YANG MEMBATU DALAM KALBU

Sebuah sore di Kota Semarang. Seorang laki-laki duduk di sebuah bangku. Namanya Mazin Ibnu Ibtisam. Ia membaca sebuah buku bersampul hijau. Sam, begitu ia biasa dipanggil oleh Tsani, perempuan yang sedang ditunggunya. Sam tenggelam dalam lautan kata-kata bacaannya. Ia menggaris-garis bagian-bagian penting, memberi catatan-catatan di pinggir buku.

Tsani, perempuan yang dia tunggu datang, keluar dari pintu kos membawa air mineral dan duduk di samping Sam. Mukanya cerah selesai mandi.

“Kok pakai jaket, kurang sehat?” tanya Sam. Tsani mengenakan kerudung merah marun. Jaket warna coklat dengan garis-garis di lengannya melindungi tubuh ringkihnya dari sapaan angin sore. Kacamata membingkai matanya yang bulat dengan bulu-bulu panjang. Oh ya, lesung pipi menjadi ciri khas mahasiswi semester akhir ini.

“Iya nih tidak enak badan.” Jawabnya sambil meletakkan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari di meja.

“Ya sudah kamu istirahat dulu ya.” Sam bangkit.

“Eiit jangan. Silakan duduk tuan Sam.” Tsani melarang Sam pergi.

“Lebih baik untukmu istirahat, puan Tsani, itu akan membuatmu sehat. Daripada ngobrol tidak jelas denganku.”

“Bosen, Sam. Justru aku minta kamu ke sini biar tidak bosan. Lama tidak diskusi denganmu, itu mengkin yang membuat otakku pegel-pegel.”

“Kamu bisa saja. Pingin diskusi apa? Ditaksir kakak kelas lagi? Atau dikirimi surat dosen? Temen yang rewel? Atau jangan-jangan tentang buku. Apa buku yang sedang kamu baca?”

“Aku sedang baca buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tapi aku tidak sedang ingin diskusi tentang itu. Aku tidak punya ide obrolan.”

“Lho kamu lupa dengan kesepakatan kita, siapa yang menghendaki pertemuan, ia yang mengajukan ide diskusi. Sekarang, kamu yang memanggilku ke sini.”

“Maaf ya Sam. Aku tidak punya ide. Aku hanya bosan saja dari kemarin berbaring di tempat tidur. Aku hanya kang..” Tsani berhenti berbicara dan hanya diakhiri dengan senyuman. Dibalas senyuman pula oleh Sam. Sam paham, Tsani kangen dengannya. Mereka dua orang sahabat, bukan sepasang kekasih karena belum pernah ada akad menyatakan dari kedua belah pihak.

“Bagaimana jika kita diskusi tentang air dan batu?” Sam menawarkan pokok bahasan diskusi.

“Jangan berat-berat ya Sam. Aku sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat.”

Sam memperbaiki letak duduknya. Tsani tahu, Sam hendak memulai percakapan serius. “Tsani, hidup itu ternyata sebagaimana batu dan air. Batu itu berhenti, teguh dan tidak bergerak. Ia bersemanyam dalam kenyamanan iman. Kita harus menggegam keimanan kita sebagaimana batu itu. Namun kita harus tepat kapan harus membatu pada suatu pilihan.”

Sementara Sam bercerita, Tsani melamun, membayangkan orangtuanya di rumah, ingin bersandar sambil bercerita, apakah ia sudah tepat membatu pada diri Sam? Apakah ia lelaki yang akan menemaninya, berjuang bersama mengarungi hidup. Sam, sepanjang pengetahuannya selama dua tahun mengenalnya adalah lelaki jujur, orang yang berorientasi pada ilmu, meskipun sangat cuek dan tidak peduli. Sam pembaca buku macam-macam, mulai sastra, pemikiran Islam, budaya, politik, sejarah. Ia tidak ke kanan maupun ke kiri, semua dibaca. Ia membaca karya-kaya Pamoedya Ananta Toer hingga Nurcholish Madjid. Tsani sering protes karena Sam membaca juga buku-buku yang menurut Tsani, tidak bermutu. Tapi menurut Sam, semua harus dibaca, biar adil dalam menilai.

“Tsani, kamu masih mendengarkanku?” tegas Sam. Tsani mengangguk. “Tapi sebelum itu kita harus menjadi seperti air yang tidak pernah berhenti bergerak. Ia selalu mencari cara untuk bergerak. Jikapun ia terhambat pergerakannya, air akan menguap menjadi awan dan menjadi hujan. Jika dalam perjalanan hidup Rosuluallah, air itu sebagaimana ketika Nabi di Makkah. Ada yang menetap atau membatu dalam batin orang-orang muslim yaitu keimanan akan Allah dan Rosuluallah, untuk itu mereka harus mengalir agar Islam berkembang, agar ibadahnya tidak terancam. Akhirnya mereka mengalir dan membatu ke wilayah yang kemudian diberinama Madinnah.”

“Aku punya cerita lain Sam perihal air dan batu. Begini. Mengapa kaum Quraisy membatu dan enggan untuk ikut dalam dakwah Nabi? Padahal tatanan masyarakat pada waktu itu sudah rusak. Mengapa mereka berjuang keras mempertahankan tradisi lama? Membatu pada sebuah zaman yang cepat maupun lambat akan hancur? Mereka tidak mengalir saja bersama tawaran Muhammad? 13 tahun, Nabi berdakwah di Makkah, dan tidak signifikan keberhasilannya karena tentangan yang luar biasa.”

“Sam, terang saja mereka membatu. Mereka sedang dalam puncak-puncak kekuasaan. Mereka mengasai sumber-sumber alam, sistem dibangun untuk menjamin kekuasan mereka. Sedangkan Islam yang dibawa oleh Muhammad menawarkan perubahan sosial, tentu saja mereka terancam. Sam, mereka yang membatu bukan menolak kebenaran dakwah Muhammad tetapi semata-mata terancam posisinya sebagai elit. Mereka dalam posisi ningrat.”

“Benar sekali Tsani. Islam mengajarkan persamaan drajat. Orang-orang lemah semacam Bilal duduk sejajar dengan ningrat dan orang kaya raya semacam Abu Bakar. Jika Islam hidup mengakar, siapa yang akan melayani mereka para elit itu. Pantas saja mereka terancam dan kukuh seperti batu. Tsani, semoga saja Allah menjalankan kita membatu pada dzat yang tepat, jika belum menemukannya biarkanlah Jiwa kita mengalir ke mana saja.”

Sam terus bercerita dan Tsani terus bertanya-tanya dalam hati, apakah Sam adalah lelaki tempat ia harus membatu ya Allah?

Sam pamit menjelang magrib.

45Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 119

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.