Puasa WA

Puasa minggu pertama, terbersit di benak ku, mangkinkah seseorang di zaman ini tidak mengunakan medsos. Jika yang belum pernah menggunakan medsos itu mungkin saja, tetapi bagi yang pernah menggunakan tentu ini sangat berat.
Sementara jawaban ku tidak mungkin. Aku membayangkan menghentikan WA saja akan menjadi masakah besar. Informasi kantor disebar melalui grup-grup WA, mahasiswa menghubungiku melalui WA. Semua relasiku berkomunikasi lewat media sosial yang sedang hit ini. Keputusannya adalah tidak mungkin.
Tapi pada saat bersamaan aku tersentil. Kok WA mengalahkan posisi Allah. Kehadirannya dan ke tidak hadirannya mengalahkan posisi Allah di dalam hidupku. Kemudian aku tertantang untuk berpuasa WA setidaknya selama satu bulan.
Benar-benar bukan masalah mudah, jika tidak percaya coba saja. Pada era sekarang ini puasa WA bisa lebih berat dibanding puasa menahan lapar seharian. Kita punya Hp juga punya paket data tetapi harus menahan diri untuk tidak menggunakannya.
Aku menjalani WA itu selama tiga minggu. Satu minggu sebelum lebaran aku aktif kembali ke WA. Tapi aku mendapat banyak sekali pelajaran dari puasa WA itu. Ternyata tidak menggunakan WA sebenarnya lebih nikmat dan tenang. Sekarang ini informasi membludak hadir di muka kita sedari awal kita bangun tidur. Informasi itu entah benar entah tidak. Kita tidak bisa menentukan informasi yang masuk dalam diri kita.
Analogi air. Air ketika di dalam gelas adalah dzat di luar diri kita, tetapi ketika sudah kita minum maka akan menjadi bagian dari diri kita. Begitu juga dengan yang sifatnya non fisik semacam pengetahuan dan info itu. Mereka masuk dalam diri kita akan menjadi bagian diri kita secara utuh jika alat pencernaan kita tidak bekerja dengan baik. Kita harus selektif dan mengolah sehingga sesuatu yang ke luar dari diri kita menjadi indah dan menarik.
Seleksi dan menahan itulah puasa, dalam dunia kedokteran kita mengenal dosis. Kita boleh mengonsumsi obat berapa dalam rentang waktu berapa.
Itulah mengapa konsep puasa yang menahan dan mengelola itu penting diterapkan kapan saja di luar bulan puasa.
Selain itu, puasa WA mengajarkan-terhadap media sosial kita dalam posisi mengendalikan apa dikendalikan, memanfaatkan apa dimanfaatkan. Memang perlu berpuasa sejenak untuk merenungi itu semua agar kita bisa mengambil jarak. Kita ber-WA bukan berarti kita WA. Kita mengambil jarak dengan keduniaan agar kita tahu, kita bukan dunia. Kita adalah makhluk langit yang sekedar ‘mampir ngombe’.

15Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 44

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.