Cerpen merekam konflik keluarga

Apakah konflik itu? Konflik adalah dunia terjadi tidak sebagaimana biasanya. Dunia terjadi tidak sebagaimana yang diharapkan oleh tokoh. Konflik terjadi juga karena tokoh-tokoh dalam cerita berbeda pandangan hidup dan itu bisa terjadi karena tradisi yang berbeda, usia yang berbeda, relasi yang berbeda, kesalahpahaman,dan berbagai sebab-sebab lain. Di dalam cerita, konflik menjadi hal yang sangat penting. Sekecil dan setipis apapun konflik tersebut ia harus ada di dalam cerita. Konflik itu bisa antara perempuan dan kekasihnya, manusia dan alamnya, atau anak dan orangtuanya. Pada bahasan kali ini saya akan membahas yang terakhir: konfilk keluarga.

Konflik keluarga tampak dalam cerpen berjudul “Kamar Sewa” karya Muhammad Khambali (Koran Tempo 18/07/2020). Cerpen ini langsung dibuka dengan sebuah konflik, seorang anak yang menolak ketika disuruh pulang oleh bapaknya. Cerpen ini tidak segera menjawab mengapa ia menolak pulang padahal bapaknya sudah meminta beberapa kali dan dalam keadaan sakit. Cerpen ini mengajak kita jalan-jalan terlebih dahulu, jalan-jalan ke peristiwa yang lain dan konflik lain. Konflik itu adalah matinya seorang penghuni kamar sewa sebelah. Di sini Susana Covid dimunculkan sedikit. Seorang mati pada masa sekarang ini tidak bisa langsung diangkat tetapi harus menggunakan tata cara Covid. Hingga si aku ditemui dalam mimpi oleh si mati beberapa kali. Dalam mimpi perempuan yang mati itu memberi tahu bahwa ia pergi dari rumah karena pasangannya tidak disetujui oleh orangtuanya. Pasangan yang kemudian menelantarkannya. Si mati minta diantar karena takut mayatnya   orangtuanya tidak menerima jasadnya. Di sini muncul konflik keluarga lagi, konflik tentang perjodohan.

Kenapa si aku menolak untuk pulang meski sudah diminta Bapaknya berulangkali baru dijelaskan di menjelang akhir cerita. Si aku bertengkar kemudian pergi dari rumah karena ia memilih jurusan Sastra Jepang sedangkan Bapaknya ingin ia menjadi atlit taekwondo. Akhirnya Bapaknya menyuruhnya pulang dan dia selalu menolak dengan alasan kerja.

Ada semacam pola, konflik antara anak dan orangtua selalu orangtua menjadi pihak yang kalah. Mungkin sudah kodrat alam, ketika anak masih kecil anak menjadi penurut karena secara fisik dia kalah, tetapi ketika anak sudah dewasa dan gentian orangtua yang ringkih fisiknya maka ia yang ganti kalah sama anaknya.

Konflik demikian juga terlihat dalam cerpen berjudul “Nenek Tak Ingin Pulang” karya Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 16/08/2020). Pada cerpen ini memunculkan konflik keluarga yang bersumbu pada perbedaan pemahaman agama antara anak (Ucup) dengan orangtuanya. Menurut pemahaman orangtunya, orang mati itu harus dingajiin, maksudnya dibacakan ayat suci Alquran, sedangkan menurut Ucup, “Bebeh itu ngomong apa sih, tidak ada orang meninggal datengin orang masih hidup. Semua amalnya udeh kelar. Kagak ada kirim-kirim doa lagi.”

Hal inilah yang membuat sang Nenek sedih, ia kecewa, ia sakit hati karena sewaktu sang Kakek, atau suaminya meninggal tidak ada yang ngajiin. Padahal sang kakek sudah wanti-wanti untuk dingajiin. Sang kakek benar-benar datang ke mimpi nenek menanyakan kenapa tidak dingajikan. Padahal harapan orangtua mengirim anaknya ke ustadz adalah biar bisa mengaji dan bisa mengajikan saat mereka meninggal. Akibatnya Sang Nenek tidak mau tinggal di Jakarta, ia tidak ingin mati di Jakarta dan dimakamkan di Jakarta. Ia rela tinggal di Sukabumi di rumah anaknya yang nakal dan sering mengungkit masalah warisan. Ia rela tidak dikuburkan di samping kakek karena takut tidak dingajikan saat meninggal. “Kasihan kakek lu kagak ada yang ngajiin. Gue heran deh, dulu banyak orang yang ngajiin. Sekarang banyak orang kagak mau ngajiin kalau ada orang yang meninggal. Katenye tidak boleh sama agama. Masak ngaji kagak boleh. Gue kagak ngerti, deh. Bener-bener kagak ngerti ame agama sekarang. Tuh, si Ucup malah ikut-ikutan. Ngelarang gue ngaji waktu kakeklu meninggal….”

Begitulah cerpen yang merekam konflik yang muncul di masyarakat, keuntungan menghadirkan konflik begini ke dalam cerpen dibanding di dalam perdebatan yang lain adalah munculnya sisi emosionalnya.

 

 

 

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 87

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.