Menolak menjadi Supporter

Dalam pengantar sebuah buku karya saya, guru saya, Ramatyan Sarjono menyatakan menolak menjadi supporter. Kita harus bermain sendiri di lapangan sendiri, meskipun lapangan itu kecil, sepi hanya ditonton oleh teman sendiri, katanya.

Sebelum obrolan kita lanjutkan kita kembali ke sang Empu kata-kata itu dulu. Beliau adalah Ramatyan Sarjono. Dulu beliau adalah penggerak kesenian di Demak, sebelum beliau pindah ke Jepara. Murid-muridnya sekarang menyebar ke segala penjuru. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan seni di pusat-pusat kebudayaan, Ramatyan Sarjono tidak berkecil hati merawat kota sendiri. Ia sering mengadakan acara-acara seni di kota kecilnya Demak. Kadang di gedung pramuka, di halaman salah satu SMA, di panti asuhan, hingga muter alun-alun Demak. Jejak yang ia tinggalkan banyak, ada buku kumpulan puisi, ada acara-acara yang hanya berlangsung pertama dan terakhir kali-Festival Kesenian Demak.

Aku masih di Semarang saat beliau berkiprah di Demak. Saat aku mendekat dan tinggal di Demak, beliau malah pergi ke Jepara. Sepertinya memang beliau menghindariku. Jika tidak salah, pertemuanku dengannya pertama kali di sebuah pentas yang diselenggarakan di sebuah panti asuhan di Kota Demak. Aku ikut rombongan teater merah, Zoex Zabidi sebagai penata panggung, serombonganku yaitu Nita, Elly, Hery SGR, dan Ari Bubut. Teater merah mementaskan Aeng matahari terakhir, karya Putu Wijaya  dan Atas Nama Cinta adaptasi cerpen dari Seno Gumira Ajidarma.

Selanjutnya kami berteman karib, sampai hari ini. Dulu, jika aku ke Demak aku menginap di rumahnya atau tidur di sembarang tempat ala seniman. He he he. Saat di Jepara, aku juga pernah tidur di rumahnya, bersama keluarga. Dua kali aku meminta beliau mengantari bukuku. Kata-kata itu (jangan hanya jadi supporter) diucapkannya di pengantar buku pertamaku yang dicetak alakadarnya. Covernya disablon karena dulu aku tukang sablon.

Tiba-tiba pada gelaran piala dunia kali ini aku ingat lagi kata-kata yang telah tertulis hampir sepuluh tahun yang lalu itu. Tidak layaklah jika kita menjadi supporter, menjadi penonton dari permainan kesenian di kota-kota besar. Kita bertepuk tangan, ikut senang, ikut sedih. Kita mesti menikmati permainan kita sendiri. Karena kesenian bukan hanya tontonan tapi penghayatan. Menyungsum dalam hidup.

Mengapa guru berkesenian saya itu mengajak untuk menolak menjadi supporter? Melihat piala dunia kemarin, watak supporter hanya menyanjung saat menang dan mencela saat kalah. Para supporter amatir itu tidak mencintai sepenuh hati. Atau mungkin penolakan menjadi supporter maksudnya adalah ajakan untuk tidak sekedar menonton, mengomentari, tetapi ikut terlibat bermain.

Tentu saja boleh menjadi supporter bila yang disupoort itu teman sendiri, saling mensupport. Jika kita menjadi pemain, teman kita mensupport, dan apabila teman kita bermain maka kita gantian mensupport. Supporter yang baik dan tulus itu mendukung untuk kemajuan yang didukung, baik kalah maupun menang, sedang supporter yang marah saat yang didukung kalah sebenarnya dia mencintai dirinya sendiri.

 

20Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas