Idulfitriku ajeg

Jadwal idulfitriku hampir setiap tahun ajeg dan tidak ada perubahan. Mulai dari pasar kembang, sehari sebelum lebaran, hingga hari ke empat lebaran. Jadwalnya ajek tidak ada perubahan setiap tahunnya sejak saya masih digendong oleh Ibu mengelilingi kampung keluar-masuk rumah hingga sekarang aku menggendong Bening.

Jika pun ada perubahan adalah perubahan orang-orang yang mengunjungi dan dikunjungi. Setiap tahun dalam rombongan ‘unjung-unjung’ kadang ada anggota baru-generasi penerus. Lagi, perubahan adalah orang-orang yang dikunjungi. Pakde, Bude, Embah menurun kesehatannya. Ada yang bicaranya tidak lagi jelas, ada yang kehilangan penglihatan, lumpuh. Sebagian sudah pergi menghadap Gusti mendahului kita semua.

Pasar kembang, satu hari menjelang lebaran jadwalnya adalah menata rumah karena besok akan banyak tamu. Ruangan ditata agar tampak luas. Barang-barang yang tidak perlu disingkirkan dulu. Makanan dimasukkan toples ditata di ruang tamu. Menyuguh tamu adalah sunah, tentu saja tidak boleh dipaksakan.

Ini sampai menjelang salat Id adalah waktu untuk zakat fitrah. Aku, istri dan anak bersama-sama datang ke masjid, mengantar zakat ke panitia. Berikutnya adalah ziarah kubur. Biasanya ada tiga hingga empat pemakaman yang aku datangi, tapi pada lebaran kali ini hanya dua pemakaman yang aku kunjungi. Pertama tentu saja makam anakku tercinta, Ken Nuruto Robbi dan Ibu mertua Ibu Sumaryati. Pemakaman ini paling dekat rumah. Pemakaman ke dua cukup jauh, di kampung halamanku, Dukuh Canean, Desa Sidorejo, Karangawen, Demak. Perjalanan sekitar 30 menit.

Di pemakaman Cabean ini aku membaca tahlil di atas pusara Simbahku dan menabur bunga ke makam leluhur. Aku diasuh oleh Mbah Palimah, Ibu dari Bapakku. Beliau meninggal saat aku kelas satu MAN. Sedangkan Simbah Kakung Margono, bapak dari Ibuku adalah bekel, petani, dan peternak ayam. Mbah Maryam, Mbah rayiku adalah pemasak handal. Mbah Rayi meninggal saat aku masih kuliah, sedang Mbah Kakung meninggal saat aku sudah bekerja.

Hari pertama setelah salat Id kami berkumpul. Dulu hanya Bapak-Ibu dan kami empat bersaudara. Mendengarkan wejangan Bapak tentang ibadah dan sekolah. Sekarang ruang di rumah Bapak penuh, Paklik beserta putra-putrinya, anak-anak kami kumpul. Ada empat hal yang disampaikan oleh Bapak pada lebaran kemarin. Pertama, tentang salat, Bapak mengingatkan kepada anak turunnya untuk menjaga salat dan usahakan jamaah. Kedua, tentang bakti kepada orang tua, entah bagaimana pola ekspresinya. Ketiga, adalah tentang zakat, dalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita salurkan. Salurkan kepada yang dekat dulu. Keempat, tentang cinta. Ini tidak tersampaikan oleh Bapak, kata-katanya berhenti berganti haru. “Kamu tidak tahu, seluruh namamu itu setiap hari ku sebut.”

Disebut dalam do’a oleh Bapak, disalawati. Diwadulke ke Gusti. Itu wujud cinta Bapak kepada anak turunnya. Betapa indah menjaga dengan doa. Aku jika ingat Bapak betapa kasihnya maka tidak berani aku hidup secara sembrono.

Sampai di sini dulu, nanti akan dilanjut cerita lagi tentang pengalaman masuk dari rumah ke rumah saat unjung-unjung. Kabar Makde Timah, dan lain-lain.

22Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 50

2 tanggapan pada “Idulfitriku ajeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas