Untuk apa membaca Sabhaparwa hari ini?

“Sebenarnya pacarmu itu Tsani apa Septi, Sam?” Yusuf bertanya kepada Sam. Pertanyaan tanpa basa-basi tepat ke sasaran. Sam hanya melirik sebentar kepada Yusuf kemudian tatapannya kembali lagi ke laut, ke titik cahaya pada kapal yang bergerak.

“Mereka berdua hanya sebatas teman. Aku belum punya pacar. Aku belum punya pekerjaan, lulus kuliah saja belum. Skripsi bolak-balik dikoreksi. Entah maunya apa dosen pembimbingku itu, ditemui susah, ketemu koreksi-koreksi lagi. Musim wisuda tahun ini sudah lewat lagi. Tidak berani aku bicara pacar.” terang Sam.

“Di antara keduanya, siapa yang kamu cintai?”

“Mereka sebatas teman. Teman diskusi yang asyik. Mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku suka diskusi dengan Tsani tentang agama, meskipun kami berangkat dari latar belakang yang berbeda tapi bagiku ini menantang. Dia mencari sesuatu dariku aku mencari sesuatu darinya. Semua pendapatku hampir selalu dibantahnya, dengan demikian aku menjelaskan. Terakhir kami berdiskusi tentang hijrah. Tapi diskusi dengan Tsani tidak bebas, kami hanya berdiskusi di teras kosnya, itu pun sekarang dibatasi tirai. Kami tidak saling melihat wajah. Ya aku hanya melihat dia remang-remang saja.”

“Kalau Septi?”

“Dia anak gaul. Dia anak hari ini, tahu segala hal seputar anak muda, musik, gaya, busana, hingga tempat tongkrong dan lokasi jalan-jalan. Dengan Septi aku biasa berdiskusi tentang sejarah, gejala sosial. Mereka berdua adalah teman yang asyik.”

“Teman diskusi kok semua perempuan, cantik-cantik lagi, gak percaya aku kalau hanya teman diskusi.”

“Terserah kamu Suf, kamu mau percaya apa tidak.”

“Tadi kamu bilang tidak punya pekerjaan Sam. Mengapa kamu tidak meneruskan usaha orangtuamu saja, mengelola tambak dan berdagang garam. Usaha garam ini tidak pernah pakai modal, hanya air laut dikeringkan, setelah jadi garam kita jual. Garam pasti laku, jika sedang tidak laku, simpan dulu di gudang.”

“Benar Suf, tapi apakah di antara mereka, Tsani dan Septi, mau hidup di lingkungan nelayan seperti kampung kita ini, kotor dan kumuh bau amis? Bersediakah mereka hidup di kubang rop dan tumpukan sampah? Aku tidak yakin.”

“Lho katanya hanya teman?” hardik Yusuf, Sam hanya tersenyum merasa keceplosan.

“Sam, aku ingin meminta pendapatmu tentang Sabhaparwa, bagaimana menurutmu?”

“Apa itu Sabhaparwa?”

“Itu cerita wayang, Sam. Untuk hidup bukankah kita boleh belajar dari mana saja. Sabhaparwa itu Sam, bagian dari cerita Mahabarata. Aku ceritakan kepadamu secara singkat, kemudian kamu nanti kasih pendapat ya? Sabhaparwa adalah kisah seorang Duryodana yang memimpikan sebuah istana nyaman sebagaimana Indraprastha, yang dalam kekuasaan Pandawa. Mulanya Duryodana hendak melakukan aksi perampasan dengan membawa balatentara. Sang paman, Sengkuni melarangnya. Sengkuni punya taktik untuk merebut istana itu dan seluruh isinya tanpa modal yang besar.

Sengkuni tahu, kakak tertua Pandawa, Yudistira gemar sekali berjudi, Sengkuni juga tahu kalau sebenarnya Yudistira tidak begitu bisa berjudi dengan menggunakan cara-cara licik. Dalam perkara ini Sengkuni adalah ahlinya. Maka diaturlah sebuah strategi untuk mengundang Yudistira datang dan bermain judi. Undangan itu dipenuhi oleh Yudistira. Ia ditemani oleh punggawa dan adik-adiknya berangkat ke Hastinapura.

Yudistira sebenarnya menolak tawaran judi itu tetapi Sengkuni memang pandai merayu. Katanya, antara Kurawa dan Pandawa masih saudara, jikapun Kurawa kalah bukankah itu akan menjadi bagian dari Pendawa, tetapi jika Pendawa menang alangkah menggiurkan?

Judi dimulai dan Yudistira kalah. Mula-mula hartanya dipertaruhkan, kemudian prajurutnya menjadi taruhan, setelah itu kerajaan, setelah kerajaan juga berpindah tangan di meja judi, saudaranya pun menjadi taruhan. Terakhir yang menjadi taruhan adalah istrinya, Drupadi.

Akhir dari cerita ini adalah Pandawa berikut istrinya terusir dari kerajaannya selama 12 tahun. Mereka hidup di tengah-tengah hutan.”

“Begitulah Sam kisah Sabhaparwa, sekarang bagaimana menurutmu tentang kisah ini?”

“Sebuah kisah yang menarik. Aku tertarik pada penghindaran pertumpahan darah untuk merebut kekuasaan dan sebuah wilayah dari perang menjadi dadu atau judi. Kita punya kisah-kisah serupa. Misalnya untuk merebut sesuatu agar tidak memakan korban lebih banyak maka diganti dengan adu ayam jago.”

“Benar, Sam di sini ada penyederhanaan peralihan kekuasaan, dari perang diubah menjadi gelanggang judi.” Kata Yusuf menghadap laut yang tenang. Setiap kali Sam pulang kampung mereka berdua duduk di tepi laut, di atas batu-batu pemecah ombak. Di hadapan mereka bandeng dibakar dan kerang direbus.

“Sam, kita bisa melihat kisah ini dari berbagai sudut. Kisah ini tidak hitam putih dari tokoh jahat Duryodana, Dursasana, dan Sengkuni dan tokoh yang menjadi korban yaitu Pandawa. Jika memang dilihat dari sudut Kurawa saja maka Kurawa memang kejam, Dursasana yang menyeret rambut Drupadi untuk mau datang di meja judi juga kejam, ia yang hendak menelanjangi Drupadi di muka umum meskipun akhirnya tidak berhasil karena ditolong oleh Sri Kresna. Juga betapa serakahnya Duryodana, ia ingin menguasai kemewahan Indraprastha dengan segala isinya dengan cara apapun. Juga kelicikan Sengkuni.”

“Sengkuni-sengkuni. Ia punya dua kemampuan untuk memenangkan pertarungan, kekuatan merayu dan kepandaian bermain judi. Orang sekarang banyak juga yang seperti Sengkuni, ingin mengalahkan dengan rayuan menggunakan kata saudara, seolah-olah untuk kebaikan kita padahal untuk menghancurkan kita.” Sam berpendapat tentang Sengkuni.

Yusuf melanjutkan diskusi. “Tapi Sam, kita bisa melihat kisah ini dari sudut pandang yang lain. Ini adalah kisah tentang seorang pemimpin yang cerobah. Yang ingin enaknya sendiri. Hanya untuk memenuhi kesenangannya sendiri, kepentingannya sendiri hingga segala hal dipertaruhkan. Entah harta yang ia pertaruhkan itu harta negara atau harta pribadinya. Ia tidak mempertimbangkan keselamatan rakyatnya. Apa saja dipertaruhkan karena sang pemimpin lupa diri. Tidak hanya hartanya, tetapi juga prajurit, kemudian kerajaan pun dipertarhkan. Masih juga tega memasang saudaranya sendiri, hingga istrinya. Betapa kejamnya.”

“Benar sekali Suf. Dalam sebuah pertarungan itu seseorang dimasukkan digolongkan ke golongan hitam atau putih itu dilihat dari beberapa hal, pertama untuk siapa dia bertarung? Untuk kepentingan siapa? Jika motif tidak terlacak maka bisa dilacak maka bisa dilacak dengan cara apa ia melakukan pertarungan, atau bagaimana ia bertarung, dengan cara-cara licik, menipu, memfitnah, atau jujur? Dua hal ini bisa menjadi cermin saat kita dalam pusaran laga apapun.”

“Sam, bagaimana jika disandingkan dengan peperangan yang pernah Nabi lakukan?”

“Pertama untuk motif, motif berperang Nabi Muhammad jelas, untuk meluaskan dakwah. Itupun dilakukan hanya kepada orang-orang yang menghalangi dakwah. Perang Nabi karena Allah dan dilakukan atas dasar musyawarah dengan para sahabat. Kemudian untuk cara, Nabi melakukan peperangan dengan cara-cara yang baik. Ada larangan-larangan dalam berperang, misalnya tidak boleh merusak muka musuh.”

“Rosulullah juga berstrategi, tapi strategi Muhammad SAW tidak sebagaimana Sengkuni. Misalnya untuk kembali lagi ke Makkah, Rasulullah sudah terlebih dahulu melakukan perang dagang sehingga Makah benar-benar lumpuh. Puncaknya adalah terjadinya perjanjian Hudaebiyah. Bagi kau muslim yang tidak tahu, mereka tidak setuju dengan kesepakatan Hudaebiyah. Mereka menganggap perjanjian itu adalah merugikan pihak Madinah. Padahal mereka yakin, jika berperang mereka akan menang, mengingat kekuatan Makah sedang melemah. Tapi dengan perjanjian itu ternyata jalur komunikasi menjadi lancar, ini yang membuat orang-orang Makah berkesempatan mendengar dakwah Nabi dan masuk Islam. Ini juga strategi juga.” Jawab Sam.

Sam bertanya lagi, “Suf, untuk apa kita berdiskusi tentang Sabhaparwa? Adakah kaitannya dengan kondisi politik hari ini? siapa Sengkuni, siapa Duryodana, Siapa Yudistira?”

“Hanya untuk waspada saja Sam, agar kita tidak menjadi korban lagi. Menjadi taruhan Yudistira atau dicurangi oleh Sengkuni. Jangan sampai kita terkelabuhi, bertopeng manis ternyata setelah dibuka dia ternyata Sengkuni.”

Hari sudah beralih, kerang sudah masuk perut menyisakan kulit-kulitnya, arang sudah mati, dan kopi sudah tandas tinggal ampas. Sam menguap, Yusuf juga menguap. Ada WA masuk ke HP Sam, “Jangan lupa salat tahajut.” Entah dari Tsani atau dari Septi.

17Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 68

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.