Percakapan dari balik tirai 2

Musim hujan sudah datang. Percakapan demi percakapan antara Tsani dan Sam masih terus berlanjut. Kadang-kadang sore hari, kadang-kadang pagi hari, menyesuaikan jadwal kuliah mereka. Masih di halaman kos Tsani dan masih dibatasi oleh tirai.

“Tsani, kamu lihat mendung itu?”

“Ya hitam pekat. Membuat wajahmu terlihat gelap.”

“Benar, mendung itu menjadikan gelap. Cahaya matahari terhalangi hingga tidak sampai ke mukaku. Jadi, mega-mega itu adalah pembatas, tabir. Jika sinar matahari adalah kebenaran, maka mega itu adalah penghalang kebenaran itu sampai. Kita yang tidak terkena sinar kebenaran adalah manusia kafir karena tidak terpancar kebenaran. Jika kamu adalah cahaya, maka tirai bambu ini adalah penghalang, ia pembatas cahaya itu tidak terpancar ke aku.”

“Yang terpancar dari tubuh bukan cahaya kebenaran, cahaya kebenaran terpancar dari hati dan tidak terhalang oleh tirai bambu ini.” Kata Tsani.

“Hemm, ngobrol apa kita ini, Tsani?,” Tsani dan Sam memekik tawa bersama. Sam melanjutkan percakapan “Jika matahari diibaratkan sebagai cahaya kebenaran, bagaimana agar kita tidak melulu dan terus-menerus dalam kegelapan?”

“Ada dua cara, kita bergeser dari tempat yang gelap yang tidak terkena cahaya ke tempat yang terang atau sumber cahaya yang bergeser sehingga kita yang tadinya di kegelapan menjadi terkena cahaya.” Jawab Tsani yang sore itu mengenakan gaun biru.

“Ada cara lain, cahaya bisa sampai ke tempat yang gelap dengan adanya cermin. Cermin memantulkan cahaya dari sumber cahaya ke tempat yang gelap dan menjadi terang. Maka jadilah cermin bagi tempat-tempat yang gelap.” Sam menambahi.

“Tsani, kebenaran bisa datang sendiri dan kadang harus dicari terlebih dahulu. Leluhur kita punya metode untuk menemukan kebenaran sebagaimana kita melihat gajah. Tidak elok melihat gajah hanya belalenya, gadingnya, telinganya, atau ekornya saja. Melihat hanya satu sisi hanya membuat simpulan kita tumpul. Aku pernah mendengar dari Sabrang Damar Mowo Panuluh, ia mengibaratkan mencari kebenaran sebagaimana orang banyak memotret seekor kambing. Ada yang memotret dari samping, depan, belakang, atas, bawah. Tidak ada satu pun gambar yang sama. Untuk mendapatkan kebenaran bagaimana seekor kambing, seseorang harus melihat seluruh gambar. Begitulah kebenaran dicapai. Bukan hanya melihat dari satu gambar terus menyimpulkan kebenaran dengan menyalahkan gambar orang lain yang mengambil gambar dari sisi yang lain.  Tsan, kemarin aku sudah diskusi dengan dua temanku tentang Shabaparwa. Aku ingin meminta pendapatmu untuk melengkapi sudut pandang.”

“Shabaparwa cerita wayang yang pernah kamu ceritakan itu?  Tentang Yudistira yang mempertarukan semua harta, kerajaan, bahkan istrinya Drupadi sebagai taruhan? Aku punya pendapat lain Sam. Jika Yusuf temanmu berpendapat bahwa Yudistira adalah orang yang ceroboh dan seorang pemimpin yang tidak punya pertimbangan yang matang. Dan temanmu Septi berpendapat bahwa Shabaparwa adalah pertarungan para elit dan rakyat sebagai taruhan, rakyat tidak menjadi alasan, tidak menjadi pertimbangan atas keputusan kerajaan, aku punya pendapat lain. Menurutku Yudistira melakukan itu karena kayakinannya yang kuat, pengetahuannya yang dalam terhadap keilahian. Ia berani pertaruhkan semuanya karena ia bisa berkomunikasi dengan sang pemelihara jagat.”

“Ada benarnya Tsani. Terhadap satu cerita kita bisa memaknainya lain-lain. Orang memahami cerita juga sesuai kadar pengetahuannya. Orang dianggap baik dan buruk juga sesaui pemahaman dalam sebuah cerita.”

“Ada pertimbangan lain selain kadar pengetahuan si pemakna cerita, juga bagaimana sebuah cerita mau digunakan. Sam, aku punya cerita lain yang bisa juga kita maknai. Tentang Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Ketika Abrahah datang hendak mengahancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya, Abdul Muthalib sebagai pengelola Ka’bah pada waktu itu ditanya oleh Abrahah, apa yang hendak diminta sebelum Ka’bah dihancurkan? Ternyata yang diminta oleh Abdul Muthalib bukan yang terkait dengan Ka’bah, yang diminta olehnya adalah 200 unta miliknya yang sebelumnya telah dirampas oleh Abrahah,” terang Tsani. “dari kisah itu orang bisa mengira bahwa Abdul Muthalib adalah orang yang mementingkan dirinya sendiri, orang yang gila harta. Ia tidak bertahan sekuat tenaga untuk mempertahankan Ka’bah. Abdul Muthalib malah meminta unta-untanya. Kemudian Abdul Muthalib melanjutkan perkataannya kepada Abrahah, unta-unta itu aku pemiliknya, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya. Abdul Muthalib tidak mempertahankan Ka’bah secara fisik dan menyuruh penduduk menyingkir di bukit-bukit bukan karena ingin lari pada tanggungjawab tetapi karena kepasrahannya yang total kepada Allah.”

“Iya Tsani, terhadap kebenaran hendaknya kita berendah hati. Bolehlah kita menyakini kebenaran itu, tetapi jangan kebenaran itu untuk memukul orang lain karena bisa saja ada celah kebenaran yang belum kita lihat.”  (Muhajir Arrosyid).

11Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 119

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.