SINGKONG DAN KEJU SUDAH BERJODOH

Rentang antar singkong dan keju sekarang sudah tidak selebar dulu. Bahkan sekarang ada makanan yang disebut singkong keju, singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya empuk dan lembut sebagaimana keju tetapi gurih singkong tetap melekat.

Di sebuah acara seseorang nyeletuk, “Wah ini sih makananku sehari-hari.” Ia heran di kotak snack berisi singkong. Padahal ia sudah trama dengan singkong yang ia konsumsi sejak kecil. Mengikuti acara di gudung, ia berharap mendapatkan menu yang beda, yang berkelas semacam kue. Tetapi berbeda dengan menyelenggara acara, ia sudah bosan dengan roti yang ia konsumsi setiap hari, maka ia hadirkan singkong sebagai klangenan.

Singkong pada masa kecil saya memang sebagai simbul kemelaratan, kedesaan. Mendengar kata singkong maka ingatan kita akan menuju kebun, sawah, dan lumpur. Tahun 90-an, pada masa kecil saya, singkong adalah makanan pendamping nasi. Jika nasi tidak ada kami makan singkong. Di meja makan sering tersedia singkong rebus, kadang juga ganyong, terkadang wirut.

Ari Wibowo membawakan lagu berjudul ‘Anak Singkong’. Lagu itu bercerita tentang seorang laki-laki yang berhubungan dengan perempuan. Kedua orang ini dipisahkan dengan status sosial yang berbeda, gaya hidup yang berbeda. Sang laki-laki mengaku sebagai anak singkong dan sang perempuan adalah anak keju.

“Aku suka singkong-kau suka keju. Aku suka jaipong, kau suka disko. Aku dambakan seorang gadis yang sederhana. Aku hanyalah anak singkong” Begitulah penggalan lagu tersebut. Gadis yang sederhana adalah yang suka makanan lokal seperti singkong dan berselera musik atau tari lokal sebagaimana jaipong dan bukan disko.

Seperti yang saya utaran di depan bahwa jarak antara singkong dan keju sekarang ini sangat dekat bahkan bersisihan. Toko-toko dan minimarket sekarang ini sudah berjamur hingga di kampung-kampung dan menyajikan keju-anak-anak kampung bisa mengonsumsinya. Apakah ini pertanda bahwa sudah tidak ada lagi batas desa dan kota?  Di dapur, keju diletakkan bersisihan dengan singkong. Saya sampai hari ini tidak doyan keju, tapi anak saya, Bening bisa makan hanya bermenu nasi hangat dengan diparuti keju.

42Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 87

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.