Surat dan catatan harian

Bagaimanalah agar menulis lancar? Begitu tanya seorang teman. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasi masalahnya dalam menulis, namun cara ini (gaya surat dan buku harian) bisa dicoba. Mungkin saja buku harian atau surat akan membuatmu lebih nyaman menulis.

Jangan remehkan buku harian, banyak orang mengabadi pemikirannya karena menulis buku harian kemudian dibukukan. Sebut saja Soe Hok Gie, bukunya berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran. Satu tokoh lagi, Ahmad Wahib, buku hariannya dibukukan dengan judul “Pergolakan pemikiran Islam”.

Seseorang yang menulis bergaya surat yang kemudian mengabadi, kita bisa menyebut Kartini, surat-suratnya dibukukan dengan judul, “Habis gelap terbitlah terang.” Emha Ainun Nadjib menulis esai yang kemudian dibukukan berjudul “Surat untuk Kanjeng Nabi”.

Tentu saja orang yang kita surati itu tidak harus ada, ia boleh fiktif, boleh kita ciptakan, boleh mantan asal tidak benar-benar dikirimkan. Surat itu hanya untuk menciptakan suasana berkomunikasi kepada siapa kita tujukan. Dengan surat kita serasa berkomunikasi dekat dan personal, coba saja kalau tidak percaya.

“…..mantan terindahku, apa kabar? Kamu gak kepikiran untuk putus dengan pacarmu dan kembali lagi padaku?…..”

16Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 67

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.