Hari Sabtu terasa relatif lega. Saya tidak pergi ke kantor, sehingga sebagian besar waktu dihabiskan di rumah. Sepulang dari masjid, sebenarnya saya berencana pergi ke alun-alun untuk berjalan kaki selama tiga puluh menit. Namun rencana itu batal karena hujan subuh ini turun cukup deras. Akhirnya saya hanya berolahraga ringan di dalam rumah. Seusai berolahraga, saya deres Al-Qur’an sebentar. Istri saya melakukan hal yang sama. Ia menyuruh anak-anak mandi, menyiapkan seragam, sekaligus membuatkan sarapan. Ia juga menyiapkan minuman Energen untuk dua anak perempuan kami. Setelah itu anak-anak mencium tangan dan pamit berangkat sekolah yang lokasinya tidak jauh dari rumah.
Ketika hendak ke kamar mandi dan melewati meja makan, saya menyaksikan sebuah pemandangan kecil yang mengusik. Satu gelas hanya menyisakan sedikit Energen—itu milik anak pertama saya yang duduk di kelas enam SD. Sementara satu gelas lagi masih tersisa cukup banyak, mungkin baru diminum satu teguk—itu bagian anak bungsu saya yang kelas satu SD. Melihat pemandangan itu, saya sudah bersiap akan menasihati mereka nanti sepulang sekolah.
Bagi keluarga kami—mungkin juga bagi sebagian besar masyarakat tempat saya tumbuh—menyisakan makanan adalah larangan yang sangat kuat. Sampai hari ini, bahkan ketika saya sudah berkeluarga, jika makan di rumah orang tua dan Bapak melihat ada sebutir nasi tersisa di piring, kami akan disuruh memungut dan memakannya. Orang-orang dulu sering mengingatkan, “Kalau makan jangan disisakan, ora elok, nanti ayamnya mati.”
Saya kira nilai ini lahir dari tradisi petani, tradisi agraris yang menghormati pangan. Sisa makanan kerap berakhir sebagai sesuatu yang mubazir dan terbuang. Padahal untuk menghadirkan sebutir nasi di meja makan dibutuhkan perjalanan panjang dan tenaga yang tidak sedikit. Petani memulai dari menanam, merawat, mengairi, memupuk, melindungi dari hama, menjaga dari tikus dan burung, hingga akhirnya memanen. Sesuatu yang diperjuangkan dengan jerih payah panjang tentu tidak pantas disia-siakan begitu saja.
Ketika saya masih kecil saya turut ke sawah. Saya merasakan kerja memisahkan jagung dari bonggol, memisahkan padi dari tangkai dengan cara dipukul menggunakan blukang, sebuah benda pemukul yang terbuat dari tangkai pelepah pohon kelapa. Saya melihat jagung diubah menjadi nasi jagung. Jadi saya memahami dan dapat merasakan perasaan mereka terhadap pangan.
Anak-anak sekarang begitu mudah menyisakan makanan, mungkin karena mereka semakin jauh dari akar kehidupan petani. Mereka tidak menyaksikan proses panjang yang membuat makanan akhirnya tiba di piring mereka. Nanti, ketika mereka pulang sekolah, saya akan mencoba menceritakan semua itu kepada mereka.
