Masa depan tanah

Di catatan-catatan cerpen yang lalu telah dikemukakan konflik manusia dengan alamnya, di pembahasan sebelumnya juga telah dibahas tentang konflik anak dan orang tua. Cerpen yang akan kita bahas kali ini tentang kedua hal tersebut. Cerpen itu berjudul “Tanah Persawahan Bapa Yohanes” karya Fanny J Poyk (Jawa Pos, 06/09/2020). Cerpen ini bercerita tentang Bapak Yohanes seorang petani di Oesao Nusa Tenggara Timur yang berusaha keras mempertahankan tanahnya dari rayuan pesuruh para mengembang. Pak Yohanes adalah tipe pekerja keras dan pemegang erat ajaran leluhur. Yohanes berasal dari Desa Bilba, Rote Ndao. Leluhur desa itu sangat menghargai tanah. “….Mereka mempertahankan tanah dan segala isinya dengan pertaruhan nyawa. Kala itu, untuk memperebutkan sepetak tanah, tak jarang para penduduk berkelahi sampai mati. Tanah adalah nyawa dan apa yang tumbuh dari tanah merupakan karunia Tuhan Yang Mahakuasa.”

Bapak Yohanes akhirnya pergi dari desa asalnya saat terjadi perang saudara memerebutkan tanah warisan leluhur. Mula-mula Bapak Yohanes menjadi nelayan. Untuk menyongsong hari tua ia membeli tanah yang cukup luas dari hasil melautnya. Bapak Yohanes mengumpulkan tanah itu dari usahanya, kerja kerasnya dari nol. Dan Bapak Yohanes mempertahankan tanah itu sekuat yang ia mampu.

Pertentangan terjadi dengan anak tertuanya. Sebagaimana saudara-saudaranya yang menjual tanah leuluhur sehingga tanah leluhur habis, Jublina, anak tertua Pak Yohanes juga ingin menjual tanah Pak Yohanes. Bahkan Jublina mengancam tidak mau pulang jika Pak Yuhanes tidak mau menjual sebagian tanahnya. Jublina adalah anak perempuan yang terpukau dengan kehidupan kota. Ia bekerja sebagai TKI di Malaysia. Pergaulannya luas dengan orang Malaysia dan Jakarta. Ia tidak mau tinggal di desa karena menurutnya orang desa itu kampungan. Jublina menginginkan dan memimpikan hidup enak tanpa kerja. “….“Kalau Bapa sonde jual tanah, beta (8) sonde mau kembali ke rumah ini lagi. Untuk apa punya tanah luas, tapi harus kerja keras. Kalau punya uang banyak, Bapa tinggal beli beras, sonde pi pacul lagi itu sawah, sonde usah pancing ikan lai (9) di laut, Bapa tinggal pi beli di supermarket di Kota Kupang,” tegas Jublina dengan nada mengancam. Jublina tipe orang yang berpikiran pendek dan instan. Ia tidak berpikir bahwa uang yang dihasilkan dari menjual tanah tersebut ada akhirnya juga akan habis. Jika uang sudah habis maka mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Mereka akan menjadi gelandangan di tempat sendiri.

Bapak Yohanes benar-benar terjepit, istri yang mulanya ada pada pihaknya lama-lama terpengaruh juga dengan bayangan hidup indah yang ditawarkan oleh Jublina.

Berbagai rayuan oleh pengembang dan pesuruhnya datang silih berganti. Tanah milik Pak Yohanes adalah tanah strategis yang sangat cocok dibangun hotel dan usaha sejenisnya. Tidak hanya iming-iming yang mengiyurkan tetapi juga dengan ancaman oleh orang berbadan kekar. Yang menarik dan sangat kontradiktif adalah pengunaan ajaran agama demi melancarkan misiya. Misalnya, tanah ini tidak kau bawa mati. Menyuruh menjual tanah alasannya adalah tanah tidak dibawa mati. Orang yang tidak mau menjual tanahnya diposisikan sebagai orang yang terlalu mencintai tanahnya, yang seakan-akan tidak mau terpisah dengan hartanya. Padahal pengembang yang membeli tanah juga untuk membangun usaha dan meliat gandakan hartanya.

“Harta dunia tidak dibawa mati, Bapa. Jual sa, kitong beli rumah di Kota Kupang, dekat deng (10) mal,” bujuk Jublina. Begitulah pandangan Jublina, harta duna tidak dibawa mati maka boleh dihabis-habiskan. Padahal pikiran Pak Yohanes jauh ke depan, tanah itu untuk kelanjutan hidup anak dan keturunannya kelak.

“Bapa eee…Bapa jangan terlalu berpikir panjang, usia su mulai tua. Tidak lama lagi Bapa su tiada. Untuk apa tanah luas, kan sonde dibawa mati,” kata seorang lelaki berotot itu kepadanya. Begitulah pesuruh pengembang mengertak pak Yohanes. Menyuruh melepas harta dunia sebelum mati dengan alasan harta tidak dibawa mati sebagai dalih. Padahal ada akal bulus dibelakakngnya. Maka jika ada orang teriak-teriak menyeru seolah demi agama, demi diri kita, kita pun perlu waspada karena jangan-jangan itu untuk dirinya sendiri.

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 87

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.