TIDAK ADA DANAU DI SAMPING RUMAHKU

Senin pagi ini (24/02) hujan turun. Dari jalan raya terdengar kendaraan melaju kencang. Ini masih cukup pagi, jalan masih cukup sepi. Orang-orang bisa melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Demikian juga dengan ku, satu jam yang akan datang juga harus berkemas berangkat ke kantor melakukan aktifitas harian. Masa bersantai dengan keluarga selama akhir pekan harus dicukupkan.

Di luar pekerjaan kantor yaitu mengajar, membuat laporan-laporan, menulis jurnal, pekerjaan yang aku pilih sendiri adalah bercerita baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Maka rumah yang aku tempati sekarang ini aku desain semampu ku untuk mendukung prosesku bercerita. Aku punya teras kecil yang asyik aku gunakan untuk bersantai, jika hujan turun maka aku akan pindah ke ruang tamu. Dapur juga siap digunakan untuk menulis. Apakah tempat begitu penting bagi si pencerita? Aku tidak paham itu. Aku baru saja membaca sebuah laporan perjalanan yang ditulis oleh A.S. Laksana di Finlandia. Waktu itu ia sedang mengikuti residensi penulisan. Ia menggambarkan sebuah kastil di tepi danau yang menjadi studio bagi para seniman untuk berkarya. Di situlah pula A.S. Laksana tinggal selama residensi.

Adakah hubungan antara temat atau ruang dengan sebuah karya. Aku tidak bisa menjawab dengan tepat hal itu. Aku belum pernah mendapat kesempatan sebagaimana A,S. Laksana dan teman-teman yang pernah residensi. Maka rumahku ini yang aku tinggali bersama istri dan dua anakku ini lah temat ku berproses itu. Ia sekaligus sebagai studioku.

Hari sudah pagi, ini saatnya anak-anak mandi untuk persiapan sekolah tapi aku belum membangunkannya. Mengapa begitu? Karena pada saat mereka terlelap itu lah saat yang paling nyaman bagiku untuk bekerja menulis atau membaca. Jika mereka terbangun, maka pekerjaan menulis dan membaca praktis berhenti. Mereka biasanya membutuhkan perhatian lebih. Nawa belum dua tahun, ia masih belum tegak benar dalam berjalan. Ia masih sering terjatuh. Jika tidak diawasi maka dia bisa celaka. Bening punya tantangan yang lain, anak ini sedang belajar bercerita, ia sealu mengajak bercerita, marah jika ceritanya tidak didengarkan.

Satu tantangan lagi, rumahku tempatku berkarya itu bersebelahan dengan Masjid yang di menaranya terpasang empat corong yang setiap saat menggemborkan kalimat-kalimat suci. Aku ingin seperti Rosulullah yang rumahnya menenmpel di masjid. Namun, jika suara di Masjid sudah mulai terdengar baik itu pengajian yang dilakukan setelah subuh atau berjanjen yang dilakukan setiap Kamis malam, atau anak-anak madrasah yang gaduh, aku kehilangan konsentrasi untuk menulis.

Hal-hal yang aku sebutkan di atas adalah alasan-alasan bagiku untuk berhenti menulis. Namun aku harus menyisati itu semua. Aku tidak bisa menunggu memiliki rumah di tepi danau yang tenang, rebahan sepanjang hari sambil menunggu ide-ide datang untuk dituliskan. Aku harus menerima keadaan ini sambil memelihara bara untuk tetap menulis dan bercerita.

Hari-hari ini aku mempersiapkan pentas dongeng yang akan aku lakukan pada bulan Maret. Aku masih memikirkan apakah menggunakan dongeng yang pernah aku pentaskan pada waktu yang lalu atau membuat dongeng baru. Aku sedang menunggu tiga buku fabel dari penerbit Kakatua. Dari sana aku berharap akan muncul banyak ide. Di rumahku tidak ada danau, hanya ada taman kecil di teras, dan itu membuat hatiku senang ketika melihat.

0Shares
Muhajir Arrosyid
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Posts created 73

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.