Katamu Kang Joko dalam forum Maiyah Kalijagan Demak pada Jumat, 13 Februari 2026 tadi malam, penderitaan itu seperti kacamata kuda yang membuat jalan kita fokus ke depan, tidak melihat kiri kanan yang sering kali menggoda perjalanan. Penderitaan seperti kacamata kuda yang membuat kita lekas sampai pada tujuan. Penderitaan, katamu, adalah peleburan antara keinginanmu dengan kehendak Tuhanmu karena keinginanmu sudah hilang dan yang dapat kamu lakukan hanyalah kepasrahan. Dari penderitaan itu muncul pengakuan dalam dirimu: aku kalah, Gusti; aku pasrah; aku tak punya apa-apa. Penderitaan itu, katamu, sebagaimana pepatah Jawa, urip sakdermo ngelakoni. Hidup itu hanya menjalani titah Tuhan.
Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan kemerdekaan? Kemerdekaan adalah kebebasan pilihan. Jika penderitaan adalah kekangan, kita hanya diberi satu jalan saja. Kita hanya sakdermo ngelakoni, lalu kemerdekaan adalah kebebasan. Kemerdekaan adalah ujian yang sesungguhnya. Kita dilepas pada sekian banyak pilihan dan kita disuruh memilih sendiri di antara banyak pilihan itu yang kualitasnya harus kita sendiri yang menyeleksi—di sana pilihan baik dan buruk terhampar.
Kemerdekaan itu seperti kesehatan, kenyamanan hidup, kelapangan rezeki, keberuntungan yang terus-menerus, dan segala kemudahan hidup yang lain. Jadi saat kita hidup mudah dan enak terus-menerus, justru kita harus waspada. Mengapa Tuhan selalu memberiku kemudahan? Lalu apa yang perlu dilakukan seseorang jika selalu dalam kemerdekaan itu? Karena salah langkah akan membuat diri kita tergelincir.
Mbah Nun pernah dawuh, “Jika kamu mengambil tanggung jawab, maka Allah akan memfasilitasi. Jika kamu mendapatkan fasilitas maka kamu harus cari tanggung jawabnya.” Jika kamu mengambil tanggung jawab, maksudnya kamu melakukan kebaikan-kebaikan seperti menjadi penyantun anak yatim, menyelenggarakan pendidikan gratis seperti menjadi guru mengaji di kampung, menghidupi forum sosial non-profit, dan forum sosial lain maka Allah akan memberimu fasilitas entah dari mana. Mungkin usahamu jadi berkembang, atau yang lain—yang penting kamu tetap berkreativitas. Fokus kita pada yang kedua, yaitu jika kamu diberi fasilitas maka kamu harus cari tanggung jawabnya—yang dimaksud fasilitas adalah “kemerdekaan” itu. Ketika kita diberi kesehatan, uang lebih, kemudahan rezeki, kita harus cari tanggung jawabnya agar imbang, agar fasilitas itu tidak membuat kita tergelincir, agar kita tepat memilih. Tanggung jawab itu seperti fungsi penderitaan sebagai kacamata kuda itu. Karena jika tidak mengambil tanggung jawab maka pikiran kita menjadi aneh-aneh menggunakan fasilitas kemerdekaan dari Tuhan itu, misalnya ke tempat karaoke dan ke tempat maksiat lain.
Kedua, jika kita diberi kemerdekaan, sunatlah kemerdekaanmu untuk memerdekakan orang lain. Kamu bagi sebagian rezekimu untuk yang sedang dirundung kesusahan. Lagi-lagi agar kelebihanmu itu meluber kemanfaatannya bagi sekelilingmu dan agar kelebihanmu tidak membuat dirimu jatuh ke dalam kemaksiatan. Pastikan kebebasan dan kemerdekaan itu mendekatkan kepada Allah dan bukan menjauhkan.
Terakhir, dalam kemerdekaan dan kebebasan Allah mengajarkan tentang menahan, yaitu puasa. Kamu bisa makan karena kamu sehat, kamu punya uang untuk beli beras, tetapi kamu disuruh puasa dan tidak melampiaskan kemerdekaanmu. Di antara kemerdekaan kamu disuruh menderita lapar.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan satu wirid saya yang selalu saya ucapkan setiap kali saya beraktivitas. Wirid ini saya dengarkan dulu ketika saya dalam keadaan puncak penderitaan dan Tuhan hanya menyuruhku sakdermo ngelakoni. Wirid itu adalah, “kamu memilih mengatur, mengekang dirimu sendiri dengan baik, atau Allah memaksamu dengan cara kepedihan.” Ampun Gusti—saestu ampun.
