlalu panjang), kesangkilan (yang masih harus dipopulerkan lagi). Semua itu bergantung kepada pemakai bahasa itu sendiri.

Menghilangkan sesuatu yang sudah berakar dan melembaga dalam pemakaian bahasa suatu pekerjaan atau usaha yang tidak mudah. Pertama, menghilangkan kebiasaan yaitu sesuatu yang sudah terbiasa tidak mudah; tentu dapat bila ada kesungguhan dan kehati-hatian dalam berbahasa. Kedua, tidak semua orang segera mengetahui bahwa telah ada perubahan sehingga bentuk yang lama seharusnya tidak digunakan lagi. Ketiga, yang harus diingat ialah peranan analogi dalam bahasa sangat menentukan penggunaan bahasa. Yang sebaik-baiknya ialah menggunakan bentuk-bentuk yang sesaui dengan kaidah bahasa Indonesia asli sehingga tidak perlu lagi kita persoalkan apakah bentuk efektivitas akan kita pakai atau tidak. Kita menggunakan bentuk dasarnya efektif, lalu kata-kata bentukannya mengefektifkan (effectueren, Bel.), diefektifkan (geeffectueerd) pengefektifan, seefektif-efektifnya, terefektif, keefektifan, seefektif mungkin. Dengan demikian, kita hanya menyerap satu bentuk yaitu bentuk dasarnya efektif, lalu bentuk dasar ini kita bentuk dengan memberi imbuhan sesaui dengan makna yang kita perlukan.

Contoh pemakaiannya:

  1. Cara kerja semacam itu sangat efektif
  2. Mengefektifkan cara kerja perlu dipikirkan agar hasil yang diperoleh bisa meningkat.
  3. Cara kerja kita perlu diefektifkan lagi.
  4. Cara kerja haruslah ditingkatkan sampai seefektif-efektifnya (=seefektif mungkin)
  5. Cara kerja menurut metode inilah yang terefektif.
  6. Pengefektifan cara kerja memang sudah kami pikirkan.

 

16Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.