KELINGKING UNGU ASTUTI

Suryat melolos satu lembar merah dan dia serahkan kepadaku. Hal itu dia lakukan setelah aku memujinya sambil memplintir kumisnya. “Ih Mas Suryat gemesin deh”.

Suryat adalah satu dari sekian pelangganku. Dua minggu ini dia rutin mampir di runganku. Setiap hari ia menghabiskan waktu dua sampai tiga jam bersamaku. Pemandu lagu beruntung jika berkesempatan menemaninya. Ia gampang memberi uang.

“Ti Astuti ajari aku nyanyi ya?”

“Lho belajar nyanyi kok disini toh Mas-mas. Belajar ya di tempat kursus nyanyi.”

“Di sini saja enak Ti.”

Suryat minta diajari nyanyi. Dia menghafalkan satu lagu. Besok kalau ada acara syukuran kemenangan caleg yang dia dukung Suryat mau menyanyi satu lagu. Suryat ingin orang-orang terkaget mendengar kemampuannya menyanyi. Sambil latihan nyanyi ia bicara tentang pekerjaannya. Suka tidak suka, paham tidak paham aku mendengarkannya.

“Pemilu memasuki masa tenang. Ini saat paling menentukan.”

“Saat paling menentukan kok malah ditinggal di sini Mas?”

“Habis kamu nggemesin sih.”

Suryat menyambung pembicaraan. “Pasang gambar, doa bersama, mengunjungi rumah-rumah sudah dilakukan, tetapi jika tidak disempurnakan dengan amplop, hasil suara tidak maksimal. Atas keyakinan seperti itu aku mendapatkan pekerjaan menjadi tim sebar, sebar uang.”

“Wah asyik toh Mas. Kerja kok enak ya sebar-sebar uang. Pahalanya banyak tuh buat seneng orang lain.” Aku menimpali.

“Jika tidak ada tim sebar pesaing maka aku akan lebih leluasa. Aku cukup memberi sepuluh-dua puluh ribu, suara akan terbeli. Sialnya kalau ada tim lain yang diam-diam masuk dan memberi uang lebih banyak, uang yang tadinya sudah disebar jadi sia-sia. Maka dalam kerja seperti ini penting untuk menanam mata-mata agar kerja menjadi efektif, efisien, dan tepat sasaran. Jika hasil bagus maka klien puas dan dapat bonus.”

“Ngomong-ngomong bonusnya apa Mas?”

“Bonus dalam kerja-kerja begini tidak baen-baen. Aku pernah dapat mobil, aku juga pernah mendapat hadiah umroh.”

Kata Suryat kerja penat butuh hiburan. Room karaoke bisa meringankan tekanan pekerjaan. Sambil santai Suryat bisa mengkoordinasi anak buahnya. Di tempat itu pula ia bisa memberi laporan kepada pemberi order.

Aku Astuti, pemandu lagu. Suryat memilihku karena selain cantik dan seksi, aku bisa memijit, aku tahu cara mengendurkan otot dan otak. Itu menurut Suryat.

Suryat menyentuh tanganku sambil menelpon anak buahnya. “Mulai sore nanti tahap pertama mulai diturunkan ya? Paket tigapuluh ribu. Jangan dikurangi. Nanti ada bonus khusus. Paket dua disiapkan sambil lihat-lihat keadaan. Jika ada apa-apa segera laporkan.” Suryat mematikan Hp, meneguk minuman dan mengajakku berdiri. TV dinyalakan.

“Ayo mok-semok latihan nyanyi lagi.” kami menyanyikan sebuah lagu, “Bisane mung nyawang, gak isa duweni…..” Kami berjoget di ruang gelap.

Suryat menyuruhku mengurangi suara tv. Ia menjawab telepon dari seseorang.  “Iya masih kerja ini. Nanti kalau sudah selesai urusan pasti aku pulang. Kan menjelang pemilihan, harus kerja keras ini. Demi kamu dan anak-anak. Anak-anak sudah mandi? Nanti kalau di rumah aku ceritakan semuanya. Begitu dulu ya?” Telpon ditutup.

***

Bermacam alasan orang datang ke pangkuanku. Orang menang datang padaku untuk berpesta merayakan kemenangan. Alasan orang kalah datang padaku untuk dielus didekap dan ditenangkan. Remaja datang padaku agar lekas besar, sebaliknya orang tua datang padaku agar merasa tetap muda. Orang kaya datang padaku sebagai cara menghabiskan uang.

Profesi yang aku jalani saat ini termasuk profesi paling penting di dunia ini. Profesi pemandu karaoke ini sejajar dengan psikolog, terapis, dan penyanyi. Tugasku memulihkan jiwa-jiwa yang kalah dan lelah menghadapi hidup. Aku menggunakan berbagai metode untuk menggairahkan otot dan otak. Setelah bertemu denganku orang-orang kembali segar dan siap menghadapi hidup kembali. Terkadang hanya telingaku yang lebih banyak bekerja. Aku mendengarkan apa saja yang dibicarakan pelangganku. Seringkali aku tidak paham yang ia bicarakan bahkan aku tidak peduli dengan yang ia utarakan. Selain menyediakan telinga, aku melihat terus matanya, perubahan air mukanya. Jika ia terlihat senang aku ikut tersenyum, jika ceritanya sedih aku juga mengimbanginya, tetap tersenyum tetapi senyum simpati.

Namun sebagaimana dokter aku tidak lepas dari penyakit, sebagaimana psikiater aku bukan bebas dari masalah. Aku juga punya masalah yang harus segera aku selesaikan. Namun pada para pelanggan aku adalah penyelesai masalah.

Dari pekerjaanku yang baru aku jalani kurang dari tiga tahun aku sudah bisa beli tanah. Aku juga sudah mampu membeli mobil baru, gress. Sebuah prestasi untuk perempuan lulusan SMP.

Panggil saja aku Astuti. Sedari aku kecil Bapakku selalu memutar lagu-lagu dangdut. Aku menghafal lagu-lagu itu dengan sendirinya. Bapakku buruh bangunan, sedangkan ibuku berjualan di pasar. Setelah lulus SMP aku sempat sekolah SMA sebentar. Aku keluar, otakku tidak kuat. Aku dapat tawaran kerja, pindah-pindah dengan gaji murah. Tahulah gaji perempuan lulusan SMP. Aku pernah kerja di pabrik plastik, pernah jadi penjaga toko, dan akhirnya ada yang mengajakku kerja menjadi pemandu lagu. Aku cocok kerja di sini. Tidak butuh ijazah tinggi, kerjanya gampang, hanya menemani menyanyi dan berjoget, dan bayarannya gede. Aku juga sering dapat tip. Kemampuanku menyanyi dan menghafal banyak lagu menjadi modal tersendiri.

Bekerja sebagai pemandu lagu aku mendapat banyak teman. Pergaulanku luas. Aku kenal polisi, kenal dosen, kenal guru, mahasiswa, sopir. Pertemananku lintas profesi. Suryat mulai berulah. Ia merayuku mengajakku menikah. Suryat menjanjikanku rumah asal mau dinikah siri. Ada pelanggan lain yang mau menikahiku padahal sudah punya istri, Dia mau menceraikan istrinya demi aku. Pelanggan-pelangganku yang baper begini lah yang menjadi masalahku. Sebenarnya aku ingin professional saja. Mereka butuh hiburan, aku temani menyanyi, selesai mereka kembali ke rumah masing-masing, ke istri masing-masing.

Satu lagi masalah yang harus segera aku putuskan. Pacarku mengajak kawin sedangkan aku masih ragu. Aku takut pasaranku turun setelah kawin. Pengalaman dari teman-temanku begitu. Masih banyak waktu bagiku untuk mengumpulkan modal di dunia seperti ini. Ah sudahlah.

Sehari aku biasa menemani lima sampai delapan orang dengan karakter yang berbeda-beda. Sering datang orang menang dan tidak jarang orang kalah. Orang yang sedang kalah contohnya orang yang baru saja bercerai, tidak lolos ujian, dimarahi istri. Sedangkan orang menang contohnya adalah orang baru lulus kuliah, menang lelang, proyek rampung, dan lain sebagainya.

Pemungutan suara baru selesai. Tinta ungu masih menempel di kelingkingku. Orang-orang sibuk menghitung suara. Sebentar lagi orang menang dan orang kalah bergiliran ke ruangan yang aku tunggu ini.

 

***

Aku tinggalkan pacarku yang uring-uringan. Aku hindari pula Suryat yang membujuk meminta bertemu. Aku menjalani proyek yang lebih besar. Dua Minggu setelah pemungutan suara, aku mendapat order penyembuhan. Jika biasanya orang datang di ruanganku yang gelap, kali ini aku didatangkan di sebuah kamar hotel. Tugasku masih sama, menemani menyanyi. Ia seorang lelaki mapan. Kemarin dia ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tingkat provinsi. Uang sudah ia keluarkan banyak, tetapi dia tidak mendapat suara cukup. Ia mendapat laporan, uang tidak sampai ke pemilih. Uang berhenti pada tim sukses, digunakan membeli tanah dan mobil. Bukan masalah uangnya yang membuatnya stress, tapi kehormatan dan gengsi.

“Tolong temani dia, hibur dan ajak senang-senang. Jika bisa membuatnya riang seperti semula, maka kamu akan mendapat bonus besar. Sudah sejak tiga hari dia tidak mau ngomong, makannya sedikit, bisnisnya tidak diurus, orangtuanya sedih,” Begitu pesan temannya saat menghubungi ku.

Aku masuk ke sebuah kamar. Aku meletakkan tas di meja. Aku melihat sesosok lelaki dengan tubuh besar, berkulit putih, berambut pelontos tidur tengkurap. Ia hanya mengenakan celana dalam. Aku pastikan pintu tertutup dengan benar. Ini proyek besar. Karena sesuai kontrak, aku harus menemaninya selama satu minggu dan bisa ditambah sesuai kebutuhan. Aku saksikan sebuah kamar yang besar dan bersih. Membuka pintu langsung tembus kolam renang.

Mula-mula aku sentuh kakinya. Aku membisik di telinganya dan menyebutkan nama. Dia mengangguk. Sebuah tato bergambar singa tampak murung terlukis di dadanya. Aku lihat tubuh ini seperti tumbuhan. Bulu-bulu di kaki, dada, perut seperti akar. Aku elus bulu-bulu itu. Bulu-bulu mulai berdiri. Mukanya yang putih berubah merah. Benih yang di dalam celana itu aku saksikan mulai merekah dan tumbuh menggeliat. Aku pernah membaca sebuah artikel, lelaki sesetres apapun, jika bagian benihnya masih berekasi ketika akar-akarnya disentuh maka ia masih bisa disembuhkan. Bonus terbayang di depan mata.

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 67

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.