Pagi hari ketika saya membuka pintu depan untuk salat Subuh berjamaah ke masjid, saya mencium aroma bangkai yang tajam. Jalan di depan rumah masih basah oleh sisa gerimis malam tadi. Saya tidak menghiraukan bau itu karena iqamah sudah dikumandangkan. Saya pun bergegas ke masjid. Sepulang dari masjid, aroma itu sudah tidak saya rasakan. Saya masuk rumah seperti biasa dan melakukan aktivitas harian.
Ada yang tidak biasa pagi ini. Biasanya setiap saya membuka pintu depan, selalu ada seekor kucing tidur di kursi teras. Kadang ia pindah ke keset untuk menghangatkan tubuh. Saya tidak tahu itu kucing milik siapa—mungkin milik tetangga. Warnanya putih bercorak cokelat. Saya juga tidak tahu jenisnya, tetapi jelas bukan kucing kampung yang biasa berkeliaran. Kucing ini galak dan agresif.
Pagi semakin ramai. Anak-anak bangun, mandi, dan mempersiapkan diri berangkat sekolah. Istri saya memasak dan menyiapkan sarapan. Ketika ia menyapu teras, dia berkata, “Kok seperti mencium aroma bangkai, ya?”
Saya langsung teringat bau yang saya cium saat Subuh tadi.
“Mungkin di mobilmu, Pak,” lanjut istri saya.
Kami mencari sumber aroma itu. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya istri saya menemukan seekor tikus berekor panjang, berwarna hitam, berbulu kasar, dengan kaki mencengkeram kaku—kepalanya sudah hilang. Bangkai tikus tanpa kepala itu berada di bawah bagian depan mobil. Kami menduga ini ulah kucing. “Cing-cing, mengapa hanya kamu santap kepalanya saja?” batin kami.
Saya tahu ini tugas saya: membuang bangkai tikus itu dari teras rumah. Pekerjaan berat bagi saya. Baru menyentuh sapu saja rasanya sudah ingin muntah. Namun, siapa lagi kalau bukan saya? Saya satu-satunya laki-laki di rumah. Saya adalah suami dan seorang bapak. Saya harus mengambil tanggung jawab itu.
Istri saya membungkus sapu dengan tas kresek. Pengki sampah juga dibungkus agar tidak kotor oleh bangkai. Untuk mengevakuasi tikus itu saya pun bersiap penuh: memakai masker dan kacamata hitam. Masker saya gunakan agar tidak mencium bau menyengat dan untuk melindungi diri dari kemungkinan penyakit. Kacamata hitam saya pakai karena tidak ingin melihat detail bentuk tikus yang sudah kehilangan kepalanya.
Akhirnya tugas sebagai satu-satunya laki-laki di rumah itu berhasil saya laksanakan. Tikus tersebut saya bawa ke tempat pembuangan sampah dan saya bakar di sana.
Ini bukan tugas pertama. Pernah suatu ketika saya menemukan anak-anak tikus—disebut cindil dalam bahasa Jawa—yang masih merah dan belum berbulu di dalam lemari buku di lantai dua. Saya memang jarang naik ke sana. Ketika membuka lemari, saya melihat bayi-bayi tikus itu bergerak. Meski jijik, saya sadar ini tanggung jawab saya. Saya tidak mungkin menyuruh istri, apalagi dua anak perempuan saya. Pada pekerjaan lain mungkin saya bisa meminta bantuan mereka, tetapi untuk urusan seperti ini, saya merasa inilah tugas seorang suami dan bapak.
“Oh, ternyata beginilah menjadi suami. Oh, beginilah menjadi bapak.” Kalimat itu kerap muncul secara periodik dalam benak saya setiap menghadapi pengalaman baru. Saya pertama kali mengucapkannya kepada teman kantor, Mbak Oky, yang saat itu menjadi bendahara rektorat. “Begini ya, Mbak, ternyata menjadi bapak?” kata saya ketika anak laki-laki pertama saya, Ken, sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Saat itu saya mengalami banyak hal baru—menyelesaikan persoalan yang sebelumnya belum pernah saya hadapi, sekaligus merasakan tekanan mental yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Siang itu saya duduk sebentar di teras, memastikan tidak ada lagi aroma bangkai. Saya tersenyum sendiri, membayangkan betapa dulu saya mungkin akan lari dari pekerjaan seperti ini. Ternyata sekarang saya bisa juga melakukannya, meski tetap sambil menahan mual. Mungkin beginilah tanda-tanda menjadi bapak—bukan karena sudah tidak takut, tetapi karena tetap melangkah meski masih takut.
