Sore hari Ipnu mengirim pesan WA berisi video dan gambar-gambar Mas Sab mengenakan jas dan berdasi. Ia menandatangani berkas dan dilantik menjadi pejabat. Seketika aku telek-telek. Lama aku syok gak kuat mikir. Apo meneh iki. Ini pasti berdampak pada arek-arek Maiyah. Sejak saat itu sampai hari ini aku tidak membuka medsos baik youtube, fb, maupun instagram. Aku juga tidak mau diajak ngomong tentang itu. Mas Sab bajingan.
Menjelang magrib Ipnu datang ke rumah. Dia mengajak ngobrol tentang ini. Sebenarnya aku ya males. Tapi ya sudahlah. Aku bilang kepadanya. “Nu, tenang. Jangan marah. Jangan benci. Lakukan hidupmu seperti biasanya.” Meskipun dia mungkin juga sebel lihat komentar-komentar di medsos tapi kami tertawa-tawa. Ada WA dari Hak isinya tulisan panjang untuk dimuat di web kalijagan. Tidak aku baca, aku yakin tulisannya jelek. Pesan dari Hak, saya jawab, “Sik. Ora usah ngomong kui disik.”
Ada WA masuk dari rekan kerja. Ia mengucapkan selamat karena Mas Sabrang dilantik. Ia kaget dan menyayangkan dan menuduh Mas Sab gila jabatan. Mas Sab yang biasanya mengkritik tajam sekarang masuk dalam barisan. Hal yang sama disampaikan oleh istri ku sendiri. Istriku tidak bisa memahami sikap Mas Sab. Dia bilang, “Meskipun dia anak guru kita, saya tidak mau membela langkah Mas Sab kali ini”
Aku tidak bisa tidur malam ini karena gelisah. Aku yakin Mas Sab biasa saja. Dia pasti sudah menghitung dan memprediksi ini. Dia kuat. Keputusan yang dia ambil bukan atas dasar komentar netizen. Sekarang ini sebagian orang menoleh pada dirinya. Siapakah Sab? Apa pendidikannya? Kenapa toh kok dirinya dibicarakan banyak orang saat ini? Orang-orang yang baru tahu mulai mencari tahu.
Aku menulis ini juga bukan untuk membelanya. Memangnya aku siapa membela-bela dirinya. Aku hanya mau cerita saja dialogku bersama istri. Aku mengajukan pertanyaan kepada istri, begini. “Andai sekarang suamimu ini mendapat tawaran jabatan dengan gaji bejibun, tunjangan banyak, fasilitas bagus. Kira-kira kamu mau apa tidak? Kamu melihat itu sebagai prestasi atau sebagai bencana? Kira-kira keluarga besar kita bangga atau sedih salah satu anaknya ini menjadi pejabat? Saya yakin kalian dan keluarga besar dan mungkin satu kampung bangga. Karena itulah sebenarnya nalar kita. Lalu mengapa Mas Sab tidak boleh mengambil itu?”
Saya lanjutkan, “Ok karena Bapaknya dulu menyampaikan kritik tajam. Ok karena dia juga melakukan hal yang sama sehingga sekarang dia tidak boleh melakukan hal demikian. Sekarang saya tanya lagi. Jika kemudian Mas Sab mengambil jalan lebih dari sekadar kritik verbal. Misalnya ia mengajak turun ke jalan. Bertempur melawan yang dianggap zalim itu. Apakah kamu juga mengikhlaskan suamimu untuk meninggalkan pekerjaan dan bertempur di belakang dirinya? Hakul yakin, kamu tidak membolehkan. Kamu pasti menyuruh suamimu ini untuk berdiam diri rumah dan melanjutkan pekerjaan.”
Saya lanjutkan. “Bukankah sangat tidak adil apa yang kita lakukan. Kita senang sekali ada orang mengkritik, berjuang sendirian tetapi risiko dia tanggung sendiri dan kita tidak ikut apa-apa. Siapa yang pengecut di antara kita?”
Sekarang biarkan dia melakukan sesuatu yang dia anggap baik. Kalau dia banyak dihujat sekarang. Dia tahu, dia tidak butuh dipuji. Dia tidak butuh pujian dan dan dia bertindak bukan karena pujian dan hujatan. Ia itu seperti nama yang diberikan oleh Bapaknya, berani menyabrang menggenggam bara. Meskipun tadinya aku misuh-misuh, aku doakan ya Mas, semoga Allah melindungimu. Aku kenal dirimu kok Mas. Ya kaget dilut, lah, sekarang biasa lagi. Mari kita kerja lagi seperti biasa. Melingkar, belajar, sholawatan.

cadas
Suwun