Malam di Kadilangu

Memasuki halaman Masjid Kadilangu Demak, aroma siomay tercium. Tampak di sekeliling Masjid ada beberapa penjual makanan dari Cina ini. Asap membumbung ke langit dari kompor yang menyatu dengan kendaraan bermotor. Aku pesan satu porsi dan duduk di tangga depan masjid. Aku menunggu teman-teman Kalijagan. Mereka sudah ke sini, tapi entah di mana posisinya. Baru kemudian datang Yusuf dan Najib, Kang Akhyar, Arafat, Kang Yuli, dan satu lagi aku belum kenal. Siomay itu terhidang. Ada telur, kol, dan saos kacang. Satu porsi itu seharga delapan ribu.

Malam itu (23/04) sudah pukul 23.00. WIB. Kami biasa kumpul malam hari, saat anak-istri sudah pada tidur baru kami keluar rumah. Kadilangu pada waktu itu tidak seramai hari-hari biasanya. Masih ada pengunjung tetapi tidak banyak. Ada yang tidur di serambi masjid, ada pula yang berdiskusi berkelompok di sekitar masjid. Angin laut menyapa tengkuk kami. Sudah malam, sudah sepi, tidak terdengar apa-apa. Hanya terdengar percakapan-percakapan kecil dari orang-orang warung. Beberapa anak bermain sepeda di halaman depan masjid.

Setelah kami pastikan semuanya kumpul kami bergerak menuju makam Sunan Kalijaga. Masih ada yang jaga sandal. Yusuf melapur ke penjaga piket untuk melaporkan kami dari mana, berjumlah berapa dan mencatat itu di buku tamu yang disediakan. Kami melewati makam-makam. Ada yang tahu itu makam siapa, banyak yang tidak tahu juga.

Memang hanya beberapa orang di area makam. Aroma kemenyan tercium di segala sisi makam. Ada peziarah di bagian barat makam yang menyalakan dupa. Aromanya wangi sekali. Sebagaimana tujuan kami, maka kami melaksanakan tahlil. Usai tahlil kami laksanakan, kami segera keluar makam. Aku melihat di ruang istirahat ada beberapa peziarah tertidur.

Mampirlah kami di warung belakang Masjid. Kami memesan kopi dan ngobrol. Salah satu yang diobrolkan adalah setelah lebaran nanti, Kalijagan mau diselenggarakan seperti apa? Jika pandemi dianggap selesai, kita akan mudah menyelenggarakannya di tempat terbuka. Tetapi jika pandemi masih berlangsung dan kegiatan sosial masih dibatasi, maka harus dicari bentuk yang lain. Setahun lalu, kalijagan diselenggarakan dengan cara anjangsana. Bergantian di rumah penggiat. Apakah tahun ini akan demikian lagi? Ada yang usul, bagaimana jika keliling di tempat-tempat makam keramat yang ada di Demak? Menarik juga usul itu, tetapi tempatnya lumanyan berjauhan.

Tidak terasa obrolan itu sampai pukul 02.30. WIB. Waktunya pulang, pasti istri sudah menunggu sahur di rumah. Aku mampir di terminal untuk memebeli sate. Warung-warung masih buka pada jam itu. Banyak juga pembeli bersaur di situ. Ada sekelompok anak menyorong grobak dan membuat bebunyian untuk membangunkan saur. Ada juga sekelompok pemuda di atas mobil bak terbuka juga menyeru saur. Aku juga melihat, di depan pom bensin sekelompok pemuda berjoget, ia memanggul speaker aktif dan menyeru saur. Jumat depan kita kumpul lagi di Kadilangu.

0Shares
Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang dan Maiyah Kalijagan Demak.
Pos dibuat 119

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.