Penghormatan Untuk Kepergian Pak Kri

Sore hari (09/05), usai salat asar, HP saya berdering. Nomor adik saya, Hanifa, memanggil. Suaranya di seberang sana tidak jelas, terkubur oleh tangis. Saya hanya mendengar suara, “Mas, Mas.” Saat itu saya sudah tahu akan menerima kabar buruk. Saya mencoba menyiapkan hati untuk apa pun berita yang nantinya akan saya terima. Rupanya telepon diambil alih oleh sepupu saya, Mbak Khoir. Suaranya tenang. Ia mengabarkan bahwa Pak Kri, adik dari ibu saya, telah meninggal dunia. Mbak Khoir menyarankan saya segera ke sana, dukuh Cabena Tengah, Desa Sidorejo, Karangawen, Demak, tetapi tetap pelan-pelan dan hati-hati. Saya tidak bertanya penyebab meninggalnya. Saya segera memberi tahu istri saya yang juga menahan napas sejenak mendengar berita duka tersebut.

Saya segera berkemas, termasuk menyiapkan kemungkinan untuk menginap di sana. Kami menjemput Nawa, anak kedua kami yang sedang sekolah TPQ. Sebelum magrib saya sudah sampai di rumah duka. Di depan rumah telah penuh orang. Beliau baru saja selesai dimandikan. Jasadnya disemayamkan di ruang tamu sekaligus ruang kerjanya. Ia punya usaha konveksi. Suara tahlil dikumandangkan secara bergantian. Orang-orang datang tiada hentinya. Tahlil sempat jeda sejenak karena kumandang azan magrib. Usai magrib, tamu datang seperti air mengalir deras. Hujan lebat yang sempat turun pun tidak menghentikan para pelayat yang berdatangan.

Pak Kri, begitu saya menyebutnya. Cucu-cucunya dan keponakannya memanggil beliau Mbah Ki atau Bapak Kiki. Orang yang sedang kami antar kepergiannya ini adalah sosok dengan pergaulan yang sangat luas. Ia punya banyak teman. Kita bisa membayangkan, kami baru saja ditinggalkan oleh orang yang biasa menghibur, orang yang ringan membantu, dan orang yang selalu memberi kasih sayang. Satu pelajaran penting yang dapat saya ambil dari beliau adalah kasih sayangnya kepada kami, para keponakannya, sehingga kasih sayang itu seperti saling dipantulkan satu sama lain.

Saya mendapat cerita dari ibu saya. Zuhur tadi beliau masih mengumandangkan azan di masjid. Memang itu tugas beliau setiap waktu zuhur. Ia tidak menampakkan sakit apa-apa. Pagi hari ia masih memotong kain untuk dijahit. Menjelang asar, ia berjalan-jalan ke sawah di depan rumahnya. Di sana ia terjatuh dan nyawanya tidak tertolong. Ia sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi ketika sampai, beliau sudah tidak ada.

Hujan reda. Pemakaman dilaksanakan malam itu juga. Ratusan orang mengantarkan, ikut salat mayat di masjid, kemudian berjalan bersama menuju pemakaman. Orang-orang membantu dengan senang hati demi kelancaran proses pemakaman sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang yang semasa hidupnya ringan tangan membantu sesama.

Sedih? Tentu sedih, ya Bu De Titik, Mas Puput, Mbak Ida, dan Mbak April. Tidak mungkin kita tidak sedih ditinggal oleh orang yang selama bertahun-tahun memberi kebahagiaan dalam hidup kita. Tetapi beginilah hidup. Hidup dan mati hanya seperti sekeping mata uang dengan batas yang sangat tipis. Kali ini kita mengantar, lain waktu kita diantar.

Betapa indah kepergian Pak Kri. Beliau hidup dalam keadaan baik dan dikenang orang sebagai pribadi yang baik. Kematian bukanlah tragedi. Kematian bisa menjadi indah jika selama hidup seseorang menjalani hidup dengan baik, dan Pak Kri telah melakukan itu.

Swargi langgeng, Pak Kri. Penghormatan terbaik yang dapat kita lakukan adalah meneladani kebaikan beliau dan senantiasa mendoakannya.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 176

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.