Bisane mung nyawang

Hati-hati, jangan-jangan kamu sebagai laki-laki yang dimanfaatkan saja. Pagi-sore antar jemput dari kos ke kampus, eh tidak jadi pacar juga. Jadiannya sama laki-laki lain. Mending tukang ojek dapet bayaran, lha kamu?

Itulah dinamika berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Banyak sekali istilah yang kemudian menjadi judul lagu, film, sinetron, dan novel. Ada istilah sebatas teman, teman tapi mesra, cinta tidak harus memiliki, sampai yang paling norak seperti ditikung teman. Ada juga ala Bang Oma yaitu cinta segitiga.

“Tidak, kami cuma sebatas teman kok.” Itu biasanya jawaban bagi pasangan yang runtang-runtung tetapi statusnya tidak jelas. Dan tidak ada niatan untuk memperjelas. Mungkin saja salah satunya ingin jadian, tapi yang satunya masih punya harapan dengan yang lain. Maksudnya? Bisa saja dia masih punya hubungan dengan sosok yang lain tetapi belum jelas juga.

Tidak apa-apa itu semua yang terpenting tidak jambu alas. Inget lagu Dedi Kempot? “Jambu alas kulite ijo sing digagas wis due bojo. Ada gula ada semut durung randa aja direbut”.

Ada juga istilah teman tapi mesra, aku tidak tahu mengapa bisa begini. Bisa jadi ini sebuah permulaan, penjajakan peningkatan status yang tadinya sekedar teman beralih kekasih, setelah itu menikah. Bahaya jika teman tapi mesra itu dilakukan oleh orang yang sudah punya pasangan. Itu namanya main api, yang pada akhirnya akan membakar. Mau kau terbakar? Contoh kasus adalah Pak Dendy yang mesra dangan temannya yang mengakibatkan Bu Dendy marah.

Ada istilah cinta tak harus memiliki. Kamu pasti tahu diucapkan oleh manusia sejenis apa istilah itu. Cinta tak harus memiliki biasanya menjadi lagu wajib orang yang kalah dalam pertarungan asmara. Seorang pemenang tidak mungkin mendendangkan itu.

Kalau ditikung teman, ya seperti di atas tadi, rajin antar ke sana sini, eh jadiannya malah sama teman. Di antara kamu ada yang begini? Sakitnya tuh di sini.

Kamu pasti bertanya-tanya, kok tiba-tiba aku bahas beginian. Apa kurang kerjaan. Begini, ini akibat piknik, duduk di kursi depan sendiri dan sepanjang perjalanan disuguhi lagu-lagu dangdut. Selain melihat jogetan dan paras cantik penyanyinya aku pikirkan lirik lagunya. Saat aku mendengarkan lagu “Bisane mung nyawang” aku jadi memikirkan kamu yang setiap saat setia mengantar dan menjemput, eh akhirnya hanya bisa melihat tetapi tidak mampu memiliki seperti isi lagu itu. Hem. Yuh joget merayakan kesedihanmu.

87Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 67

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.