Mengantar Ibu

Sabtu pagi aku mengantar ibu. Tubuhku masih masuk angin. Tadi malam acara Kalijagan berlangsung. Ibu sudah berangkat dulu dengan Budi, adikku ke rumah sakit Sultan Agung Semarang. Aku menemukan ibu duduk di pojok ruang, matanya kosong menerawang entah ke mana. Tidak pernah aku melihat wajah ibu seperti itu. Tidak kuat aku melihatnya, setelah aku cium tangan beliau segera aku peluk dan ku cium pipi dan keningnya. Ibu menenangkanku, tapi aku tidak bisa dibohongi, ada beban yang entah dalam dirinya.
Aku bisa mengendalikan diri, mengajak beliau bercerita, bergurau, sampai akhirnya namanya dipanggil. Aku mengantarnya ke hadapan dokter yang nanti akan membedah tubuhnya. Dokter itu adalah dokter Vito, dokter yang sudah aku kenal karena dulu dokter di klinik tempatku bekerja, Upgris.
Ibu ditanya, apakah sudah siap operasi. Beliau menjawab siap, tapi terdengar terbata dan menangis. Setelah mengurus administrasi sebentar Ibu diantar ke ruang inap. Aku mengabarkan ke rumah jika Ibu operasi nanti malam pukul Sembilan. Ini adalah waktu bercengkrama dengan Ibu hanya berdua, saudara-saudara baru berdatangan menjelang magrib. Bagiku ini adalah peristiwa menakjubkan, menyaksikan Bapak datang, ibu menyambutnya dengan ciuman tangan.
Aku tidak mau menyebut peristiwa ini ujian atau cobaan. Jika aku mungkin masih perlu dicoba dan diuji, tapi ibu? Pada setiap pembesuk ibu mengatakan ini ganjaran dari Gusti Allah. Ganjaran itu semacam hadiah.
Berkelebat-kelebat peristiwaku bersama Ibu. Dulu semasa MTs, satu Mas ku sudah kuliah dan satu Mas ku sudah MAN, adikku masih SD. Gaji Bapak sebagai pegawai negeri harus dibagi untuk menghidupi keluarga. Ibu ikut berjuang, aku saksinya. Aku kerap melihat ibu mengambil brambut di luar pabrik kayu. Limbah ini dulu gratis dan tidak dijual. Brambut atau grajen karena sisa mengergajian ini digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Ibu memasukannya ke dalam sak dan membawanya pulang menggunakan sepeda.
Suatu ketika aku meminta doa, beliau berkata, tidak usah meminta doa. Aku sudah mendoakanmu sepanjang hari. Aku percaya.
Saat anakku sakit, ibu setiap hari datang ke RS menungguninya. Berangkat sebelum subuh dan pulang menjelang magrib. Sampai sekarang ibu menahan diri untuk menikmati dunia, ia mengikhlaskan diri menjadi pendamping Bapak yang mewakafkan waktu dan hartanya untuk masyarakat. Maka sakit itu bukan ujian baginya, karena beliau sudah teruji keikhlasannya. Sakit itu juga bukan cobaan, karena Ibu sudah tidak perlu dicoba lagi. Lekas sembuh Ibu.

116Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas