Pidato Menanam Pohon

Syukur Alhamdullilah kita panjatkan atas rahmat dan keselamatan dari Allah Subkhanahuwataala. Kita masih diberi ketetapan iman. Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang selalu meningkat ketakwaannya.

Mari kita sapa Rasulullah, dan sahabat-sahabat beliau, yang berdakwah Islam hingga saat ini sampai ke negeri kita Indonesia. Ia, Rosulullah satu-satunya pemberi syafaat kelak saat dihari akhir. Allahumma solli ala Muhammad.

Bapak, Ibu, sahabat, dan rekan-rekan yang saya hormati. Akhir-akhir ini udara panas sekali. Panas menyengat ubun-ubun dan membuat kepala kita pusing. Hal itu terjadi karena memang sekarang musim kemarau. Tapi tidak hanya itu, kemungkinan lain adalah karena banyak pohon di hutan dan  di kampung yang ditebang. Pohon sebagai penghasil oksigen, pengikat air hujan, pelindung yang membuat panas matahari tidak langsung menyentuh bumi. Sekarang pohon-pohon sudah banyak tumbang. Inilah yang mengakibatkan udara kita panas.

Padahal, Rosullullah menyeru untuk menanam. Di banyak hadist menyebutkan kecintaan beliau terhadap orang-orang yang sudi menanam. Beliau selalu mendorong para sahabatnya untuk menanam gandum, kurma, dan buah buahan. “Siapa yang menanam kurma di dunia maka ia akan memperoleh taman di surga.” Kata beliau.

Dari Jabir bin Abdullah RA, dia bercerita bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (Haditsriwayat  Imam Muslim)

Tentu saja, jika di Indonesia yang ditanam tidak harus kurma karena kurma tidak cocok ditanam di sini. Bisa saja tanaman itu kelapa, mangga, jati, sengon, dan segala jenis tanaman yang lain. Manfaat tanaman selain yang sudah disebutkan tadi yaitu untuk memelihara lingkungan, menciptakan udara sejuk, menahan dari panas, menyediakan air tanah, dan juga menyediakan pangan.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan membangun Madinah, hal awal yang beliau lakukan selain membangun masjid, jalan, dan penataan sumur adalah menyeru para sahabat untuk menanam. Tidak dibiarkan tanah kosong tanpa tanaman. Dampaknya adalah beberapa tahun kemudian, Madinah menjadi sebuah negara dengan pangan yang melimpah. Madinah tidak lagi bergantung terhadap negara lain, justru Madinah mengirim hasil pangannya hingga luar. Dengan pangan yang melimpah, Madinah menjadi negara kuat.

Bapak, Ibu, dan rekan-rekan semuanya. Maka hendaklah kita meniru Rosulullah. Mari kita menanam, jangan biarkan ada lahan kosong tanpa tanaman dan jangan menebang pohon tanpa pertimbangan. karena akibatnya sangat merugikan. Banyak bencana terjadi karena lingkungan yang rusak. Banjir terjadi, longsor di mana-mana karena tanah tidak diikat oleh akar yang kuat.

Tangan yang digunakan untuk menanam adalah tanah yang berkah. Suatu ketika Nabi berkeliling kampung, kemudian Nabi menyaksikan salah seorang sahabat menanam kurma. Kemudian Nabi memegang tangan itu sambil berkata: tangan ini sungguh berkah.

Maka saudara-saudaraku, jika kita ingin memiliki tangan yang berkah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi maka hendaknya kita mau dan sudi untuk menanam. Kita menanam hari ini dan akan mendapatkan panennya nanti di surga.

Demikian pidato dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh.

Muhajir Arrosyid

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 119

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.