Kampus dan Dangdut

Sebut saja namanya Tunu. Tahun 2000-an ia membeli kaset pita  Laksmana Raja di laut yang dilantunkan Iyet Bustami. Ia seperti anak culun di kelas. Ia ditertawakan. Selera musik yang aneh menurut teman-temannya. Teman-temannya mengidolakan Padi dengan lagu hitnya Semua Tak Sama atau Dewa dengan lagu hitnya Arjuna Mencari Cinta. Tapi sekarang, saat ia menjadi dosen, ia mendengar para mahasiswanya akrab dengan lagu berjudul SayangBojoku GalakDitinggal Rabi, Suket Teki yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyayi panggung semacam Via Valen, Nella Kharisma.

Kampus adalah tempat berkumpulnya kawula muda. Mereka punya selera musik, pakian, bahkan logat bicara yang mencerminkan anak muda. Mereka adalah representasi zaman kekinian. Sedangkan dangdut adalah musik rakyat, diundang di acara-acara hajatan perkawinan, dijogetkan dengan saweran di panggung sedekah bumi. Mungkinkah kedua hal yang (seolah) bertolak belakang ini saling menyapa?

Sebagaimana sejarahnya seperti ditulis oleh Sawung Jabo dan Suzen Piper (Prisma, Mei 1987, dangdut adalah musik yang lahir dari masyarakat. Terjadi tarikan-tarikan bentuk musik dangdut, ketika pengaruh musik Arab demikian kuat maka munculah gambus. Ketika pengaruh Melayu menguat dangdut terseret pada musik-musik Orkes Melayu, pada tahun-tahun 1950-an film-film India beredar di bioskup-bioskup Indonesia. Corak India inilah yang kemudian mendominasi lagu-lagu dangdut. Era ini memunculkan penyanyi Elya Khadam dengan lagunya boneka dari India. Kemudian Oma Irama atau Bang Haji Rhoma Irama, ia memasukan unsur rock ke dalam dangdut. Musisi-musisi rock memperoloknya dengan dang dut karena terdapatnya usur gendang.

Tetapi musik ini terus berkembang disukai banyak kalangan. Ada gula ada semut, banyak musisi-musisi pop, rock yang tadinya mencemooh menelan ludahnya sendiri. Mereka ikut mengeluarkan album dangdut. Dangdut menjadi representasi rakyat sehingga ia didekati untuk kepentingan mendekati rakyat. Pejabat yang dekat dengan dangdut ia adalah pejabat yang dekat dengan rakyat.

Tetapi kampus tidak bergeming, ia tidak mau menyapa dangdut. Penyuka dangdut di kampus adalah sebagaimana Tunu, menjadi orang-orang minor. Ditertawakan. Memang ada eranya Jony Iskandar dengan kelompoknya PMR, musiknya jenaka dan bisa diterima kalangan kampus. Selebihnya tidak ada. Pernah Evy Tamala membuat lagu dangdut versi akustik yang terdengar modern, itupun tidak dilirik oleh kampus-kampus di Indonesia. Padahal Ikke Nurjanah, pelantun Disun Sing Sue, dibeberapa kesempatan diundang ke Eropa untuk pentas dan berpidato tentang dangdut. Lalu ada apa dengan kampus-kampus di dalam negeri?

Pernah dangdut marak di TV, kemudian disingkirkan oleh TV kemudian dangdut menggungat melalui youtube. Andrew N. Weintraub mengungkapkan musik dangdut dilecehkan sebagai bentuk rendah budaya populer pada awal 1970-an, dikomersialkan pada  1980-an, dimaknai sebagai ragam musik musik pop nasional dan musik global pada 1990-an, dan terlokalisir pada lingkup komunitas pada tahun 2000-an (2012). Kini sepertinya saatnya dangdut diterima lagi.

Muncul berbagai bentuk dangdut yang bisa diterima oleh kalangan kini. Musiknya tetap dangdut dimasuki musik rap kadang reggae. Tampilan penyanyinya juga tidak lagi kampungan. Ia tampil semacam artis-artis Korea. Lirik yang mereka bawakan menggambarkan generasi hari ini yang menggungat dan tidak mau asal menerima dan mengalah. Jika pacar dijodohkan orang tua di lagu-lagu dulu di terima saja “trima ngalah” tetapi sekarang  mereka mencemooh sebagai perilaku yang norak, “pancene kowe pabu”. Mereka diterima dengan bahasa Jawa yang kadang campur dengan bahasa Indonesia. “Sayang opo kowe ngerti rasane atiku, mengharap engkau kembali.” Begitulah bahasa kita hari ini, bahasa campuran.

Maka tepuk tangan untuk Hima PGSD UPGRIS yang pada penutup gelaran PGSD FAIR UPGRIS menghadirkan artis dangdut Via Valen. Dangdut memang layak disapa oleh kampus. Ia perlu mendapat apresisi. Meskipun beberapa hal perlu diantispasi, penonton dangdut yang brutal jangan sampai hadir di kampus. Jika kampus luar negeri mengapresiasi dangdut dan menempatkannya sebagai bidang kajian ilmu, mangapa kita tidak? (Muhajir Arrosyid).

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 58

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas