jangan mudah menyalahkan orang lain

Di suatu kesempatan Mbah Nun menjenguk anak cucunya yang bekerja di Korea Selatan. Di sana Mbah Nun disambut dengan penampilan Reog Ponorogo sebelum beliau menyapa seribuan jamaah yang berada di sebuah ruang. Acara itu diselenggarakan oleh TKI di Korea Selatan yang berasal dari Jawa Timur. Mbah Nun memulai acara itu dengan salawat. “Kenapa sih kok kita di sini harus salawat? Kalau kamu disuruh memilih satu saja orang untuk mewakilimu menghadap Allah siapakah orangnya?” Mbah Nun bertanya kepada hadirin yang penuh sesak.

Sebagian mereka menjawab  “Cak Nun”, kemudian Mah Nun melanjutkan ceramahnya. “Kita semua ini tidak ada yang bisa diadalkan. Hanya Nabi Muhammad yang pantas mewakili kita, menghadap Allah SWT. Jika kita memegang bajunya Kanjeng Nabi, gondeli kambine Kanjeng Nabi maka Allah akan melihat kita, oh ini pengikutnya manusia yang aku kasihi Muhammad. Itulah kenapa kita harus bersholawat.”

Pada kesempatan itu Mbah Nun didampingi oleh Bu Novia. Kiai Kanjeng yang biasa mengiringi tidak turut serta. Ada beberapa hadirin bertanya. Mereka dari Malang, Kudus, dan lainnya. Pertanyaan mereka antara lain tentang tasabuh, bahwa  ada anggapan bahwa sholawat itu dianggap menyerupai perbuatan kaum tertentu. Sholawat karena nyanyi-nyanyi dianggap menyerupai orang nasrani. Padahal ada dalil barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia digolongkan pada kaum tersebut. Ada juga yang bertanya tentang Ibadah. Bekerja di Korea sangat susah melaksanakan Ibadah salat asar dan magrib. Sementara ada ulama yang mengatakan bahwa salat dijama hanya boleh dilakukan selama tiga hari. Ada juga yang bertanya, seperti apakah ulama yang benar.

Pada kesempatan tersebut Mbah Nun mengenalkan apa itu ibadah mahdoh dan ibadah muamalah. Mbah Nun juga mengenalkan tentang cara pandang masalah baik masalah, ada jarak pandang, resolusi pandang, sudut pandang. Karena cara pandang yang berberbeda itu maka kasus yang sama bisa menghasilkan pemaknaan yang berbeda. Mbah Nun mengajak kita untuk menyakini dan menjalankan yang kita yakini sesuai dengan akal kita tanpa menyalah-nyalahkan orang lain.

Menjawab pertanyaan tentang ulama yang benar, Mbah Nun menjawab bahwa pendapat ulama itu adalah fersi, menurut pendapat sesuai dengan pertimbangan-pertimbangannya. Kita bisa menggunakan akal kita untuk menimbang pendapat ulama itu. Mbah Nun mengajak untuk konsentrasi dengan apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan. Lalu Mbah Nun memberi analogi tentang tukang pijet. Seseorang yang memijit pungung atau tangan kita jangan langsung dsebut tukang pijat. Ia memijat karena ungkapan kasih sayangnya. Islam itu bukan identitias, haji juga demikian. Haji itu ibadah. Orang disebut haji saat melaksanakan ibadah haji, selesai haji ya selesai. Maka jangan pula setiap bersorban disebut ulama. “Ulama atau bukan, lihatlah kelakukannya.

Mbah Nun menjawab pertanyaan jamaah tentang salat yang terpaksa dijama’ karena bekerja mengharuskan begitu. Tentang jama’ ada dua versi penyikapan. Ada orang yang tidak jama’ dengan alasan ia telah diberi waktu banyak oleh Allah. Ia merasa masih sempat. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa jama’ adalah fasilitas dari Allah. Kalangan ini berpendapat, dikasih keringanan kok tidak digunakan.  “Pilihlah terserah kamu, biar orang lain memilih yang lain. Yang salah adalah begitu kamu memilih pilihanmu lantas menyalahkan pendapat orang lain.”

Mbah Nun mengenalkan dalam melihat sesuatu itu ada cara pandang yang perlu dipertimbangkan. Ada jarak pandang, sudut pandang, resolusi pandang. Objek yang sama akan mendapatkan makna yang berbeda jika cara dan alat memandangnya berbeda. Perbuatan tuguh dank eras kepala itu sama. Misal kita diajak korupsi, Anda tidak mau karena Anda teguh iman, sementara menurut yang mengajak korupsi, Anda adalah orang yang angkuh. Pada kasus yang lain misalnya antara irit dan hemat.

Mbah Nun menjawab yang permasalahan tasamuh atau menyerupai itu. Menurut Mbah Nun kita perlu hati-hati dan bijak, juga jujur mengenai hal ini. Bagaimanakah yang dimaksud dengan menyerupai itu. Jika semua hal dianggap menyerupai maka pakai celana juga menyerupai kaum lain. Ada yang menganggap keluar rumah saat malam tahun baru tidak boleh dilakukan karena kembang api menyerupai majusi, lonceng menyerupai kaum nasrani, dan terompet menyerupai kaum yahudi maka secara berkelakar Mbah Nun menjawab, “Padahal terompet itu tugasnya malaikat Isroil. Israfil mendapatkan tugas terlebih dahulu daripada kaum Yahudi.”

Mbah Nun mengenalkan Ibadah mahdoh dan Ibadah Muamalah. Ibadah Mahdoh adalah ibadah pokok yang biasa disebut dengan rukun Islam. Pada ibadah Mahdoh kita tidak boleh melakukan kecuali yang diperintahkan. Sedangkan untuk ibadah muamalah kita boleh melakukan apa saja kecuali yang dilarang. Pada sholawat perintahnya adalah hanya bersholawat kemudian ada yang hanya sholawat tanpa dilagukan dan ada yang dilagukan. Mengenai lagu nada sebenarnya kita tidak bisa menghindarinya. Secara bergurau Mbah Nun mengatakan, bahkan saat kentut saja kita berirama. Bersalawat ada yang dengan sayidina ada pula yang tanpa sayidina dengan alasan masing-masing. Ingat lagi tentang cara pandang tadi. Kalangan Muhamadiayah tidak menggunakan sayidna karena Nabi pernah mengatakan begitu, sedangkan kalangan NU mengguanakan sayidina akarena alasan tata karma.

Bahwa pada posisi yang berbeda seseorang melakukan hal yang berbeda. Seseorang melakukan kewajibannya sesuai dengan posisinya masing-masing. Ada dua orang di dalam mobil. Mereka sopir dan majikan. Pada perjalanan spion mereka ditabrak orang. Sopir itu mengejar orang yang menabrak spion. Kemudian majikan bilang, “sudah tidak usah dikejar, nanti beli spion lagi.” Perkataan itu tidak bisa ditukar, missal majikan menyuruh mengejar, kemudian sopir bilang ‘tidak usah nanti beli spion lagi.”

Contoh lain, seorang tamu bilang tidak usah repot-repot menyuguh hidangan makan siang. Tetapi tuan rumah tetap menyajikan makan siang. Alasan tata karma semacam inilah yang digunakan oleh kalangan NU menggunakan sayidina untuk menyebut Nabi Muhammad.

 

 

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 125

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.